Jumat, 01 Juni 2012

SEBUAH LAGU UNTUK CICAK DI BALIK PANCI HITAM

 
Aku melihat ekormu di balik panci hitam yang di gantung dekat pintu toilet.
Ujung ekormu melenting kesana kemari.
Bergemerincing meneror retina mataku.
Geal geol kayak bokongnya biduan koplo.
Apakah kau sedang dangdutan dengan teman imajinermu?
Ah, ternyata tak hanya Syahrini…

Hei mahkluk coklat bertekstur kenyal.
Kenapa kepalamu tak kunjung nongol juga.
Apakah yang kau sembunyikan di sana?
Sisa permen atau remah roti?
Kau sembunyikan dari siapa?
Semut berlarik panjang atau alien berwajah capung?

Dang ding dong…
Dong ding dang…
Apakah kamu hobi makan pisang?
Dan sukakah kamu berdendang?

Hai hai cicak di balik pantat panci.
Ayolah kita bermain hujan di teras rumah.
Siapa tahu ada kodok jatuh dari langit.
Bisa buat barbekyu di dalam kamar.
Ku ajak temanku.
Kau ajak temanmu.
Kita hore-hore bersama.
Bersuka-suka beria-ria.
Jangan lupa pakai kostum kupu-kupu berbelalai gajah.

Dang ding dong…
Dong ding dang…
Apakah kamu hobi makan pisang?
Dan sukakah kamu berdendang?
 

MAHKLUK BERJUBAH HITAM DENGAN PISAU DI TANGAN KIRI

 

Tengkorak belakangku berdenyut dan berdentam tanpa jeda.
Kepalaku seperti akan meledak.
Denyarnya menjalar hingga ke ujung mata.
Turun hingga ke punggung.
Rasanya ada yang salah dengan tulang belakangku.
Ada sayatan panjang dari tengkuk sampai ujung tulang ekor.
Aku masih merasakan dinginnya jejak mata pisau di sana.
Ngilu tak tertahankan.
Meremukkan seluruh sendi.


Siapa berani melukaiku?
Tak ada untungnya.
Hanya buang waktu saja.
Seperti berita kecelakaan pesawat Rusia dan Lady Gaga di televisi akhir-akhir ini.
Awalnya semua tampak biasa dan antusias.
Tapi lama-lama semakin berlebihan dan memuakkan
“Hei, apa kabar anak-anak korban trafficking?”
Ya, mereka memang tak sesuperior orang-orang berkulit pucat itu.
Ah, semakin ngelantur….

Hm, mataku menangkap sosok itu.
Di cermin seberang ruang sana ada bayang berjubah hitam dengan pisau berlumuran darah di tangan kirinya.
Huh! Sungguh penampilan yang membosankan.
Membuat ngantuk.
Overrated kalau meminjam istilah kaum hipster.
Sepertinya mereka harus sering-sering nonton drama Korea.
Biar tampilan ghotic mereka lebih berwarna layaknya permen.
Hahaha…

Kekonyolan barusan seperti anestesi.
Mengalihkan sementara rasa sakit.

Aduh apa ini…
Ada rasa amis dan asin di kerongkonganku.
Menjalar mencari jalan keluar.
Mendesak-desak layaknya air di pintu waduk.
Bum! Akhirnya jebol juga.
Telinga, hidung dan mulutku penuh darah.
Anyir…

Bumi tempatku berpijak mengalirkan listrik dengan daya volt tinggi ke ubun-ubun.
Semua berputar dan bergetar.
Menampilkan potongan-potongan gambar dari masa lalu yang tumpang tindih.
Tak sempat memperdulikan rasa sakit.
Hanya kebingungan yang mengambang.
Kau tahu, aku hampir mancapai klimaks.
Terengah-engah.
Nyaris sampai.
Dan tiba-tiba ada yang iseng mencabut kesenangan ini.
Sial! Pasti ulah mahkluk berjubah hitam jelek itu.

Semuanya tampak begitu gelap…
Dingin…
Senyap…
Dan
Sepi…


Kamis, 31 Mei 2012

NASIONALISME DI KOTAK AJAIB


Hai isi perut yang sedang bergejolak, tahukah kamu? Sekarang ini tampilan nasionalisme di televisi semakin lebay saja. Melebihi lollipop, terlalu berwarna dan terlalu manis – heran, berapa banyak batang gula dan pensil warna yang disia-siakan demi menarik mata dan merangsang lidah…
Nasionalisme adalah profit. Rasa bangga dan cinta terhadap bangsa sudah menjadi komoditas. Dijual serupa kacang rebus dengan bungkus kertas bekas yang sedikit berminyak; “ini sangat murah, maka belilah. Ayo nikmati selagi hangat…” Seperti wanita berlipstik tebal dengan rok di atas lutut memamerkan paha mulus yang bisa kau temui di pinggir jalan tengah malam; “kau berani bayar berapa? Maka pelayananku akan setimpal. Kecewa dan sesal bukan untuk malam ini sayang…”
Televisi adalah penampil sejati. Ia tahu dengan baik bagaimana cara menanamkan imej di otak-otak yang matanya melotot terpapar radiasi sinar layar kaca tanpa harus terlihat terlalu menggurui dan sok tahu [hmm... bukankah itu terdengar so sweet dan bijaksana sekali. Hahaha]. Di televisi nasionalisme dikemas semenarik mungkin dengan pita warna-warni dan kelap-kelip di sana sini. Biar yang melihat silau matanya dan tergerak hatinya. Siapa yang kuasa menolak tampilan memesona? Ah, taiklah…



*dibuat saat ada gegap gempita sepakbola nasional di layar kaca. Atas nama Nasionalise barisan do’a pun masuk televisi. Sangat berlebihan saudara. Sampai membuat mual… 

Senin, 28 Mei 2012

HAI TUAN CILLIAN MURPHY! KUNOBATKAN KAU SEBAGAI FANTASI...






gambar diambil dari sini

 Damn! Mata yang sangat luar biasa. Superb! Hahaha... :]

PERI-PERI BERSAYAP TRANSPARAN DI MALAM HARI

 
Dia masih perempuan bodoh yang sama. Absurditas yang berulang tak akan membuatnya bosan – dia menyebut dirinya setengah autis. Dengan kenaifan di ambang batas normal itu membuatnya berfikiran; ritual tiap tengah malam dengan mata nanar menantang langit berharap semua dongeng konyol tentang peri itu benar adanya adalah kewajaran yang seharusnya.
Kau tahu? Dalam bayang retinanya, dari ujung langit sana – yang terbatas pandang mata – para peri datang menghampiri. Awalnya hanya berupa titik-titik yang buram dan melelahkan mata. Lantas tak sampai hitungan dua digit detik titik-titik itu berpendar pendar mendekat padanya. Mereka seperti perkakas berbahan logam dan ia adalah medan magnetnya. Tampak begitu menyilaukan serupa serbuk berlian yang disebarkan begitu saja. Dalam jarak kurang dari tiga belas langkah darinya, kilau-kilau itu membentuk kepak sayap transparan yang sekilas tampak rapuh. Lantas dalam satu kedipan mata, voila! Mereka benar-benar membuat silau. Membuatnya tak berkedip.
Dengan tampilan bak Barbie bersayap – meski dalam ukuran sekian sentimeter –siapa yang bisa menolak pesona peri-peri itu? Haturkan sembah sujud pada televisi! Lantas salah satu dari mereka membisikkan sesuatu ke telinganya “apakah kau benar-benar siap ikut dengan kami? Dengan segala anonim yang mungkin akan kau temui di sana?” kepak sayapnya yang berisik hampir menelan suaranya ke dunia tak berpenghuni. “Tentu saja!” jawabnya. “Tak ada yang lebih baik dari tempat dimana semuanya tampak tak bernama,” lanjutnya dengan antusias yang membara. “Baiklah, pejamkan matamu. Berjanjilah kau tak akan membukanya. Tunggulah perintahku. Jangan takut tersesat, kita akan saling berpegangan tangan.” Para peri itu lantas meraih tangannya – begitu hangat, sangat kontras dengan malam yang begitu dingin. Perlahan-lahan tubuhnya melayang menjauhi bumi. Seperti ada sepasang sayap yang tumbuh di balik punggungnya. Semakin jauh dan tekanan udara semakin terasa berat. Dadanya mulai terasa sesak.
Seiring ketinggian yang tak terjangkau mata manusia bumi, tubuhnya pun berotasi semakin masif. Membuat perutnya mual. Punggungnya terasa panas seperti habis terkena sengatan lebah. Apakah sayapnya mengeluarkan asap? Kalau tak ingat janji para peri itu ingin rasanya ia membuka mata. Hanya ingin memastikan apakah ia menuju tempat yang dijanjikan ataukah ia sedang menuju neraka. Ia benar-benar  sudah tak tahan. Semuanya terasa begitu lama. Mungkin roket tak akan selama itu untuk mencapai ruang angkasa. Eh, ia seperti tersadar dari koma, kemana perginya tangan-tangan mungil itu? Tangannya tiba-tiba begitu kebas. Kilatan-kilatan aneh berkelebatan di kepalanya. Apakah prei-peri itu sengaja menyesatkannya ke antah berantah? Atau mungkin mereka adalah utusan iblis yang sedang mencari koloni. Ah, siapa yang tak takut kesepian? Dia mulai merasa gelisah. Serangan tremor memicu kelenjar keringatnya berproduksi lebih dari biasanya. Begitu dingin membanjiri kulit ari. Mungkin benar, rasa takut akan neraka mengalahkan segalanya.
Ketika tubuhnya mengawang dan nyaris mati rasa karena rasa nyeri – benar, percayalah rasa ngeri itu membuat sakit fisik – ia memaksakan diri membuka mata. Tak semudah yang dibayangkannya, rasanya seperti ketindihan setan. Memaksa dan terus memaksa. Akhirnya ia bisa mengerjapkan mata. Benar-benar berhasil membuka mata. Tapi ini tak seperti yang diharapkannya. Ia tak sedang mengapung di angkasa dengan sayap transparan dan peri-peri imut. Ia mendapati tubuhnya telentang di atas kasur. Di tempat dan ruang yang sama. Masih menginjak bumi. Oh Tuhan! Ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya. Tapi ia takut dianggap tak waras. Ia merutuk dalam hati “kenapa selalu berakhir seperti ini? Brengsek!”
Hahaha… ia tertawa sambil menangis. Malam-malam yang selalu sama. Ia yakin itu bukan mimpi. Siklus yang repetitif. Diawali dengan menatap nanar langit di luar berharap peri datang lantas mendapati diri terengah-engah menatap  Langit kamar.
Ia insaf, itu terlalu nyata untuk disebut mimpi. Dan ada satu rahasia yang ia simpan sendiri, peri-peri itu selalu meninggalkan selembar bulu sayap di bawah bantalnya. Hampir-hampir lemari rahasianya tak mampu menampung bulu-bulu itu. Jadi – berulang kali lagi – bagaimana bisa ia menyebut itu hanya sekedar bunga tidur belaka. Huh, itu sungguh melelahkannya. Berpuluh-puluh malam yang sama. Ia merasa seperti CD bajakan yang diputar berulang-ulang kali tanpa jeda, hanya menunggu tamat riwayatnya saja. Tapi ia tak kunjung jera. Karena ia terlalu bodoh untuk tidak menjadi skeptis dan sinis. Sangkanya dunia sudah tak semenyenangkan dan semenarik dulu lagi. Dunia menjelma menjadi sosok nyonya tua astrokat dengan lemak bergelambir dan penuh selulit di sana sini. Sungguh membosankan mata. Ia ingin sembunyi ke atas sana. Dimana semua hal sepertinya anonim. Ya, malam nanti ia akan mencoba peruntungannya lagi. Lagi dan lagi… 

*dengan takaran gula satu sendok dan bubuk kopi tiga sendok mampu membuat mata melek hingga subuh. Walau kompensasinya perut menjerit keroncongan. Aah… kadang peri itu seperti tuhan. Kita tahu bahwa tak ada bukti tentang keberadaannya,  tapi kita tak menyangkal kemungkinan kalau ia mungkin ada. Sial! Lagu-lagu sendu dini hari di radio semakin membuat lapeeer…


Sabtu, 19 Mei 2012

ROBOT BOY

gambar diambil dari sini

Mr. an Mrs. Smith had a wonderful life.
They were a normal, happy husband and wife.
One day they got news that made Mr. Smith glad.
Mrs. Smith would would be a mom
which would make him the dad!
But something was wrong with their bundle of joy.
It wasn't human at all,
it was a robot boy!
He wasn't warm and cuddly
and he didn't have skin.
Instead there was a cold, thin layer of tin.
There were wires and tubes sticking out of his head.
He just lay there and stared,
not living or dead.

The only time he seemed alive at all
was with a long extension cord
plugged into the wall.

Mr. Smith yelled at the doctor,
"What have you done to my boy?
He's not flesh and blood,
he's aluminum alloy!"

The doctor said gently,
"What I'm going to say
will sound pretty wild.
But you're not the father
of this strange looking child.
You see, there still is some question
about the child's gender,
but we think that its father
is a microwave blender."

The Smith's lives were now filled
with misery and strife.
Mrs. Smith hated her husband,
and he hated his wife.
He never forgave her unholy alliance:
a sexual encounter
with a kitchen appliance.

And Robot Boy
grew to be a young man.

Though he was often mistaken
for a garbage can.” 

-Tim Burton


HAL-HAL YANG MEMBUAT SAYA TERTARIK


Iseng-iseng saya membuat daftar ini. Apa-apa yang bisa membuat saya lansung tersenyum dan secara spontan memberi sensasi bahagia. Urutannya saya buat secara acak – karena hal-hal yang menarik buat saya tidak bisa diukur dengan deret angka. Oke langsung saja cekidot…
1. Hujan dini hari
Tidak ada istilah ‘insomnia’ bila sudah mendengar suara mereka yang berdentang-dentang secara koloni membentur bumi. Itu seperti tidur diiringi dengan gesekan biola. Terasa begitu menenangkan. Serasa ada yang mengelus kepalamu sepanjang malam. Jadi kau tak perlu repot-repot pergi ke apotik untuk membeli obat anti depresi.
2. Deretan sawah disepanjang jalan
Saat pulang ke rumah atau bepergian kemana saja menggunakan moda transportasi bis atau kereta api sebisa mungkin saya harus duduk di sebelah jendela. Mata saya akan dengan mudah terhipnotis petak hijau berderet-deret yang kadang lama putusnya itu. Apalagi kalau disaat cuaca cerah, matahari akan memberi efek liukan cahaya di atas hamparan padi yang menghijau. Mata saya akan terus mengikutinya sampai mulut saya menguap. Panggil saya autis. Saya akan sedikit mengeluarkan kata kalau sedang dalam kondisi seperti ini. Tak kalah hebat dibandingkan saat menonoton komidi putar. Hal-hal semacam itu terlalu sayang untuk dilewatkan.  
3. French language
Dalam bayangan saya orang perancis itu seperti seekor ikan yang sama-sama bernafas melalui mulut. Yang bila orang lain mencobanya dalam hitungan puluhan detik pasti langsung megap-megap. Satu lagi, akan sukses membuat lidah anda keseleo beribu kali. Ya.. saya suka suara sengau yang keluar dari mulut mereka. Terdengar sangat eksotis di telinga saya. Dan sampai sekarang saya hanya tahu beberapa kalimat saja, seperti; Bonjour, ca va bien – Excusez-moi, monsure dan Merci beaucoup. Err… sepertinya saya hanya suka mendengar cericit vibra mereka tanpa mau berusaha untuk bisa. Anu… saya ngeri mendengar suara sendiri. Sengau serak parah! hahaha…
4. Warna Sepia dan absurditas di film Perancis
Saya sangat suka warna itu. Seperti warna dari kehidupan lain yang begitu asing tapi sekaligus begitu hangat dan akrab. Selain warna elemen lain yang membuat saya terpana adalah – selain bahasa tentunya – mereka bisa menampilkan cerita dan gambar absurd yang begitu indah. Mengawang namun secara bersamaan tampak begitu nyata. Sangat manis…
5. Panggilan nduk/nak
Panggilan seperti itu sangat mengena didiri saya. Apapun perkataan atau nasihat yang selalu diimbuhi kata nduk/nak akan mampu menundukkan kemasabodohan saya. Sangat akrab dan hangat. ‘nduk’ ‘nak’ itu seperti magic word mampu mencerahkan hari yang suram, mendekatkan jarak dan menghangatkan hati. Cieee….
6. Tikus
Akhir-akhir ini saya sangat suka kata tikus - meskipun di dunia nyata saya sangat benci binatang itu . Seperti  tetikus untuk kata ganti mouse. Mickey tikus dan Mini tikus lebih menarik di telinga daripada Mickey mouse atau Mini mouse. Mereka terdengar begitu catchy. Membuat telinga saya seperti digelitik, keenakan lalu ketagihan…
7. Bau buku
Sebelum membaca buku saya selalu memulai ritual dengan membaui lembaran-lembarannya [sudah seperti bocah ingusan yang mabok lem saya].  Buku baru maupun buku lawas. Ada yang khas di sana. Kadang-kadang saya menemukan jejak coklat batangan dan daun maple di sana.
8. Layang-layang
Keriuhan sekumpulan anak yang sibuk menggerak gerakkan benang mengendalikan layang-layang selalu mampu menarik perhatian saya. Tanya kenapa? Karena saya suka awan dan langit maka layang-layang adalah elemen yang pas untuk menyempurnakan kombinasi tersebut.
9. Jus tomat dan durian
Saya suka jus tomat karena saya suka tomat - yaelah! Suka rasanya yang tak terlalu manis dan ada sedikit rasa asam di dalamnya. Meskipun banyak teman saya yang tak suka dengannya. Lalu durian adalah buah sejuta umat. Raja dari segala raja buah. Buah surgawi meeen… tak ada alasan untuk menolaknya. Baiklah, saya bisa terima kalau orang berbeda selera musik dengan saya. Saya bisa menghargai jenis buku apapun yang anda pilih. Saya bisa mengerti apapun orientasi seks anda. Tapi, kapasitas otak saya tidak bisa menerima kalau ada orang yang bilang tidak suka durian. Sebutan apalagi yang pantas untuk disematkan pada orang yang menolak kelezatan buah berduri itu selain bodoh. Maaf, anda telah menyia-nyiakan kenikmatan duniawi. Belum tentu nanti di surga sana tumbuh pohon durian… :p
10. Kata ‘thanks to’ di sampul kaset
Ya, saya sangat manual. Saking manualnya saya masih beli kaset. Hehehe… saya sangat suka membaca persembahan terimakasih dari seseorang kepada orang lain. Biasanya yang sangat berjasa dalam hidup atau karyanya;  seperti Tuhan, orang terdekat, teman sahabat sampai remeh temeh lainnya. Banyak hal unik yang saya dapati di sana. Kadang lucu, membuat meringis, berlebihan, absurd. Seperti membaca ekspresi wajah…
11. Rahasia
Sebenarnya masih banyak hal lain yang membuat saya tertarik. Tapi rahasia dong… bukankah setiap orang harus punya harta karunnya sendiri. Akan ada seorang seperti Jack Sparrow yang akan membuat hidup anda tidak membosankan dan lebih berwarna. Karena anda punya umpan berupa harta karun yang peta dan gemboknya ada di tangan anda. Menyenangkan huh? Hohoho…

Sudah, sekian dulu list dari saya. Mau bobok sambil mendengarkan lullaby dari abang Kurt. ‘Putar kasetnya Nirvana – SLIVER the best of the box’ 


Rabu, 16 Mei 2012

MANIS!


gambar diambil dari sini 


Ashley: What else have you seen Kale? 
Kale : What else have I seen? 
Ashley : Yeah, what else? 
Kale : I've seen a lot. I mean, not like that, not, I mean...
[takes a breath] 

Kale : For instance, I've seen that you're maybe one of, I don't know, three people in the world that likes pizza-flavored chips. You're also the only person I've ever seen that spends more time on the roof of her house than in her actual house. And what are you doing? You're reading. Books. You know, not "US Weekly or "Seventeen", or, you know... but you're reading substantial books. You also do this, uh...
[scratches head, chuckles] 

Kale : You do this thing where, it's like an OCD thing, but it's not. It's, um... Whenever you're leaving your room, you grab the doorknob, you turn it and you're getting ready to leave but you don't, you stop and you back up and you turn to the mirror and you stare at yourself. But it's not like a, you know, "I'm so hot" kind of stare. You know, it's more like... "Who am I, really?" And to ask yourself that, I mean, that's so cool. So you look out the window all the time like I do, only you're looking at the world, you know? Tryin' to figure it out, trying to understand the world. Trying to figure out why it's not in order like your books... I'm only looking at you. 
Ashley : That's either the creepiest... or the sweetest thing I've ever heard.*


gambar diambil dari sini 





*dikutip dari film 'DIsturbia'


KITA BUTUH PEMAHAMAN BUKAN PENYERAGAMAN

Kita berbeda dari apa yang kita baca.
kita berbeda dari apa yang kita tonton.
Kita berbeda dari apa yang kita dengar.
kita berbeda dari apa yang kita punya.
kita berbeda dari apa yang kita percaya.

Kita berbeda...

Beda cara lingkungan dan orang-orang disekitaran membesarkan kita.
Dikelilingi teman yang tak sama.
Fasilitas dan akses yang kita terima tak juga seragam.

Sedari asal kita sudah dipaksa berbeda.
Keberuntungan yang tak sama sejak dilahirkan. 
Karena kita tak bisa memilih dari rahim mana seharusnya kita dilahirkan...

Jadi,

Apa gunanya mencemooh mereka yang tak satu selera.
Mengutuk apa-apa yang tak sepaham.
Toh standar itu hasil buatan manusia juga.
Pun, kita bukan hasil produksi masal yang dipajang di etalase toko.

So, nyantai wae tho ya.
Lha mereka-mereka itu gak ganggu kita kog.
Kalo gak suka mbok ya disikapi dengan wajar dan waras.
Toh apapun atributnya kita ini sama-sama terbentuk dari ovum dan sperma.

*Maaf, bukannya saya mau sok bijaksana atau apa. Saya bukan pengikut loyal salam super Mario Teguh. Saya orang yang lebih memilih membeli novel picisan daripada buku motivasi yang tebalnya segede gaban , meskipun sedang ada diskon 70%. Dan reality – entah drama entah bukan – show semacam ‘Andai Aku Menjadi’ bla bla bla atau apalah namanya itu yang menjual rasa kasihan dan airmata tak akan sanggup membuat saya menangis termehek-mehek. Ayolah... semengenaskan itukah hidup di desa? [sumpah! Anda membuat saya pengen kencing berdiri. Hahaha…]
Baiklah, panggil saya si bebal! Tapi asal tahu saja, mata saya akan mudah berkaca saat mendengar kata ‘kangen’ keluar dari mulut Bapak Ibu saya . Dan kemarin dulu saya tak bisa menyembunyikan kecengengan saat keponakan saya yang berumur 4 tahun bilang “Mbak Lina itu sahabat terbaikku lho…” – sambil memeluk saya erat dan memberi hadiah kecupan manis di pipi. Saya mewek. Hahaha, ironikal bukan?