Tampilkan postingan dengan label bermain kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bermain kata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Februari 2013

TIGA KATA YANG SERING TERBALIK ARTINYA


Ada tiga kata dalam bahasa Indonesia yang sering terbalik-balik artinya, yaitu acuh, geming, dan kasat[-mata]. Mungkin kita pernah mendengar atau membaca kalimat semacam ini, dalam lagu maupun ungkapan sehari-hari:

1. ”Telah kuberikan segalanya untukmu, tapi kau tetap acuh padaku.” [Yang dimaksud acuh  di sini adalah tidak peduli]
2. ”Meski terus dibujuk, ia tak bergeming sedikit pun.” [Di sini, bergeming berarti goyah atau bergerak]
3. ”Melukiskan Engkau/ yang kasatmata namun ada.” [Kasatmata di sini maksudnya adalah tidak tampak oleh mata]

Benarkah demikian? Bagaimana arti ketiga kata itu dalam kamus?
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2005) menjelaskan:
1. Acuh berarti peduli; mengindahkan. Mengacuhkan berarti memedulikan atau mengindahkan.
2. Geming atau bergeming artinya diam saja; tidak bergerak sedikit juga.
3. Kasatmata berarti dapat dilihat; nyata; konkret; maujud.

Terang bahwa pemakaian sebagian orang atau kalangan atas ketiga kata tersebut kerap berkebalikan dengan pengertian asli kata itu dalam kamus. Tapi orang yang tahu tidak akan begitu.







Sumber: bermenschool.wordpress.com

Selasa, 04 Desember 2012

SUDAH LAMA MATI


Aku sengaja membunuh lidah
Mengkebaskan hati
Membebalkan batang otak
Aku hanyalah jasad yang bernafas
Yang tengah malamnya memanen gelisah di ujung bantal
Yang siang harinya memutilasi keringat agar tak sampai menjadi asin air mata
Berjuang setiap hari menahan kelumpuhan pada segala rasa
Memaksa menelan apa-apa yang mencekik tenggorokan
Disini...
Aku hampir tak bisa bernafas

Harapan bukanlah di sini
Ia telah larut bersama buih bekas cucian kemarin
Kebahagiaan telah memutilasi dirinya sendiri
Aku melihat bayangannya menjauh jatuh,
pada tabung kaca membakar gelak tawa menjadi abu yang kelabu
senyum bukanlah nama tengahku
Antusias bukanlah konsumsi sehari-hari
Tenanglah...
Aku sudah terbiasa terlihat tenang-tenang saja
Dan pelan-pelan ini akan meremukkan tulang belulangku
Menjadi getir dan getas
Serupa daun kering yang hancur sekali injak

Ini bukanlah hidup
Hidup tak seharusnya begini
Siapa peduli...
Aku sudah lama mati
Kibarkanlah bendera kuningnya
Buatkan nisan sebagai penanda aku pernah ada


Jumat, 30 November 2012

ADA PERAYAAN DI RUANG TENGAH


 gambar diambil dari sini


Ada perayaan di bohlam ruang tengah
Segerombolan lalat membuat derau pada malam yang parau
Meludah pada tepian bulan yang wajahnya tinggal separo
Jangan tolol!
Udara terlalu kering untuk mengusap bulir-bulir kecemasan,
yang jasadnya menguap di trotoar dekat lampu merah
kau pikir ini malam punya siapa?!
Merenggut dan mengkerut di pojokan bertelanjang kaki,
mau kau jual berapa rupiah sebuah simpati
Kau pikir ini malam mau kemana?!
Mengendap pada secawan anggur merah dari kebun sendiri,
mengelindan pada mimpi yang lupa jalan pulang
Lupa...
Memaksa lupa sebongkah kepala yang telah patah tulang lehernya
Lupa betapa luka, itulah penawarnya

Ada perayaan di bohlam ruang tengah
Para cicak saling bercumbu di tengah sapa perjalanan
Birahi memberi energi menggontong berbondong sekeping gula,
dari toples yang pinggirannya sedikit terbuka
Aroma manis menguar hingga ke jaring laba-laba di pojokan kamar
Lantas si tuan laba-laba mulai gelisah sendi-sendi tubuhnya
“Kontemplasi kali ini tak mencapai nirwana.”

Ada detak di tembok yang tak teraba
Mengakar serupa rambut kusut yang ujungnya bercabang
Setiap malam mencuri omongan dari mulut-mulut gelisah
Kemudian membisikkannya pada pucuk daun-daun tajam
Mengiris desau para penghuni hutan
Yang keluh kesahnya tak pernah sampai ke utara
“apakah harus kubuatkan balon gas dari remah cerobong asap milik tetangga sebelah?”
Sela burung hantu membulatkan matanya
Sekelibatan ia berfikir, mungkin lumayan juga bila merangkai rangkanya dari tulang belulang mayat yang terbengkalai
Lagian ia sudah mulai bosan dengan aroma yang tak lagi menyegarkan ini
Ayolah, ia benci keluh kesah!

Jarum pendek hampir mendetak di angka duabelas
Dan anggur ini belum habis tiga gelas
Tak ingin teman
Apalagi sepasang kenangan
Apakah malam memang sudah seharusnya temaram?
Membuih mulut merapal pada sumpah serapah
Jangan berharap, sepatu kaca tak akan melayang kemari
Atau apel merah beracun yang meneteskan liur?
Ha-ha-ha...
Siapa yang tak suka rangkaian abjad b-e-r-a-c-u-n
Menebarkan teror sekaligus hasrat yang tak tertanggungkan
Apakah terpuaskan?
Apakah cukup sekali teguk?

Ada perayaan di bohlam ruang tengah
Kursi berjejer merapat di sekitar pendar cahaya yang memerihkan kelenjar mata
Menjadi masokis agar menjadi senang
Toh, lebih baik buta karena serbuan agresif berlapis juta warna cahaya daripada terkubur dalam selangkangan kelam
Ayolah, malam tak seharusnya suram
Mari rayakan dalam kolam anggur memabukkan
Menjadi senang tidaklah dosa kan, tuan?


BERMAIN PERAN


Membakar tenggorokan dengan bergelas-gelas cairan bening
Mata mengunang pada kepala yang memancarkan gelombang tak berpola
Mengapung pada lamunan yang tak berkenan
Memburai pada sebuah peluh yang menggenang di pelupuk mata
Lantas merutuki kenyataan yang tak semanis gula jawa
Apakah harus pura-pura merasa lega atau tak pernah ada?
Pada apa-apa yang ternyata bukan iklan pariwara ataupun sinetron beratus episode belaka
Ah, tapi aku ini bukanlah pemain watak yang pandai main peran
Ini seperti goresan luka yang ditaburi garam
Bagaimana mungkin bisa berpura-pura tidak perih?
Lihatlah ringisan ini, sayang

Ada serigala duduk manis di hadapan
Dia menggeram
Kemudian mengaum
Tanpa rasa malu menampakkan gerahamnya yang penuh lubang berbelatung mengamis darah
Keningku mengernyit
Bulan purnama sudah berlalu lima malam yang lalu
Apakah kunang-kunang menyesatkannya ke sini?
Sungguh-sungguh tak berselera tinggi
Ini malam terlalu pagi untuk menepi
Pun aku bukanlah teman yang rakus untuk berbagi
Gerhana tak akan terjadi di sini,
ini terlalu pagi

Huh,
mengapa belum mengawang tinggi-tinggi
Mari kita ulangi,
satu tegukan lagi