Tampilkan postingan dengan label celoteh absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh absurd. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2014

SELAMAT RABU DINI HARI, SEMOGA TUBUH TANGGUH LAGI.


Terbangun di jam sebelas malam lewat sedikit. Hibernasi sedari sore tadi lumayan menghilangkan sedikit pening di kepala. Flu yang membawa demam dan leher perih itu memang brengsek, semacam kolaborasi balet dan biola yang dimainkan oleh orang yang sama yang merasa sok bisa. Menyebalkan.
Mungkin ini hasil dari hujan-hujanan sesorean kemarin lusa. Ah, mana mungkin hujan yang mengagumkan bisa menyebarkan virus? Aku bukan anak manja yang kepalanya kena rintik hujan sedikit saja langsung meringkuk di kasur sambil mengerang. Aku lebih percaya kalau ini semacam efek random dari permainannya Tuhan. Dia sedang iseng memainkan telunjuknya ke arah kepala-kepala egosentris yang merasa sok kuat. Dia seakan teriak di kupingku, “Helloooo… mutan hanya ada di film, jangan kau putar berulang-ulang di ke kepalamu!” Hahaha… aku bukan penyuka film-film Superhero, Han.

Jam setengah dua belas, hampir tengah malam. Sedari sore tadi aku sengaja mematikan Hp, si Maha Pengalih Perhatian. Sekedar disenyapkan hanya akan membuat penasaran. Bah! Apakah Hp sudah bermutasi menjadi sejenis makhluk hidup yang belum terklasifikasi? Oke, ucapkan selamat untuk iklan dan ketidakpuasan manusia. Ya, ini semacam rutinitas yang terpogram di alam bawah sadar. Bangun tidur, hal pertama yang dilakukan adalah ngelus-ngelus Hp. Adakah berita sensasional dan gosip murahan yang terlewatkan hari ini? Jangan sampai terlewat atau si Maha Tahu akan mengutukmu jadi Upik Abu!
Iya, terjaga langsung ngecek Hp. Waahh… banyak pesan masuk dari aplikasi-aplikasi unduhan gratis. Mulai membaca satu-satu, tapi tak membalas satupun. Biar saja, toh kepalaku masih pening, tak sanggup menatap layar Hp berlama-lama. Oke, matikan Hp lagi. Berlama-lama memegang Hp bisa-bisa terkontaminasi efek radiasi alienasi *tsah!

Jam dua belas tengah malam, perut mulai lapar. Ada brownies sisa kue ulang tahun teman tadi sore. Tapi lagi malas makan yang manis dan legit. Bisa-bisa tenggorokanku tambah sakit. Hmm… pengen ngopi tapi yang ringan saja, kasihan leher. Taraaa… kopi putih instan cap hewan pengerat sudah siap diseduh panas-panas, tanpa gula pastinya. Tapi rasa lapar harus tetap diganjal. Apa ya? Buka-buka lemari, mengintai di bawah lipatan kasur, siapa tahu ada ‘harta karun’ yang belum terdeteksi. Eh, ada kue bertekstur kasar dengan isian coklat di lemari pakaian, kemarin itu aku dikasih kue sama ponakan kecilku yang temannya lagi ulang tahun. Dia memang manis, selalu menyisakan kue atau jajanan yang sesuai seleraku. Dan dia paling tahu kalau aku suka wafer ‘Superman’. Kemarin-kemarin itu hampir dua hari sekali dia selalu menyelipkannya  diantara tumpukan bajuku. So sweet kan? Lebih manis daripada rayuan murahan di sinetron-sinetron kejar tayang itu. Peluk dan cium untukmu yang manis, hehehe…
Makan kue yang tak terlalu manis dengan kopi yang sedang saja takaran pahitnya itu sangat menghangatkan lambung tanpa membuat tenggorokan tercekat. Pas. Nah, perut sudah lumayan kenyang. Tapi jam segini belum bisa bisa ngantuk lagi, ngapain ya… mau baca buku tapi stok bacaan yang belum dibaca masih kosong, mau nonton film di laptop tapi kan sudah kubilang kalau aku lagi malas memelototin layar elektrik yang sinarnya berpendar menyakitkan mata *dasar bebal, huh!
Ehm… aha! Aku kemarin siang kan beli cokelat batangan rasa kacang mede di minimarket berinisial I. oke, lupakan tentang hidup sehat, kolesterol tinggi, blablabla… Maafkan untuk penemu tips ‘gak boleh ngemil malam-malam karena bikin perut buncit’, aku itu bukan seorang idealis yang rela kelaparan demi ideologinya, memang aku idiot!
Ya, cokelat itu enak. Kadang di moment tertentu lebih enak daripada kentang yang dikukus yang maha eksotis itu. Tapi mereka sama-sama favorit, gak perlulah diperbandingkan, keanekaragaman itu keren. Aku kalau makan cokelat sendirian itu tak selalu habis satu batang sekali makan. Selalu aku makan satu potong di pas keratannya. Rasa mede ini favoritku, karena pada dasarnya aku suka kacang-kacangan. Sisanya aku simpan di bawah tumpukan baju, yang akan aku makan pas aku ingin yang manis-manis tapi gurih.
Okeee… perut benar-benar puas dan kenyang sekarang. Kopi sudah tandas sedari tadi, tanpa menyisakan ampas. Pening mulai berkurang, hidung pun sudah mulai menyerah memproduksi lendir bening. Meski ya masih ada kecebong yang nyangkut di leher – semoga tak berubah menjadi kodok hijau besar yang suaranya bising, tapi tak apalah, dianggap enteng saja *keajaiban sugesti bekerja keraslah!

Pukul satu lebih satu menit dini hari. Mata sudah mulai berat. Yes, akhirnya ngantuk juga. Mulai nata menata bantal. Rebahkan tubuh diposisi paling nyaman. Kemudian tarik selimut sampai dibatas leher. Terakhir matikan lampu. Aahh… sudah. Selamat rabu dini hari, semoga tubuh tangguh lagi. Karena masih banyak hal menyenangkan yang harus kita lalui bersama. Semangat buh, tubuh! *senyum lebaarr…


Jumat, 05 Desember 2014

SETELAH DUA PUTARAN JUNI, APAKAH ENGKAU MASIH MERAH?

 
Hai apa kabar? Hmm, sebenarnya aku tak punya nyali menanyakan kabar. Sudah hampir dua tahun lho… Dan apakah menanyakan kabar masih relevan? Hehehe…

Hei, planet merah jangan cemberut dulu. Aku punya alasan kok. Kamu ingin tahu? Ah, aku yakin kamu pasti ingin tahu, itu lihat dahimu berdenyut-denyut! Sini-sini aku bisikin, “You know what? Aku lupa password.” Hihihi, gak usah melotot seperti itu. Iya aku tahu itu sangat konyol. Tapi kadang manusia suka lupa pada satu hal dalam durasi lama, kan? Gimana,  pembenaranku masih keren, kan? Hehehe…

Oke, bytheway gimana keadaanmu? Setelah hampir dua tahun aku tak menggores-gores alias menggrafiti planetmu, apakah ada perubahan yang wow sekali? Ada alien hijau dari Planet Bayam yang berhasil menginvasi kesini atau kau sudah berganti selera ke pink misalnya? 
Apakah masih ada tempat bagiku di Planet Merahmu? Hei, jangan mengernyit! Kamu pikIr aku tak bisa bahasa melankolis? Sungguh merendahkan. Ehm, ada yang ingin aku bilang, tapi janji jangan muntah dulu, “Aku kangeenn…”. Iya aku kangen, aku kangen keabsurdan kita, aku kangen sindiran-sindiran sarkas dan lelucon satir kita, aku kangen memuntahimu dengan omelan bawel nyinyirku, aku kangen memutar lagu favoritku keras-keras di kupingmu, aku kangen berbagi sesuatu denganmu – meski bukan segala tapi itu lumayan melegakan. Aku kangen, aku kangen, aku kangennn… banget. Sini-sini aku peluk. Hahaha, ternyata engkau masih canggung dengan intimitasi ya? Tapi tak mengapa, sini, kita berangkulan yang mesra saja.

Eh, tau gak sih… Meski aku dalam jangka waktu lama tidak menjejakkan kaki di planetmu, sebenarnya aku mengawasimu dari kejauhan lho. Ibarat rumah, meskipun aku gak bisa masuk karena kuncinya lupa naruh dimana, aku masih bisa melihatmu dari luar pagar pekarangan. Itu karena kamu tahu kenapa? Karena kaca jendelamu transparan. Tapi, untungnya kamu tangguh ya? Ya iyalah, Planet Merah ini. Kamu harus berkolerasi positif dengan nama belakangmu!

Kamu tau lagi gak, ternyata banyak yang kangen denganmu lho. Salah satunya temanku yang hipster itu, selalu merongrongku dengan pertanyaan yang sama, “Kok sekarang si Planet Merah jarang dijamah? Aura kekerenannya jadi hilang tuh.” Dan tentunya banyak silent reader yang merasa kehilangan bacaan absurd, ya ya ya percaya diri bukanlah kriminal. TAPI aku menjamahmu bukan karena pesanan, karena kamu bukan murahan.

Dan pastinya saat ini kamu sangat ‘Knowing Every Particular Object’ alias Kepo kepadaku. Tenang saja Merah, aku akan mencoretimu dengan krayon warna-warni. You will know lah…

Yup yup yup, tahan kepomu sampai batas yang tak ditentukan. Karena mood coretanku tak bisa diprediksi layaknya cuaca. Mungkin bisa segera, bisa juga akan lama. Jadi, tahan kepomu di titik nol derajat Fahrenheit, di ketinggian nol Kilometer di atas permukaan laut, dan di sudut nol derajat. 
Saranku, perbanyaklah meditasi. Biar sabarmu gak empty, BBM mahal lho…

Oke, Merah… Sampai jumpa lagi di bagian tubuhmu yang lain. Dan jangan sampai memanggilku anonim, karena aku dan kamu adalah sinonim *Muach, syalalalapan…


Sabtu, 16 Februari 2013

TEMAN KEREN

 
UFO. Pasti kamu sering mendengar kata ini kan? Dan pastinya lagi ketika ada kata UFO maka dipikiranmu akan terlintas sebuah bentuk kata lain, yaitu ALIEN. Ibaratnya kereta api bagi manusia, Ufo ini adalah moda transportasi favorit yang biasa digunakan Alien bila bepergian kemana-mana, khususnya untuk perjalanan yang menempuh jarak dan waktu yang panjang dan lama. Mungkin kalau ingin bepergian ke tempat yang jaraknya hanya sekian kilometer mereka cukup menggunakan sepeda angin dimana rodanya terbuat dari baling-baling yang bisa dipakai di darat dan air. Jadi tidak heran kalau Alien-Alien itu pinggangnya ramping-ramping.  
Eh, jangan putar bola matamu seperti itu, kamu pikir aku konyol?  Jadi begini, aku pikir selama ini para Alien itu sangat terinspirasi dengan binatang bumi bernama katak. Kalau kamu tak percaya lihat saja bangun tubuh mereka: dari jemari kaki sampai bentuk bola mata, apakah itu tak mengingatkanmu pada makhluk si peramal hujan alamiah itu? Dan sekarang mereka mempunyai kendaran yang bisa menjelajah di dua alam. Lihat, amphibi banget gak sih itu?
Ehm, kamu sepenasaran aku tidak ya, kira-kira di sana hal-hal apalagi yang dikreasikan oleh para Alien dari hasil ‘daur-ulang’ apa-apa yang ada di bumi? Aku berani bertaruh, hasilnya pasti jauh lebih baik. karena apa? Karena mereka adalah makhluk tak biasa. Waaah… mereka semakin terdengar dan terlihat menarik ya?

Omong-omong tentang Alien, aku punya sebuah rahasia lho. Kamu mau tahu gak? Tapi pssst… jangan kasih tahu siapa-siapa ya, karena kalau kamu memberitahukannya kepada teman atau kekasihmu ini nanti jadinya bukan lagi rahasia yang misterius – dan Alien tentu saja tidak suka itu. Mungkin ini terdengar kurang waras atau apa, namun aku percaya kalau Alien itu ada dan Ufo suka mampir ke tempat kita. Meskipun banyak orang yang meragukannya karena belum ada bukti kasatmata yang pasti nyata dan diakui kebenarannya, tapi aku tetap mengamininya. Ibarat melihat Tuhan, kamu harus memakai indra perasamu untuk merasakan kebaradaan-Nya. Karena Ia adalah super-duper-hyper-extra-ordinary, yang terlalu gampang kalau hanya dilihat dengan mata telanjang.
Jadi begini, aku punya ritual khusus yang biasa kulakukan di tengah malam. Kapan itu harinya atau tanggalnya tidaklah tentu, tergantung suasana hati. Aku punya teori seperti ini: ‘Semakin kamu gundah dan gelisah maka akan semakin kuat daya pancar radar Alienmu, karena segala keruwetan yang membuat kepalamu hampir meledak itu akan dirubah bentuknya menjadi energi pemancar radiasi – ledakan kepala itu efeknya sekian ratus kali lebih dahsyat daripada ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.’ Makanya kalau sedang lara atau luka biasanya di tengah malam aku suka menyendiri di balkon rumah, dengan ditemani secangkir besar kopi pahit [ini satu lagi, semakin resah semakin banyak cangkir kopi yang diperah] aku suka memeluk lutut sambil memandang ke atas, ke langit yang gelap. Kelihatan sekali dari gesturku kalau aku sangat rapuh, oleh sebab itulah aku berharap ada teman yang datang berkunjung untuk sekedar bertukar peluk atau bertukar haha-hihi. Dan aku rasa Alien adalah teman yang keren, karena ia punya daun telinga yang lebar dan mulut yang imut. Sebab itulah, di tengah malam yang gundah dan gelisah itu aku suka dengan was-was menanti kedatangan mereka – Alien itu sukanya menampakkan diri di tengah malam, karena ia tidak suka menjadi pusat perhatian makanya ia memilih datang disaat dimana kebanyakan orang sudah terlelap tidur. Tapi sayangnya – seperti banyak malam yang telah lalu - hingga kopiku tandas dan tinggal ampas mereka tak kunjung datang lekas. Pernah ada satu kejadian konyol: ‘Di satu tengah malam yang lain, dari kejauhan lamat-lamat aku seperti melihat sebuah cahaya yang daya pendarnya semakin lama semakin nyata. Semakin ke sini mereka semakin terlihat warna-warni. Aku antusias. Aku semakin mengawaskan mata dan telinga. Semakin kutegakkan punggungku. Semakin kuat daya jemari kaki telanjangku mencengkeram lantai. Ah, akhirnya setelah sekian lama! begitu pikirku. Namun eh, ketika semakin mendekat lagi kenapa itu bentuknya lonjong, bukannya pipih seperti piring? Huff, ternyata itu hanyalah balon udara. Kecewa… ‘
Tapi meskipun mereka tak kunjung datang berkunjung, aku selalu berusaha berbaik sangka kepada mereka: ‘Mungkin di sana para Alien sedang sibuk memanen durian.’

Aku suka Alien. Aku merasa sedikit mewarisi gen mereka. Aku selalu nyaman dengan kesendirian dan tak pernah bosan melakukan kegiatan yang melulu sama. Kata temanku itu adalah salah satu indikasi dari adanya gen Alienasi di tubuhku. Karena mungkin saja di kehidupan terdahulu, aku adalah makhluk luar angkasa yang ditinggal kabur oleh keluarga Aliennya, entah karena aku nakal atau apa. Jadi aku tak pernah bosan berharap suatu saat nanti keluarga Alienku akan datang menjemputku. Sssttt… bukankah itu mengasyikkan? aku akan bisa bertamasya ke angkasa sana tanpa perlu mengeluarkan uang bermilyar-milyar rupiah, cukup dengan sebentuk piring besar yang bisa terbang saja.

JADI, malam ini pun aku tak berhenti berharap. Semoga ada UFO yang mendarat di dalam kamarku yang gelap. Yang [semoga] akan membawaku ‘pulang’ ke rumah di angkasa yang jauh di luar sana. Dan aku tak perlu merasa kikuk lagi menghadapi hiruk pikuk manusia bumi.

Mungkin lagu pengantar tidur ini bisa memancing mereka untuk datang bertandang:

Seeing you on the wall in my room,
it's so close to how I want
I never found the same as you
Listen you in my house on though
you're so gentle I try
I lie you lie

My friends told me stories of you
driving wizards up and down
I never seen the same again
In vain, like it was yours

far away, like you never meant to say,
I've got to stay
I can see a worlds
I can see the worlds
that belong to you

I don't need those words
I don't need those words say Sonic Youth...
Take me in, in such way
take it all until the grace

don't know why
don't know why
don't know why
don't know why

Seeing you on the wall in my room,
it's so close to how I want
I never found... I never found... I never found...

*BLONDE REDHEAD – U.F.O


Minggu, 10 Februari 2013

MONSTER



Sekelompok monster hijau menginvasi kota. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja jalan-jalan kota sudah menghijau. Malam bukan lagi abu-abu, yang ada hanya hijau, hijau dan hijau. Oh, tidak! mereka semakin mendekat. Sosok mereka semakin membesar di pupilku. Warna hijau itu semakin menyilaukan. Aku takut. Ibu, engkau dimana…
Eh, tapi tunggu dulu! sepertinya ada yang aneh, wajah mereka tidak seseram seperti apa yang digambarkan televisi-televisi. Terlalu lucu untuk di sebut monster. Sekujur tubuh mereka ditumbuhi bulu lebat yang halus dan berkilau sekali. Apakah monster juga pergi ke salon? Dan mata mereka yang bulat juga sungguh menggemaskan. Mereka tampak seperti boneka raksasa. Apakah mereka benar-benar monster? Tidak salah lagi! mereka benar-benar monster. Hampir saja lagi-lagi aku tertipu penampilan. Ternyata mereka bersenjata. Mereka membawa selang-selang besar yang menyemburkan es berton-ton liter banyaknya. Sekarang gedung-gedung menjulang tinggi sudah tak tampak lagi, semua berubah bentuk menjadi gunung-gunung es. Kota ini tak ubahnya antartika. Dingin sekali. Brrr… sungguh tak tertahankan lagi. Dimana jaket tebal kesayanganku! Di mana Ibuku! Dimana orang-orang! Kenapa hanya ada aku di lautan es ini! Dimana semuanyaaaaaaa!!!
Monster-monster itu semakin mendekat. Derap langkah mereka semakin jelas, semakin seirama dengan detak debar jantungku. Deg-deg-deg… Aku ingin berteriak tapi lidahku kelu. Bagaimana ini? Tolong aku, Tuhan….

“Nak, ayo bangun sayang,” lamat-lamat kudengar suara lembut yang begitu familiar di telingaku. Juga usapan lembut di punggungku ini, sepertinya aku sangat mengenalinya.

“Ayo bangun, sayang. Sudah siang,” suara itu semakin jelas. Aku ingat! itu suara Ibuku dan tangan itu juga adalah tangan Ibuku. Otakku sudah bangun sedari tadi, tapi mataku bukanlah mata anak kecil yang melotot antusias dan berbinar cemerlang dengan permen lollipop ditangan kanannya. Monster-monster itu sepertinya belum rela melepaskanku.

“Ayo nak bangun, buka matamu. Matahari sudah hampir di atas kepala!” gawat!  intonasi suara Ibu mulai meninggi.

Cepat buka matamu bodoh! umpatku dalam hati. Monster-monster itu masih duduk di kelopak mataku. Aku sekuat tenaga melawan mereka. Sepertinya perlawananku berhasil, warna mereka mulai memudar. Bukan lagi hijau menyala, kini sudah bercampur dengan warna putih yang mulai mendominasi. Samar-samar aku melihat seraut wajah yang berbelas tahun sudah melekat erat di kepalaku. Wajah dengan senyuman yang cantik dan begitu hangat.

“Ibu…” gumamku berlahan. Kesadaranku sudah kembali ke dunia nyata. Bergegas kupaksakan tubuhku bangun, lantas kupeluk Ibuku erat-erat.

“Ibu, aku takut,” bisikku lirih.

“Ada apa sayang, kamu mimpi buruk lagi?” ujar Ibuku sambil melonggarkan sedikit pelukanku, lantas di usapnya keringat yang membasahi keningku.

“Iya. Seperti biasanya, Ibu.”

“Inilah akibatnya kalau terlalu banyak bergadang. Memang sudah saatnya televisi itu dijual.” Sepertinya ceramah pagi sudah dimulai, meski begitu suara ibu masih tetap merdu di telingaku.

“Hmm… iya,” aku menjawab dengan  gumaman.

“Cepat mandi sana. Siang ini kamu ada kuliah, bukan?” suruh Ibuku dengan tangannya yang masih sibuk membelai rambutku.

Aku hanya mengangguk. Setelah hening sejenak diantara kami berdua, aku lantas beranjak ke kamar mandi. Pagi ini aku mandi dengan monster-monster hijau yang bertengger di kepalaku. Suara air beradu dengan suara mereka yang bercericit seperti  tikus. Berisik sekali!

* * * 

“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya kekasihku saat kami duduk berdua di kantin kampus.
 
“Aku baik-baik saja, sayang,” jawabku sambil tersenyum.

“Tidak, kamu tidak baik-baik saja. Sedari tadi aku perhatikan kamu banyak melamun.’’ Aku hanya diam saja, sibuk dengan suara-suara di kepalaku.

“Apakah mimpi buruk itu lagi?” tanyanya lagi, kali ini tangannya sembari menggenggam tanganku. Lagi-lagi aku diam. Karena menurutnya diam itu berarti iya, jadi aku diam saja.

“Sekarang monster apa lagi yang mampir di mimpimu?” kekasihku sudah mulai seperti kran bocor saja, meluap kemana-mana.

“Kali ini aku bermimpi tentang monster hijau. Semalam mereka menginvasi kota, membuat seluruh kota berselimut es. Anehnya di sana tidak ada siapa-siapa, hanya aku.  Tapi sayangnya monster di mimpiku itu sangat lucu, hingga awalnya membuatku sulit memilah antara takut atau gemas. Meski pada akhirnya aku harus takut. Karena monster itu seharusnya menakutkan bukan? televisi dan film mengajarkaan itu,” jelasku panjang lebar. Sepertinya tampungan air di kepalaku sudah mulai tumpah, membanjiri seluruh isi kantin. Tapi kenapa hanya aku yang basah?

“Hahaha. Mimpi-mimpimu selalu aneh ya, persis seperti orangnya.” Inilah yang kusuka dari kekasihku, ia tak pernah menganggapku sinting. Aku lebih suka dibilang aneh daripada gila, karena itu mengingatkanku pada sesuatu.

“Ya begitulah, aku juga heran kenapa mimpiku akhir-akhir ini selalu aneh dan cenderung absurd. Apakah aku perlu ke psikolog?” candaku sambil mengerlingkan mata kearahnya.

“Apakah mimpi-mimpimu itu sudah mulai mengganggumu? Kalau iya, kurasa tidak salah untuk dicoba, sayang,” ujarnya serius sambil mengelus rambutku.

“Ah, aku hanya bercanda kok. Toh ini hanya sekedar mimpi, tak akan berpengaruh pada kejiwaanku. Kata orang-orang mimpi itu bunga tidur, penghias mimpi. Yang namanya hiasan kadang tak berarti apa-apa kan?”

“Tapi, kalau kamu terus-terusan bermimpi seperti itu, cepat atau lambat hal itu akan meresahkan juga bukan?” dari sorot matanya aku melihat kekhawatiran yang entah berapa lama ia pendam sendiri.

“Tenang sayangku, kamu tidak usah khawatir. Cepat atau lambat monster-monster itu akan lenyap dari mimpi-mimpiku. Karena tak ada monster yang betah tinggal di satu tempat untuk  jangka waktu yang lama. Mereka adalah monster-monster petualang. Ketika telah bosan tinggal di kepalaku, mereka akan mencari kepala-kepala lain yang lebih menantang. Bukankah aku ini perempuan yang sangat membosankan? Hehehe.” 

“Siapa bilang! buktinya aku betah berlama-lama berada di dekatmu.” Kamu sangat gombal sayang, sahutku lekas sambil tersipu malu. Engkau semakin kuat meremas tanganku, semakin membuatku tak bisa berujar apa-apa. 

“Sudah sore, ayo kita pulang. Ibumu pasti sudah resah menunggumu,” engkau memecahkan keheningan sesaat lalu. Seraya menggenggam tanganku, kita beranjak dari tempat ini.

Sambil berjalan menuju pulang engkau membisikkan sesuatu di telingaku, “tahukah kamu, kadang aku sangat cemburu dengan monster-monster yang ada mimpimu itu. Kenapa harus mereka yang ada disana bukannya aku?” Lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk diam, rasanya pipiku sudah sepanas jalan aspal yang kami lalui ini. Dan saat kudongakkan kepala, tiba-tiba segalanya tampak begitu hijau. Rasa sejuk yang riang. Sepertinya monster-monster itu sedang berbaik hati sore ini.

* * *

Sudah larut malam. Seperti biasanya sebelum tidur aku sempatkan untuk duduk di depan tivi. Tanganku sibuk memencet-mencet tombol remote, memilah milih saluran yang cocok. Untung Ibuku sudah tidur dari tadi, kalau tidak beliau pasti sudah menghardik kelakuanku ini. Aah… tidak ada film yang bagus. Akhirnya memilih menyimak berita malam saja, lebih baik dari pada nonton sinetron pikirku. Berita apa yang sedang nge-tren saat ini? Sepertinya masih tentang bola itu bundar, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sehingga mungkin-mungkin saja kalau bola bisa ngomong politik. Dan mungkin-mungkin pula kalau sebuah bola bisa direkayasa demi sebuah kenyamanan kekuasaan. Rasa malu pun bisa digadaikan. Lalu di berita yang lain aku melihat sekelompok orang yang berdemontrasi sambil membawa keranda mayat di atas kepalanya. Keranda yang mereka siapkan untuk dirinya sendiri. Bah! berita-berita ini semakin membuat kantukku tak tertahankan lagi. Kutekan tombol off . Lantas kuseret paksa tubuhku ke kamar. Semoga tak ada lagi monster  malam ini…
 
* * *

Dari  tempat ini  terdengan riuh rendah suara-suara yang memekakkan telinga. Ternyata para monster sedang berpesta pora. Monster-monster itu berkepala bundar  menyerupai bola. Kaki mereka hanya ada satu dengan ukuran yang sangat besar sekali. Entah berapa ukuran sepatu yang sedang mereka pakai saat ini. Mencari di toko sepatu manapun rasanya tak bakalan ketemu. Sekarang mereka sibuk menendang-nendang sesuatu. Dari mulut mereka terdengar lengkingan tawa yang meninggalkan gema di belakang kepalaku. Tapi disela-sela tawa mereka rasa-rasanya aku seperti mendengar suara tangis yang memilukan. Membuat bulu kudukku merinding. Apakah itu? Kuberanikan diri untuk mendekati kerumunan itu. Aku menyusup diantara sela-sela kaki mereka. Hiiih… Aku melihat sebuah kepala manusia menggelinding kesana kemari. Berdarah darah dengan mata yang hampir lepas dan bentuk muka yang sudah tak karuan lagi. Milik siapakah kepala itu, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya? Kalau iya, dimana? Karena sepertinya aku kenal sekali raut wajah itu. Namun tiba-tiba sebelum insaf benar dengan segala tanya yang bertubi-tubi itu, tanpa aku sadari suara-suara di belakang punggungku mulai lindap dan menghilang. Kemana perginya monster-monster itu? apakah mereka sudah tak tertarik lagi padaku? Entahlah… samar-samar monster-monster itu berubah bentuk menjadi ayam jago.

* * *

“Rasanya aku tahu apa yang membuat monster-monster itu mampir di mimpiku,” kataku suatu siang kepada kekasihku.

“Apa itu?”

“Aku pikir televisi di ruang tamukulah penyebabnya. Semalam aku bermimpi monster berkepala bola yang mempunyai satu kaki sedang menyepak nyepak seonggok kepala manusia. Dan kamu tahu kepala siapa itu? ternyata itu kepala orang yang beritanya aku lihat di siaran berita tv semalam. Setelah kupikir-pikir monster-monster yang datang hampir setiap malam di mimpiku itu adalah hasil dari apa yang ku lihat di televisi. Aku membawa sisa-sisa gambar yang aku tonton di televisi ke atas kasur. Dan otakku mengolahnya dengan sebegitu kreatifnya, hingga terciptalah monster-monster itu,” antusias sekali aku menjelaskannya kepada kekasihku. Mungkin mataku berbinar-binar seperti kucing saat ini.

“Aku berencana menjual televisi itu,” tambahku.

“Kamu yakin? bagaimana dengan Ibumu?” ujar kekasihku.

“Ibuku lebih suka membaca buku daripada nonton tivi.”

“Baiklah kalau begitu, lakukan apa yang kamu rasa terbaik untukmu.”

“Terimakasih, sayang.” Kutatap matanya, dan di sana masih sama seperti saat pertama kali aku jatuh cinta pada lelaki ini.

* * *

“Nak, ayo tidur sayang. Sudah larut malam, matikan tivi-nya.”

“Aku ingin menunggu Bapak dulu, Ibu. Aku tidak bisa tidur kalau kita tidak nonton tivi bareng-bareng dulu. Seperti biasanya, Ibu…” Anak itu merajuk sementara matanya terus memelototi tayangan televisi yang ada di depannya. Tubuhnya semakin condong saja ke depan dengan jarak yang sudah tidak ideal lagi untuk sebuah kenyamanan menonton tivi.

“Bapakmu tak akan pulang, sayang.” Kali ini nada suara sang Ibu setengah berbisik, sepertinya ia takut orang-orang yang ada di tivi itu akan mendengarnya. 

Tapi bocah perempuan itu tak peduli, ia terus menunggu bapaknya di depan televisi. Tapi matanya tidak tertuju pada kotak bergambar dan bersuara itu. Sebenarnya ia sedang melihat sesuatu di dalam kepalanya. Sepertinya ada sebuah film yang sedang di putar di sana. Tapi dia tidak suka film itu, karena gambarnya tidak warna-warni seperti gambar di film yang biasa dia tonton di televisi. Tapi, dia berusaha mengikuti lakonnya. Ada potret keluaga bahagia disana: Bapak, Ibu dan seorang bocah perempuan. Mereka menghabiskan setiap malam di depan televisi. Mengobrolkan dan mendiskusikan apa saja di depan televisi. Televisi adalah malam-malam mereka. Meskipun sedang mati lampu mereka tetap ada di depan televisi. Hingga masa-masa sulit itu datang. Di mana si Bapak sudah mulai berubah, emosinya sudah tak setenang dulu lagi. Dia sudah tidak betah lagi menghabiskan sisa-sisa malam di depan televisi, dia lebih suka melakukannya di luar rumah. Suara dan perlakuannya pun tidak lagi selembut dulu. Tapi ada satu hal yang tidak berubah dari dirinya, dia masih melakukan segala sesuatu di depan televisi. Dia menampar dan memaki istrinya di depan televisi, di depan anak perempuannya yang sedang menonton tv. Anak itu menangis diam-diam di depan televisi, dan televisilah yang setia mengusap air matanya. Ia melihat banyak monster di televisi, tapi para monster itu tak sekejam Bapaknya. Sejak saat itu ia berteman dengan monster-monster. Sedangkan si Ibu begitu membenci televisi, sebisa mungkin dia tidak ingin berada di dekat kotak persegi itu. Hal itu mengingatkannya pada lelaki yang dulu begitu dibencinya, Bahkan ia tidak peduli  ketika suaminya meninggal di depan televisi. Dan pikir si anak, “para monster tidak suka bila ada yang lebih gila darinya, jadi mereka membunuh Bapak... “

* * *

Sekarang ada lelaki tua yang tinggal di kepalaku. Aku tak tahan dengan ocehannya! Hiiih… mulutnya lebih berlendir dari para monster hijau, membuatku sibuk dengan segala cara demi mengalihkan pandangan darinya. Dan ini benar-benar membuatku lelah dan kesal!

“Sayang, sepertinya aku akan membeli televisi itu lagi. Aku rindu monster-monsterku,” segera kututup telepon tanpa bersabar beberapa detik menunggu jawaban dari kekasihku.