Minggu, 10 Februari 2013

HUAHAHAHA!!!


Little Old Lady: Oh, hello, there. Are you two heading for Las Vegas?
Beavis: Yeah. We're gonna score.
Little Old Lady: Oh, well, I hope to score big there, myself. I'm mostly gonna be doing the slots.
Beavis: Yeah, yeah. I'm hoping to do some sluts, too. Yeah. Do they have a lot of sluts in Las Vegas?
Little Old Lady: Oh, there are so many slots, you won't know where to begin.
Beavis: Whoa. Hey, Butt-Head, this chick is pretty cool. She says there's gonna be tons of sluts in Las Vegas.
Butt-head: Cool.
Little Old Lady: It's so nice to meet young men who are so well-mannered.
Beavis: Yeah. I'm gonna have money and a big screen TV and there's gonna be sluts everywhere. It's gonna rule.
Little Old Lady: Well, that's nice.



*Beavis and Butt-Head Do America

Sabtu, 09 Februari 2013

SILAHKAN. TERSERAH. APALAH


Ya ya, tak usah melotot seperti itu, saya tahu kalau saya ini sangat jauh dari lovable. Iyes, saya sadar kalau saya ini cenderung mudah dibenci. Tidak mengacuhkan dan tidak diacuhkan adalah hal yang biasa bagi saya, jadi ya tidak heran kalau ada saja yang sebel sama saya. Lha wong saya juga tidak berusaha keras agar semua orang suka sama saya kok. Saya bukan orang yang talk-active, saya pasif kalau masalah omongan. Prinsip saya, biarkan tindakan yang bicara – mereka mau ngomong apa kek, peduli amat.

Saya sadar, mereka gampang sebel sama saya karena saya ini bukan partner yang asyik buat bergosip alias bergunjing. Iya, karena saya paling males kalau disuruh ngomongin orang, diri sendiri saja belum bener mau sok-sokan ngomongin orang lain, plis dong deh! Saya tidak antusias kalau diajak mencela orang. Misalnya saat melihat orang lain yang – padahal – sudah cantik penampilannya, masih saja ada hal remeh temeh yang dicela: yang badannya agak bungkuk-lah, kaki tidak simetris-lah, hidung mancung tapi sedikit bengkok-lah, ya ampun, mata mereka jeli amat [yang padahal di mata saya semuanya itu sudah baik-baik saja dan oke-oke saja]. Saya merasa waktu saya terlalu pendek kalau hanya dihabiskan untuk mengamat-ngamati penampilan/fisik orang lain, mending juga ngupil!
Saya tidak lovable, karena kadang saya ini tiba-tiba bisa bersikap autis dan apatis. Tiba-tiba sangat berpusat pada diri sendiri daaaan saya sangat menyukai kesendirian, me-time. Saya benar-benar butuh menyepi tanpa memperdulikan orang lain. Saya adalah tipikal orang yang bisa tiba-tiba menghilang dari peredaran tanpa pengumuman terlebih dahulu – ya siapalah saya – get lost begitu saja kemana saja. Ya, silahkan acungi saya telunjuk dan kutuk saya!  

Ya ya, saya tak ambisius ingin membuat orang lain untuk loyal menyukai dan memuja saya. Saya sedang tidak dalam misi mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin. Saya tahu, bahwa semua orang butuh teman. Tapi saya pengen punya teman yang benar-benar teruji secara klinis – halah! Oke, saya butuh teman yang secara fisik tak harus melulu berada di samping saya. Teman yang tak melulu setiap hari harus ngobrol untuk tetap bisa keep in touch. Saya hanya butuh teman yang tidak terpaksa, yang tak sungkan saling berbagi cerita kapanpun itu diperlukan meski kita punya senggang yang panjang tanpa kabar berita. Kita tak canggung untuk kapan-kapan saja saling bertukar salam. Dimanapun-kapanpun-kalau-ingin-ya-silahkan-hubungi-saja. Iya, berteman karena tak terpaksa, berteman sebebas mungkin tanpa merasa terbatas ruang dan waktu. Sebagai jiwa yang bebas, untuk apa mengurung pada keterikatan yang membuat kita agar terlihat intim namun terintimidasi.
JADI [kamu,temanku] silahkan membenci sesukamu tapi jangan menyimpan benci. Meludahlah sesukamu tapi jangan lupa seka bibirmu dan pasang senyum yang lebih lebar lagi. Bebaslah. Bebas membenci lantas memeluk erat, menyumpah lantas mencium bertubi-tubi dengan buas, berserapah lantas merangkulkan lengan hingga leher terasa sakit untuk ditolehkan. Silahkan… nyamankan dirimu, anggap saja rumah sendiri.

DAN satu lagi, saya pun tak heran dengan teman yang gampang berpaling [karena apapun itu mereka pasti punya alasan tersendiri] atau mempunyai teman yang gampang melupakan karena [mungkin] menganggap saya sudah tidak potensial lagi untuknya. Ya kalau saya sih sebisa mungkin dibawa asik saja, karena kalau masalah lupa melupa saya pun jagonya. Jadi, ya santai saja. Makanya saya sekarang ini kalau berteman yang biasa-biasa saja, karena saya tahu cepat atau lambat satu persatu mereka akan meninggalkan saya, sendirian. Saya tak takut sendirian dan kesepian, toh saat terlahir dulu dan mati nanti saya menangis dan bakalan digerogoti cacing sendirian – itu bukanlah horor bagi saya. Hitung-hitung hal itu sebagai persiapan sebelum ditinggalkan, biar tidak terlalu meringis menahan tangis. Mungkin cara pandang saya yang sekarang ini jauh berbeda dengan cara berteman saya yang dulu, saya sangat loyal dan royal dengan semua teman tanpa pandang bulu. Hingga ada yang memanfaatkan kenaifan saya itu, hingganya lagi membuat saya terlihat tolol. Tapi saya percaya masih ada teman yang baik dan tulus, tapi kadang saya merasa sedikit kecewa juga dengan masa-masa Young and stupid itu. Yay, dan sampai sekarang pun saya masih merasa muda dan bodoh! ngahahaha…

Ya sudahlah ya, saya memang ‘selfish and unkind’. Dan saya tak ambil pusing, saya kan hateable tho yaaa… :]


Kamis, 07 Februari 2013

NO ONE LOVES ME!


King Julien: No one loves me!
Skipper: Oh, now that's not...
King Julien: ...as much as *I* love me.
Skipper: Oh. Well, that is true. 



*The Penguins Of Madagascar

Selasa, 05 Februari 2013

WHEN A BLIND MAN CRIES


Lagu pengantar tidur, tuan-tuan...


If you're leaving, close the door
I'm not expecting people, anymore
Here me grieving, lying on the floor
Whether I'm drunk or dead, I really ain't too sure

I'm a blind man

I'm a blind man
And my world is pale
When a blind man cries
Lord, you know
There ain't a sadder tale

Had a friend once, in a room

Had a good time, but it ended much too soon
In a cold month, in that room
We found a reason, for the things we had to do

I'm a blind man

I'm a blind man
Now my room is cold
When a blind man cries
Lord, you know
He feels it from his soul




OMONGAN ORANG MABOK LEM

 
'Kalau bukan karena temanku, sudah aku pacarin kamu dari dulu. Benaran. Kamu gak nyadar apa kalau kamu tu keren. Gak pasaran. Ibaratnya untuk ndapatin kamu itu perlu kerja keras, perlu blusukan ke pasar-pasar loak. Perlu secara telaten bongkar-bongkar barang dari ujung sana sampai ujung sini, demi mendapatkan barang langka yang nominalnya tak ternilai. Kadang harus kuat mental, karena kerap mendapat lirikan sinis bahkan makian dari para penjual yang merasa telah diacak-acak barangnya namun gak jadi dibeli. Kamu tuh barang langka, perlu menunggu waktu untuk menemukanmu. Lha, ibaratnya sekarang aku gak perlu susah-susah ngedapetin kamu, karena kamu sudah mak becungul ada di hadapanku. Tapi ya itu, sayangnya kamu sudah terlanjur jadi temanku. Hehehe…'

*Iyuuuh, hoeks banget gak sih itu? huahaha… :p


Senin, 04 Februari 2013

MULUT OH MULUT

 
Suatu hari di dalam bis antar kota terjadilah adegan seperti ini:
Seorang ibu usia awal empat puluhan yang sebelumnya duduk di deretan kursi depan pergi menuju barisan kursi paling belakang. Itu setelah ia menyadari keberadaan seorang kenalan yang sepertinya masih tetangga rumah. Si ibu kenalan ini usianya kira-kira sudah paruh baya tapi masih terlihat enerjik dan kelihatan sekali kalau dia adalah orang yang cukup disegani oleh ibu usia awal empat puluhan itu. Selanjutnya untuk menghemat penggunaan kata, kita sebut saja ibu awal empat puluhan sebagai ibu Bakung dan ibu paruh baya sebagai ibu Tulip.
Adegan berikutnya adalah setelah dalam baris kursi yang sama, si ibu Bakung tanpa melakukan pemanasan terlebih dulu langsung bermanuver mendominasi pembicaraan yang panjang lebar, entah apa isi pembicaraannya yang jelas si ibu Bakung ini sangat menikmati perannya. Dan kasihan buat ibu Tulip karena sepertinya ia adalah tipe ‘tak-banyak-bicara’ yang hanya bisa menimpali dengan anggukan kepala dan respon bahasa yang seperlunya saja. Si ibu Tulip sangat tersiksa dan bosan. Ini terlihat dari mimik mukanya yang menampakkan ekspresi datar dan cenderung dipaksakan, seakan wajah murungnya itu bicara; “Hei, tak bisakah kau diam barang sejenak. Aku sangat lelah mendengar ocehanmu. Lebih lelah dari melakukan perjalanan panjang yang baru kulalui…”
Haha, sayang sekali buat si ibu Tulip – sepertinya perjalanannya akan terasa lebih panjang, karena si ibu Bakung bukanlah tipe yang pandai membaca ekspresi, bukan pula tipikal yang pintar membaca situasi. Dan sepertinya lagi, sejak dari lahir dia ditakdirkan mewarisi tambahan tiga mulut yang tak kelihatan dan telinganya hanya sekedar aksesoris. Lihatlah gesturnya yang semakin condong saja ke arah ibu Tulip. Tak ubahnya harimau betina yang siap-siap memangsa korban buruannya. Huhu, kasihan sekali nasib ibu Tulip. 

Hoho, bukankah sangat menyebalkan ketika kita harus mengobrol dengan orang yang terlalu banyak bicara? Kamu akan merasa tersesat di neraka paling jahanam bila hal itu dibarengi dengan penyakit sok tahu yang akut – orang yang berambisi mendominasi obrolan, yang kosakata ‘mendengarkan’ sudah dia hapus menggunakan tipe-x tebal-tebal. Oh, dia merasa seluruh seluruh dunia akan mengarahkan pandangan kepadanya bila semua himpunan kata dalam kamus dia semburkan ke arah lawan bicaranya. Wahai Dewa Kata, ingin rasanya saya menendang pantat mereka hingga babak bundas atau menitipkan mereka pada awan kinton saja. Biar dijatuhkan tubuh mereka ke gedung parlemen sana, agar dapat lawan tanding yang sepadan. Ngoceh sana-sini demi kepuasan sendiri. Onani oral. 

Benar, omongan mereka kebanyakan memang kadang tak ada esensinya. Hanya sekedar basa-basi untuk membuat mulut membusa. Hingga membuat telinga lawan bicaranya berdenging-denging sampai kebelet kencing.
Kadang saya merasa heran dengan mereka, darimana bisa mendapatkan stok kata yang sebanyak itu. Yang tanpa perlu berfikir, mengalir lancar bagai pusaran angin tak berpenghalang menghancurkan apa-apa yang dilaluinya. Mereka benar-benar berbahaya! 

Iya. Kata mereka saya pendiam. Itu karena saya [kadang] mengalami kondisi: lemah-mengkomunikasikan-sesuatu-secara-verbal [ini pada kondisi, orang dan lingkungan tertentu]. Saya akui, saya adalah jenis manusia yang canggung dan kikuk. Bahkan menghibur nenek yang baru kehilangan mbah kakung saja, saya kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menghibur agar beliau menghentikan isak tangisnya. Saya hanya bisa melakukan dengan bahasa tubuh: memeluk, mengelus tangan dan rambut, mencium kening serta mengelus punggung. Benar, saya sangat bermasalah dengan mengkomunikasikan perasaan.
Saya pasif dengan omongan yang terlalu terpusat pada diri sendiri. Juga, tidak terlalu semangat membicarakan urusan orang lain. Karena kamu tahu? Hal itu akan membuatmu kelihatan seperti komentator bola penderita obsesif-kompulsif, alih-alih terdengar sebagai lawan bicara yang asyik. 

Ketika saya menghadapi orang-orang yang terlalu banyak cakap seperti itu, yang bisa saya lakukan hanyalah: mengangguk-anggukkan kepala, sesekali menggeleng, mengeluarkan suara oh, ya, he’em, benarkah? dan lain sebagainya dan lain seterusnya, yang pastinya saya lakukan dengan setengah hati. Bisa dibilang saya adalah pendengar yang lumayan baik. Tapi kalau disuruh mendengarkan omongan yang sudah mulai terdengar seperti narasi berita gosip ala infotainment, ya saya capek juga.
Pernah saya mencoba memberi tanda-tanda terselubung pada orang-orang jenis ini, seperti: menguap, mengetuk-ngetukkan jemari tangan, meregangkan tangan seperti orang habis bangun tidur, melulu mengalihkan pandangan darinya. Tapi, kalau dasarnya tidak peka ya percuma. Dan malangnya, saya adalah tipe sungkanan. Jadi, sambil merutuk dalam hati ya saya biarkan saja. Namun dalam hati tak berhenti berdoa: ‘Semoga ada komet baik hati yang menabrakkan diri ke bumi!’ 

Duh, saya lupa, sebenarnya saya punya jurus yang ampuh untuk menghadapi mereka, yakni ketika mereka sibuk bercuap-cuap saya pun tak mau kalah sibuk membangun dunia sendiri di kepala. Wah, saya lumayanlah kalau sudah menyangkut masalah-masalah kayak gini. Multitasking sambil nungging kalau istilah saya, haha…
Hei kamu, jangan bongkar rahasia saya ya? Biar akting saya semakin terasah meyakinkan. Ya daripada mendengarkan mereka berbuih-buih, kasihan dong telinga dan batang otak saya. 

Kalau mereka mau mengerti, sebenarnya dengan banyak bicara seperti itu tak serta merta membuat mereka tampak pintar dan cool. Malah mereka kelihatan insecure dan tidak percaya diri. Untuk menutupinya mereka bermain akrobat kata-kata. Kamu tahu? Orang yang cerdas biasanya tak terlalu mengobral omongan yang meluber kemana-mana. Mereka cerdas memilih saat dan isi omongan yang pas dengan kondisi lawan bicaranya. Tak menggurui dan merasa tahu sendiri, dan juga mereka adalah pendengar yang baik. Dari luar mereka akan tampak biasa saja, karena mereka tak ambisius dalam mempertontonkan kepintaran sendiri. Pun kalau kamu tidak berhati-hati dengan mereka, kamu – para lisaner – akan tampak bodoh secara diam-diam di mata mereka. Mereka tak akan menertawakanmu secara frontal, mereka hanya akan menandaimu.







Ps: Sadar gak sih? Sebenarnya saya juga sangat cerewet lho, namun dalam konteks non verbal. Tuh lihat, banyak  tulisan saya yang berbusa-busa di blog ini. Hehehe...


Minggu, 03 Februari 2013

JUNE DAN BUKU PRIBADI

 
Kemarin aku mendapat sebuah surat dari seorang kawan lama, June. Seorang yang kukenal di bulan Juni di tahun-tahun yang kemarin. Memang brengsek-lah si June itu, ia selalu tahu apa yang sedang aku butuhkan namun selalu enggan untuk dilakukan.
Huh! aku memang suka menulis, June. Itu sudah seperti tomat saja, buah favorit yang sudah lama ada di daftar kesukaanku. Tapi menulis – kadang – tak semudah buah tomat yang tinggal beli, dicuci lalu dikonsumsi. Ia butuh sesuatu yang disebut dengan ‘konspirasi’. Kamu harus bersusah payah dulu untuk menyuap: otak, keinginan dan suasana hati untuk berbaik hati kepada jari jemari tanganmu. Dan itu adalah pekerjaan yang menguras emosi dan keringat, karena mereka adalah sekumpulan badut tinggi hati yang sangat susah disuruh menunjukkan wajah aslinya. Penasaran sekaligus geregetan. 

Jadi begini, si June ini menyuruhku untuk memiliki sebuah buku khusus untuk aku bisa tulis-tulisi dan coret-coreti. Kalau istilah umumnya sih disebut diary. Tapi berhubung aku sedang tak ingin bergenit-genit ria, maka aku sebut saja ia buku pribadi. Dan pastinya aku tak akan memilih yang bersampul Barbie atau pun Tinkerbell yang imut-imut sekali itu. Hei-hei, aku tak mau jadi bahan tertawaanmu, June!
Ehem! Karena berhubung aku bukan pengecut, aku terima tantangan si June yang suka mengalun. Tapi ah, secara teori saja ini sudah tak mudah, entah sudah berapa ratus hari aku tidak menulis tangan.  Tangan yang serupa besi batangan dan udara yang dingin menusuk tulang adalah konspirasi sempurna untuk membunuh ambisiku, halah!
Hmm, baiklah kita lihat sisi positifnya saja. Paling tidak aku akan kelihatan lebih manusia dengan sedikit mengurangi bunyi tats-tits-tuts itu.
Dan, pasti June akan bilang begini: ‘Hei! Bukankah kamu pemuja mereka-mereka yang punya buku pribadi? Bukankah percaya diri secara manual adalah keren di matamu?’ Yuhuuu, aku bukan hipster yang hobi naik scooter. Hihihi… 

Ah June, kamu sekali lagi benar tentang buku pribadi itu. Daaan… karena embel-embel pribadi itu, peduli setan dengan tulisan tangan yang tak terbaca. Toh itu akan membuatku merasa lebih aman. Dasar, si nona yang suka main aman! :p 

Jadi June, nanti aku akan meletakkan buku pribadi itu di bawah kasur ranjangku. Jadi sewaktu-waktu kalau aku ingin menulis, aku akan tinggal ambil saja. Aku tak bisa berjanji bisa menulis setiap hari, June. Karena kamu tak bisa berharap pada mood yang tak pernah cemberut saban harinya. Ah, semoga tak malas ya tuhan… 

Lihatlah June, aku akan membuatmu bangga padaku. Tidak rugi kamu punya teman sepertiku – eh apakah bunga narsistik itu masih ada? Petikkan satu untukku dan sematkan di telingaku, sekarang plisss… hahaha.
Eh, aku ada lagu untukmu June, sebagai penanda tekadku kepada deret-deret huruf yang saat ini masih menjadi kecebong. Ribuan yang berlompatan di kepala tapi entah berapa buah yang berhasil menjadi katak dewasa. Ini dia, June, silahkan nikmati dengan mata terpejam dan mulut menggumam:
Mari-mari
Ayo kita menulis
Biarkan iblis dalam dirimu meringis
Karena kamu punya mainan baru yang disebut abjad berbaris
Mari-mari
Kita menulis
Biarkan malaikat di sebelah pundakmu betah berbaris
Karena dia merasa punya hobi yang sama yaitu menulis
Mari-mari
Beri aku imaji yang tak lekas habis
Yang meluap dan meluas tanpa batas berlapis
Mari-mari… 

Sudah ah June, doa’kan saja aku tidak lekas bosan. :p