Tampilkan postingan dengan label sesuka saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sesuka saya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2013

SILAHKAN. TERSERAH. APALAH


Ya ya, tak usah melotot seperti itu, saya tahu kalau saya ini sangat jauh dari lovable. Iyes, saya sadar kalau saya ini cenderung mudah dibenci. Tidak mengacuhkan dan tidak diacuhkan adalah hal yang biasa bagi saya, jadi ya tidak heran kalau ada saja yang sebel sama saya. Lha wong saya juga tidak berusaha keras agar semua orang suka sama saya kok. Saya bukan orang yang talk-active, saya pasif kalau masalah omongan. Prinsip saya, biarkan tindakan yang bicara – mereka mau ngomong apa kek, peduli amat.

Saya sadar, mereka gampang sebel sama saya karena saya ini bukan partner yang asyik buat bergosip alias bergunjing. Iya, karena saya paling males kalau disuruh ngomongin orang, diri sendiri saja belum bener mau sok-sokan ngomongin orang lain, plis dong deh! Saya tidak antusias kalau diajak mencela orang. Misalnya saat melihat orang lain yang – padahal – sudah cantik penampilannya, masih saja ada hal remeh temeh yang dicela: yang badannya agak bungkuk-lah, kaki tidak simetris-lah, hidung mancung tapi sedikit bengkok-lah, ya ampun, mata mereka jeli amat [yang padahal di mata saya semuanya itu sudah baik-baik saja dan oke-oke saja]. Saya merasa waktu saya terlalu pendek kalau hanya dihabiskan untuk mengamat-ngamati penampilan/fisik orang lain, mending juga ngupil!
Saya tidak lovable, karena kadang saya ini tiba-tiba bisa bersikap autis dan apatis. Tiba-tiba sangat berpusat pada diri sendiri daaaan saya sangat menyukai kesendirian, me-time. Saya benar-benar butuh menyepi tanpa memperdulikan orang lain. Saya adalah tipikal orang yang bisa tiba-tiba menghilang dari peredaran tanpa pengumuman terlebih dahulu – ya siapalah saya – get lost begitu saja kemana saja. Ya, silahkan acungi saya telunjuk dan kutuk saya!  

Ya ya, saya tak ambisius ingin membuat orang lain untuk loyal menyukai dan memuja saya. Saya sedang tidak dalam misi mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin. Saya tahu, bahwa semua orang butuh teman. Tapi saya pengen punya teman yang benar-benar teruji secara klinis – halah! Oke, saya butuh teman yang secara fisik tak harus melulu berada di samping saya. Teman yang tak melulu setiap hari harus ngobrol untuk tetap bisa keep in touch. Saya hanya butuh teman yang tidak terpaksa, yang tak sungkan saling berbagi cerita kapanpun itu diperlukan meski kita punya senggang yang panjang tanpa kabar berita. Kita tak canggung untuk kapan-kapan saja saling bertukar salam. Dimanapun-kapanpun-kalau-ingin-ya-silahkan-hubungi-saja. Iya, berteman karena tak terpaksa, berteman sebebas mungkin tanpa merasa terbatas ruang dan waktu. Sebagai jiwa yang bebas, untuk apa mengurung pada keterikatan yang membuat kita agar terlihat intim namun terintimidasi.
JADI [kamu,temanku] silahkan membenci sesukamu tapi jangan menyimpan benci. Meludahlah sesukamu tapi jangan lupa seka bibirmu dan pasang senyum yang lebih lebar lagi. Bebaslah. Bebas membenci lantas memeluk erat, menyumpah lantas mencium bertubi-tubi dengan buas, berserapah lantas merangkulkan lengan hingga leher terasa sakit untuk ditolehkan. Silahkan… nyamankan dirimu, anggap saja rumah sendiri.

DAN satu lagi, saya pun tak heran dengan teman yang gampang berpaling [karena apapun itu mereka pasti punya alasan tersendiri] atau mempunyai teman yang gampang melupakan karena [mungkin] menganggap saya sudah tidak potensial lagi untuknya. Ya kalau saya sih sebisa mungkin dibawa asik saja, karena kalau masalah lupa melupa saya pun jagonya. Jadi, ya santai saja. Makanya saya sekarang ini kalau berteman yang biasa-biasa saja, karena saya tahu cepat atau lambat satu persatu mereka akan meninggalkan saya, sendirian. Saya tak takut sendirian dan kesepian, toh saat terlahir dulu dan mati nanti saya menangis dan bakalan digerogoti cacing sendirian – itu bukanlah horor bagi saya. Hitung-hitung hal itu sebagai persiapan sebelum ditinggalkan, biar tidak terlalu meringis menahan tangis. Mungkin cara pandang saya yang sekarang ini jauh berbeda dengan cara berteman saya yang dulu, saya sangat loyal dan royal dengan semua teman tanpa pandang bulu. Hingga ada yang memanfaatkan kenaifan saya itu, hingganya lagi membuat saya terlihat tolol. Tapi saya percaya masih ada teman yang baik dan tulus, tapi kadang saya merasa sedikit kecewa juga dengan masa-masa Young and stupid itu. Yay, dan sampai sekarang pun saya masih merasa muda dan bodoh! ngahahaha…

Ya sudahlah ya, saya memang ‘selfish and unkind’. Dan saya tak ambil pusing, saya kan hateable tho yaaa… :]


Senin, 04 Februari 2013

MULUT OH MULUT

 
Suatu hari di dalam bis antar kota terjadilah adegan seperti ini:
Seorang ibu usia awal empat puluhan yang sebelumnya duduk di deretan kursi depan pergi menuju barisan kursi paling belakang. Itu setelah ia menyadari keberadaan seorang kenalan yang sepertinya masih tetangga rumah. Si ibu kenalan ini usianya kira-kira sudah paruh baya tapi masih terlihat enerjik dan kelihatan sekali kalau dia adalah orang yang cukup disegani oleh ibu usia awal empat puluhan itu. Selanjutnya untuk menghemat penggunaan kata, kita sebut saja ibu awal empat puluhan sebagai ibu Bakung dan ibu paruh baya sebagai ibu Tulip.
Adegan berikutnya adalah setelah dalam baris kursi yang sama, si ibu Bakung tanpa melakukan pemanasan terlebih dulu langsung bermanuver mendominasi pembicaraan yang panjang lebar, entah apa isi pembicaraannya yang jelas si ibu Bakung ini sangat menikmati perannya. Dan kasihan buat ibu Tulip karena sepertinya ia adalah tipe ‘tak-banyak-bicara’ yang hanya bisa menimpali dengan anggukan kepala dan respon bahasa yang seperlunya saja. Si ibu Tulip sangat tersiksa dan bosan. Ini terlihat dari mimik mukanya yang menampakkan ekspresi datar dan cenderung dipaksakan, seakan wajah murungnya itu bicara; “Hei, tak bisakah kau diam barang sejenak. Aku sangat lelah mendengar ocehanmu. Lebih lelah dari melakukan perjalanan panjang yang baru kulalui…”
Haha, sayang sekali buat si ibu Tulip – sepertinya perjalanannya akan terasa lebih panjang, karena si ibu Bakung bukanlah tipe yang pandai membaca ekspresi, bukan pula tipikal yang pintar membaca situasi. Dan sepertinya lagi, sejak dari lahir dia ditakdirkan mewarisi tambahan tiga mulut yang tak kelihatan dan telinganya hanya sekedar aksesoris. Lihatlah gesturnya yang semakin condong saja ke arah ibu Tulip. Tak ubahnya harimau betina yang siap-siap memangsa korban buruannya. Huhu, kasihan sekali nasib ibu Tulip. 

Hoho, bukankah sangat menyebalkan ketika kita harus mengobrol dengan orang yang terlalu banyak bicara? Kamu akan merasa tersesat di neraka paling jahanam bila hal itu dibarengi dengan penyakit sok tahu yang akut – orang yang berambisi mendominasi obrolan, yang kosakata ‘mendengarkan’ sudah dia hapus menggunakan tipe-x tebal-tebal. Oh, dia merasa seluruh seluruh dunia akan mengarahkan pandangan kepadanya bila semua himpunan kata dalam kamus dia semburkan ke arah lawan bicaranya. Wahai Dewa Kata, ingin rasanya saya menendang pantat mereka hingga babak bundas atau menitipkan mereka pada awan kinton saja. Biar dijatuhkan tubuh mereka ke gedung parlemen sana, agar dapat lawan tanding yang sepadan. Ngoceh sana-sini demi kepuasan sendiri. Onani oral. 

Benar, omongan mereka kebanyakan memang kadang tak ada esensinya. Hanya sekedar basa-basi untuk membuat mulut membusa. Hingga membuat telinga lawan bicaranya berdenging-denging sampai kebelet kencing.
Kadang saya merasa heran dengan mereka, darimana bisa mendapatkan stok kata yang sebanyak itu. Yang tanpa perlu berfikir, mengalir lancar bagai pusaran angin tak berpenghalang menghancurkan apa-apa yang dilaluinya. Mereka benar-benar berbahaya! 

Iya. Kata mereka saya pendiam. Itu karena saya [kadang] mengalami kondisi: lemah-mengkomunikasikan-sesuatu-secara-verbal [ini pada kondisi, orang dan lingkungan tertentu]. Saya akui, saya adalah jenis manusia yang canggung dan kikuk. Bahkan menghibur nenek yang baru kehilangan mbah kakung saja, saya kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menghibur agar beliau menghentikan isak tangisnya. Saya hanya bisa melakukan dengan bahasa tubuh: memeluk, mengelus tangan dan rambut, mencium kening serta mengelus punggung. Benar, saya sangat bermasalah dengan mengkomunikasikan perasaan.
Saya pasif dengan omongan yang terlalu terpusat pada diri sendiri. Juga, tidak terlalu semangat membicarakan urusan orang lain. Karena kamu tahu? Hal itu akan membuatmu kelihatan seperti komentator bola penderita obsesif-kompulsif, alih-alih terdengar sebagai lawan bicara yang asyik. 

Ketika saya menghadapi orang-orang yang terlalu banyak cakap seperti itu, yang bisa saya lakukan hanyalah: mengangguk-anggukkan kepala, sesekali menggeleng, mengeluarkan suara oh, ya, he’em, benarkah? dan lain sebagainya dan lain seterusnya, yang pastinya saya lakukan dengan setengah hati. Bisa dibilang saya adalah pendengar yang lumayan baik. Tapi kalau disuruh mendengarkan omongan yang sudah mulai terdengar seperti narasi berita gosip ala infotainment, ya saya capek juga.
Pernah saya mencoba memberi tanda-tanda terselubung pada orang-orang jenis ini, seperti: menguap, mengetuk-ngetukkan jemari tangan, meregangkan tangan seperti orang habis bangun tidur, melulu mengalihkan pandangan darinya. Tapi, kalau dasarnya tidak peka ya percuma. Dan malangnya, saya adalah tipe sungkanan. Jadi, sambil merutuk dalam hati ya saya biarkan saja. Namun dalam hati tak berhenti berdoa: ‘Semoga ada komet baik hati yang menabrakkan diri ke bumi!’ 

Duh, saya lupa, sebenarnya saya punya jurus yang ampuh untuk menghadapi mereka, yakni ketika mereka sibuk bercuap-cuap saya pun tak mau kalah sibuk membangun dunia sendiri di kepala. Wah, saya lumayanlah kalau sudah menyangkut masalah-masalah kayak gini. Multitasking sambil nungging kalau istilah saya, haha…
Hei kamu, jangan bongkar rahasia saya ya? Biar akting saya semakin terasah meyakinkan. Ya daripada mendengarkan mereka berbuih-buih, kasihan dong telinga dan batang otak saya. 

Kalau mereka mau mengerti, sebenarnya dengan banyak bicara seperti itu tak serta merta membuat mereka tampak pintar dan cool. Malah mereka kelihatan insecure dan tidak percaya diri. Untuk menutupinya mereka bermain akrobat kata-kata. Kamu tahu? Orang yang cerdas biasanya tak terlalu mengobral omongan yang meluber kemana-mana. Mereka cerdas memilih saat dan isi omongan yang pas dengan kondisi lawan bicaranya. Tak menggurui dan merasa tahu sendiri, dan juga mereka adalah pendengar yang baik. Dari luar mereka akan tampak biasa saja, karena mereka tak ambisius dalam mempertontonkan kepintaran sendiri. Pun kalau kamu tidak berhati-hati dengan mereka, kamu – para lisaner – akan tampak bodoh secara diam-diam di mata mereka. Mereka tak akan menertawakanmu secara frontal, mereka hanya akan menandaimu.







Ps: Sadar gak sih? Sebenarnya saya juga sangat cerewet lho, namun dalam konteks non verbal. Tuh lihat, banyak  tulisan saya yang berbusa-busa di blog ini. Hehehe...


Senin, 28 Januari 2013

BEKAS


Apakah kamu punya bekas luka? Luka karena kecerobohan sendiri atau karena suatu hal yang tak bisa kamu hindari? Apakah luka itu sangat mengganggu penampilanmu? Apakah orang-orang sibuk mengolokmu karena hal itu? Dan kamu merasa semakin jauh dari standar cantik yang ada di iklan-iklan tivi, apakah seperti itu?
 
Hufh, saya mulai bosan banyak bertanya. Membuat saya terlihat seperti: wartawan-infotainment-yang-mau-tahu-segalanya. Saya tahu rasanya ditanya-tanya itu seperti apa, dan itu tidaklah menyenangkan - semoga kamu tidak melihat saya sebagai suatu hal yang menyebalkan.
Oke, kembali ke luka-luka itu. Kalau kamu merasa seperti di atas, menganggukkan kepala dengan semua tanya saya tersebut dan lantas di pikiranmu terbersit keinginan untuk melakukan segala cara menghilangkannya, mulai dari salep pemburam bekas luka sampai operasi kecantikan untuk melibas habisnya sampai mulus, itu HAK kamu! Lha wong itu uang-uangmu dan situ mampu ya sah dan silahkan saja. Saya bukan polisi moral yang harus bilang: ‘Hei, semua perempuan itu cantik lho. Yang penting kan inner beauty-nya.’ Ya elah, kalau yang ngomong kayak mbak Dian Sastro ya sama dengan bohong besar kali. Lha apa beliaunya pernah merasa ‘jelek’ gitu? Lha mindset setiap orang kan beda-beda, mana tahan juga bila setiap hari dibombardir dengan iklan-iklan brengsek yang membuat perempuan semakin tak ubahnya barang yang dipajang di etalase toko. Hanya sebagai pemuas daya visual semata, saudara-saudara.
Dan ya itulah kampretnya, kita ini ya mau-mau aja, kagak keberatan malah. Kita dijadikan objek penghasil uang, dan kita dengan nyamannya duduk adem ayem di atas empuknya sofa sambil ngemil remah-remah kertas dari majalah fashion dan life-style yang baru beli kemarin. Ya begitulah kita, lalu mau apa? Ini zaman visual, mau tak mau standar citra-lah yang berkuasa. Mari beri peluk dan cium untuk yang-mulia-televisi-tercinta. 

Eh, kenapa itu preambule-nya panjang bener, mau kemana dan mau naik apa kita? Hehe, jadi begini, sebenarnya saya mau ngomongin tentang bekas luka dan bekas lainnya. Bekas luka yang saya maksud di sini bukan bekas luka yang masif, yang biasa-biasa saja sebenarnya. Salahkan hormon ketidakpedulian saya! Dari dulu saya cuek-cuek saja kalau kulit saya punya sayat panjang karena kecerobohan sendiri, lebih tepatnya kelemahan tubuh saya dalam memindai rute jalan yang benar. Ini secara harfiah lho, seperti kena goresan pinggir meja yang konturnya tidak rata, kena duri-duri hasil blusukan di kebun belakang rumah, kena cipratan minyak goreng yang panas saat membuat telur mata sapi, tergores pisau saat mengupas kentang dan lain sebagainya. Beruntunglah, saya punya kulit yang lumayan bisa menahan rasa sakit. jadi kalau terkena kejadian macam itu, ya saya biarkan saja. Saya gak panik cari-cari obat penghilang nyeri atau plester penutup luka. Saya santai saja. Kan saya punya obat alami yang bisa saya hasilkan sendiri. Ya, saya punya kelenjar ludah yang ampuh. Tinggal lulurkan pada lukanya dan voila! Rasa nyerinya bakalan berkurang [terdengar jorok bangget yah? Hehe]. Lalu bekas lukanya? Ah, biarkan itu jadi tugas tuhan si maha tahu saja. Dan kalaupun tak akan hilang, anggap saja itu sebagai tanda pengingat – tatto alami. Kebetulan daya ingat saya lemah sekali. 

Seperti halnya noda di baju: kena cipratan sambal dan kecap saat menyantap bakso, merah-merah hasil berkelahi dengan teman di kaos yang sekarang sudah belel sekali, bekas ingus habis menangis sesenggukan karena hal sepele di lengan baju, noda warna merah cat saat membuat mural yang tak sengaja terciprat di celana, mimisan yang meluncur deras di bagian depan kaos yang warnanya sekarang sudah tidak merah lagi – eh, apakah saya terlalu sering menyebut warna merah? Ah, dasar alien dari planet merah!
Saya tak juga berusaha untuk menghapusnya dengan merendamnya memakai deterjen dengan daya luntur noda yang dahsyat. Saya sangat suka memandanginya, seperti melihat sebuah cerita. Seperti noda kopi di kaos yang sekarang saya pakai, ini karena ulah seorang teman yang iseng mendorong saya saat saya akan memonyongkan bibir ke mulut cangkir berisi kopi yang belum habis separo. Uh, dasar! Hei teman, apa kabar? 

Oh, saya memang menikmatinya, tapi apa kabar dengan ibu saya yang selalu cerewet dengan segala kecuekan saya ini? Wahai ibu, anakmu ini punya alasan yang sahih lho. Tapi beliaunya pasti punya seribu satu alasan untuk menyerang balik – ugh, seluruh ibu di jagat raya bakalan begitu.
Ayo itu bajunya dicuci yang bersih, kasihan bajunya kena noda kotor kayak gitu – Itu kenapa jerawat di pipi di pelihara terus, makanya rajin-rajin bersihin muka – Itu kenapa tangan kok dibiarin melepuh, cepet diolesin salep sana – Dan blablabla lainnya, saudara.
Dan saya-pun hanya bisa menjawab ya, ya dan ya. Namun sayangnya itu hanya sebatas wacana. He-he-he… 

DAN, entah ini parah atau tidak. Saya punya bekas jahitan karena kecelakaan di dahi sebelah kiri, lumayan kelihatan lho. Tapi saya sendiri tak pernah merasa melihatnya. Yang lantas dengan masa bodohnya, saya menguncir kuda rambut sebahu saya ini. Kening pun sukses terekspos secara vulgarnya. Sedang tidak peduli dengan poni di dahi, karena menurut saya ponytail tanpa poni itu seksi. Oh pohon durian, apakah saya ini perempuan? Huwahahaha…. >.<


P[re] M[enstrual] S[yndrome]


PMS adalah monster merah berlendir yang saban sebulan sekali rajin bertandang tanpa diundang. Ia datang tanpa sekeranjang buah tangan, apalagi berharap menyulam kenangan. Di kepalanya ada antena berbentuk cula, yang semakin membuat jahat bentuk mukanya. Rambut berapinya panjang menyentuh tanah, membakar tanah. Tidak ada senjata di kedua tangannya. Tapi jangan tanya bentuk jemarinya, kalau kamu pernah melihat duri landak, seperti itulah kurang lebihnya. Jumlah jarinya bukan lagi lima, aku kira mereka lebih dari seratus sekian nomina. Ia juga punya kebiasaan bertelanjang kaki, biar ia bisa merasakan gairah api dari perut bumi. Dan seperti kebanyakan monster seram lainnya, ia punya ekor panjang yang tumbuh di antara belahan pantatnya. Saking panjangnya, kamu bisa melilitkannya di dahan berotot besar untuk dijadikan ayunan. Tapi itu jauh panggang dari api, karena ia tidak suka teman yang mengalun, apalagi bersenang-senang mengejar angin dalam gerakan berayun.

Ia adalah monster. Ia adalah pemangsa. Tak ada kata ‘teman’ dalam kamus tebalnya. Teman adalah kondisi sementara dari apa yang disebutnya: calon-korban-selanjutnya. JADI, jangan coba-coba sok akrab dengannya. Itu sama halnya dengan memasukkan kepala tanpa prasangka ke dalam mulut singa. Dan – tentu saja – itu tak ada keren-kerennya.
Monster tetaplah monster. Sang pemangsa yang ditakdirkan membuat memar luka. 

PMS adalah monster merah berlendir yang suka marah-marah hingga pipinya memerah. Ia suka mengerang dengan amat garang. Ia suka mengeluh sampai berpeluh. Ia suka menggerutu hingga gigi geliginya saling beradu. Ia suka super sensitif bila disentil sedikit. Ia suka menyampah dan menyumpah tanpa peduli siapa yang salah. Ia suka menunujuk telunjuk tanpa mau menundukkan tengkuk.
Monster merah adalah monster yang sinis. Monster merah adalah monster yang bengis. 

PMS adalah monster merah berlendir yang beberapa hari dalam sebulan setia duduk di pangkuan. Ia adalah perwakilan. Memegang kendali penuh atas kuasa diriku. Ia adalah pembuat luka. Lidahnya setajam satu helai rambut dibelah tujuh. Yang tanpa rasa dan tanpa nyana memenggal ulu hati siapa saja yang ada di hadapan, sekali tebas!
Aku tak kuasa melawan. Otakku beku, lidahku kelu. Hatiku membatu. Ia mengikat tanganku ke belakang, dengan simpul mati yang perihnya sampai hati. Ia menekuk paksa lututku, membentur keras ubin dingin – bunyinya terdengar seperti retakan gempa berkekuatan diatas 8.0 skala richter. Menarik ke belakang rambutku sekencang-kencangnya, hingga urat leherku menegang kencang, nyaris putus! LANTAS, ia memasangkan rantai baja ke pangkal leherku, dingin yang beku. Yang kemudian dengan angkuh hati menyeret-nyeretku kemana saja ia suka. Tertawa-tawa dengan jumawanya. Mendudukiku laksana singgasananya. Aku tak berdaya, aku tanpa kuasa. 

PMS adalah monster merah berlendir yang sesuka hatinya melukai perasaan apa-apa yang ada dihadapannya. Aku sedih melihatnya, tapi aku bisa apa? Aku hanyalah tawanan, yang tak punya daya memutar haluan. Ia menancapkan taring dan cakarnya ke tubuh teman, saudara dan orang-orang lainnya. Hingga kadang menembus sampai ke dasar hati. Membuatku tak enak hati. 

PMS adalah monster merah berlendir yang kelakuannya sering minus. Membuat mukaku cemberut dan berkerut. Kelakuannya sering kusesali. Diam-diam aku banyak berdoa dalam hati, semoga ia lekas pergi. Monster merah berlendir itu membuatku asing dengan diri sendiri. Seperti tersesat di tengah kota yang nama-nama jalannya susah di-eja. Aku tahu bukan diriku yang di dalam sana, tapi yang di luar sana tahu apa?
Aku jadi tampak jahat, seperti penyihir tua dengan tudung kepala hitamnya. Aku jadi sangat menyebalkan, seperti siaran berita televisi yang diputar berulang-ulang tanpa kenal bosan.
Aku inginnya setiap monster PMS itu datang bertandang, secara otomatis ada papan peringatan yang menancap di jidatku. Yang mana bunyinya seperti ini: ‘hati-hati, lagi galak!’ 

Sekarang ini monster merah berlendir sedang menguasaiku. Tak ada pilihan lain kecuali pasrah melihatnya bermain-main menggunakan tubuhku. Berasyik masyuk dengan ragaku, sungguh tak punya malu!
Sampai di waktu ia akan berlalu, aku hanya bisa menggerutu tanpa tanda seru, tanpa seorang pun yang tahu, sendiri bersembunyi di kolong ranjangku. ‘Apakah kamu mendengarku bergumam, hu-hu-hu?’