Tampilkan postingan dengan label randomasocis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label randomasocis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2013

RANDOMASOCIS


i
Mencret disertai muntah di dini hari itu rasanya seperti bandut gendut yang dikempesin tubuhnya pake peniti lewat pantatnya, dia tidak tahu siapa pelakunya, tapi pasti anak nakal yang tidak suka dengannya. Tapi untunglah tidak disertai dengan pening dan tubuh limbung. Namun kesel juga, tubuh jadi lemas. Bolak-balik ke belakang kayak seterikaan. Dan tidak bisa tidur kembali pula. Setiap mau merebahkan badan, lubang mulut dan lubang pantat tak bisa diajak kompromi. Jadilah saya hanya bisa mengerang-ngerang saja, macam kucing yang lagi kawin.
Hm, coba saya ingat-ingat makan apa saja ya saya sebelum tidur. Ah bukan hal yang aneh, hanya telur ceplok goreng dan sambel tomat terasi. Etapi entah siang, sore dan paginya, saya lupa.
Sini saya kasih tahu hasil muntahan saya,
Muntahan pertama: Merah-merah, pasti itu sambel tomat terasi. Putih-putih berlendir, mungkin itu nasi dan serpihan telur ceplok goreng karena terasa dari aromanya yang khas.
Muntahan kedua: Bulir-bulir nasi, semangka dan pisang. Kali ini muntahannya lumayan banyak sekali.
Muntahan ketiga: Hanya berisi dahak dan lendir dari tenggorokan yang rasanya asam sekali. Ini yang paling sakit, kamu hoek-hoek sekuat tenaga tapi hanya air kental yang keluar. Huh, sial!
Segitulah muntahan saya. kalau masalah apa isi mencret saya, tak usahlah saya kasih tahu, ya mencret gitu lho… isinya tak lebih dari warna coklat cair. Iyuuuh…


ii
Arrgh… anak ini menyebalkan sekali! Mengulang-ngulang pertanyaan yang sama. Hei apa kamu tak punya otak untuk menelaah, penggal saja kepalamu dan letakkan dalam loker!
Duh, capek sekali lidah saya!
Oh demi daun-daun yang berguguran, tolong sampaikan pada semesta sekiranya sudi membawa anak ini ke planet anonim. Biarkan saya bernafas barang sejenak.
Uh, tapi jangan ah. Saya benar-benar tak kuasa dengan kerling manisnya. Percayalah, senyum itu benar-benar membunuh! :p

iii
Dia: Eh, kalau jalan sandalnya jangan diseret-seret dong. Berisik tau!
Saya: Kenapa memang, kaki-kaki aku ini.
Dia: Kasihan tuh semutnya keinjek melulu.
Saya: Peduli amat, semut gak akan habis meski dilindas pake buldoser sekalipun. Populasi mereka ditakdirkan untuk menjadi pendamping si manis sampai kiamat.
Dia: Ih, berarti aku manis dong!
Saya: Idih, gak nyambung.

iv
Bukannya saya tak mencoba untuk bisa. Saya mencoba dan saya merasa belum bisa. Kamu tahu? Fokus saya sangat lemah, saya kikuk pada tanda-tanda yang datang berbarengan, saya canggung pada arah, saya kadang tersesat ditengah-tengah keramaian tanpa harus tubuh saya terlibat di dalamnya. Saya tahu ini bakalan konyol kalau kuberitahu padamu. Jadi kusimpan sendiri saja.
Salahkan saya yang mulai malas berusaha keras untuk terlihat keren di mata orang lain. Ya begitulah adanya kita, secara seenak hati menarik kesimpulan pada apa yang terlihat di permukaan. Merasa sok tahu pada apa yang ada di luaran, citra mengalahkan segalanya.
Oh kenapa saya kedengaran putus asa sekali. Saya kan cuek, jadi peduli setan dengan pemahaman dan pengertian orang lain. Bah!

v
Transit – Translit
Stadion – Studio
Itu adalah kelompok kata yang sangat ‘rumpi’ di kepala saya. saya sering salah menggunakannya. Selalu membolak baliknya. Membuat saya menjeda sejenak untuk mengucapkannya agar tak keliru.
Ada penyebutan satu lagi yang menjengkelkan. Seperti Biru dan Hijau. Saya tahu dan bisa membedakan warnanya, tapi kadang saya salah menyebutnya. Sering saya menyebut biru sebagai hijau dan begitu pula sebaliknya. Karena kebiasaan ini teman-teman sering mengolok-olok saya sebagai ‘Madura’. Huh, dasar rasis! Hehe.


Sabtu, 01 Desember 2012

RANDOMASOCIS


i
Halo tuan Marmut, apakah anda melihat ikan bersirip daun kemangi jalan-jalan di sekitar sini? Kalau tahu tolong beritahu aku, karena ia baru saja membawa sekantong penuh kacang mede-ku. Itu sangat istimewa, karena merupakan oleh-oleh dari peri gigi yang baru saja bertamasya ke negeri bernama Kejora.
Hai-hai Kacang Merah, apakah kau melihat serumpunmu menggelinding di sekitar sini? Bila iya, tolong hubungi aku – tiup saja cangkang keong laut yang sudah keriput,aku akan lekas menyahut.
Oh wahai Dewa Petir, semoga lekas ada lingkaran Halo besar di atas kepala ikan penderita impulsif kronis itu. Dan keajaiban membawa sekantong kacang mede-ku kembali ke habitat asalnya, di kolong ranjangku.
Beribu amin untukmu penguasa bumi mimpi.

ii
Namanya Mona. Dan dia adalah laki-laki. Tapi selang beberapa menit kemudian ternyata saya salah, namanya bukan Mona tapi Monya. Ah, saya lebih suka kalau namanya adalah Mona. “Mona engkau dimana, sedang apa, bersama siapa?” Haha, rima yang bagus bukan? Uh, sindrom obsesif kompulsif!

iii
Wah album-album ini benar-benar underrated – gak mainstream. Saking elitisnya, seumur-umur baru kali ini saya membaca nama-nama musisinya – saya yang kampungan atau mereka yang terlalu eksklusif ditelinga saya yang awam dan sangat overrated ini. Wahai tuan hipster, bolehlah kapan-kapan mampir ke desa saya, akan saya ajak anda bertamasya ke minimarket berinisial A. Di sana sedang ada obral kaset muziek yang aziek yang pas dengan kepala anda yang selalu hip dan trendi itu. Borong-boronglah karena harganya tak lebih mahal dari sepasang sandal jepit baru. Sayang sekali ya, karya musik ‘avant-garde’ hanya dihargai segitu.  Hoho, mungkin pikir minimarket berinisial A itu; “daripada membusuk di gudang lebih baik dilelang dengan lancang”.
Ha-ha, kill me! kill me! kill me! kill me with your tongue, love!

iv
Saat sedang bersih-bersih dapur tanpa sengaja jari tangan saya tergores sebuah pinggiran perkakas dapur yang terbuat dari  seng yang tajam. Kresss! Perih sekali, cekat-cekut-cenat- cenut. Sakitnya sampai ke ujung syaraf di kepala. Untunglah lukanya tidak terlalu parah, kira-kira goresannya hanya sekitar 2 cm. Hanya-pun begitu yang namanya tergores benda tajam rasanya ya; mendirikan-bulu-roma-di-sembilan-detik-pertama.
Lalu apa yang saya lakukan, saudara? Saya hanya berdiri mematang selama beberapa menit – setelah mengaliri luka itu dengan air – berharap perihnya cepat berlalu. Ya akhirnya itu luka cenat-cenutnya reda juga. Lalu saya melanjutkanlah aktifitas cuci-cuci piring. Kan kena cairan sabun cuci, apa tidak sakit nona Lina? Ah prinsip saya jangan manja-manjain luka, apalagi luka kecil kayak gini. Harus ditempa biar cepat sembuhnya, hehehe...
Emang sih agak perih sedikit, tapi masih tertangguhkan-lah ya. Namun lama-lama kebas juga lho. Sumpah, ringisan saya benar-benar mereda.
Namun ya begitulah begitudeh yang namanya luka gores itu macam ababil, gak tentu arah. Kadang sakit kadang reda. Modi-an banget pokoknya. Kalau kena deterjen dan cairan pencuci lainnya saya masih bisa tahan, tapi kalau sudah kena garam; begh, nyiksa batin dan raga sangat amat. Jadi membuat saya kepikiran lebih milih mati ditembak tepat di pangkal otak daripada mati kena tebas atau gorok. Tuhan, itu sangat mengiris seluruh sendi dan saraf tubuh! Uh, tiba-tiba hati saya ikutan perih membayangkannya.
Dan kalau anda adalah seorang psikopat yang benar-benar ingin membuat korban anda menderita dunia akhirat, cobalah mengiris-ngiris tubuh ‘pasien’ anda itu lalu taburi garam diatas sayatan-sayatan lukanya tersebut. Oh ikan tuna, itu benar-benar menderita. MENDERITA!!!

v
saya kadang heran kenapa banyak orang yang begitu jijik dengan kecoak. Apakah mereka identik dengan kotor? Tapi saya kog merasa biasa-biasa saja ya? Menurut saya binatang yang menjijikkan adalah tikus. Bulunya dan tekstur tubuhnya yang kenyal-kenyal itu begitu ‘idih’ menjijikkan sekali. Saya tidak suka tikus apalagi yang baru dilahirkan, merah berlendir.
Kecoak itu mah biasa saja. Tekstur kulitnya yang kokoh dan tebal sama sekali jauh dari kesan geli apalagi menjijikkan atau menakutkan. Hal itu lebih banyak mengingatkan saya pada bangun tubuh Baja Hitam.
Bila anggapan publik sudah umum kalau mereka menjijikkan bukan berarti saya harus ikut-ikutan. Saya punya selera sendiri dong ah!
Kadang saya merasa geli kalau melihat pria-pria macho yang lari terbirit-birit ketika melihat kecoak – seperti waria yang kena trantib. Hahaha...

vi
Saya rasa lamunan saya akhir-akhir ini sudah mulai keterlaluan. Saya selalu seperti ini; sesaat sebelum tidur, pada saat senggang, bahkan pada saat melakukan sesuatu, saya-membuat-dunia-sendiri-di-kepala. Saya menentukan tokohnya, alurnya, settingnya, jalur ceritanya, intinya saya adalah sutradaranya. Ada keasyikan tersendiri bermain-main di sana. Kamu merasa bisa menyalurkan apa-apa yang tidak bisa kau dapatkan di dunia nyata. Misalnya menyusun cerita seperti ini; tiba-tiba saya mendapatkan warisan dari seorang milyuner konglomerat dunia. Karena bingung harus membagikan hartanya kepada siapa – beliaunya tidak mempunyai dinasti penerus ataupun anjing peliharaan – maka secara random terpilihlah saya, wanita-sangat-beruntung-kala-itu. Harta diserahkan secara diam-diam – tanpa publikasi apapun, karena si saya membenci segala bentuk sorotan dan ketenaran. Setelah mendapatkan harta melimpah, si saya ini lantas mewujudkan mimpinya yang belum kesampaian karena kemuskilannya. Mulailah saya berkeliling dunia. Traveling sepuasnya – lone traveler. Si saya ini punya prinsip; tak akan menikah sebelum keliling dunia. Setelah puas berkeliling dunia, mulailah saya menetapkan pilihan pada tempat untuk ditinggali. Sebuah tempat yang benar-benar asing tentunya, dimana tak seorang-pun mengenali saya. Kemudian saya membangun sebuah perpustakaan yang lengkap, nyaman dan asri – terbuka buat umum dan gratis. Lantas seiring berjalannya waktu, si saya kemudian jatuh cinta kepada lelaki seberang jalan yang mempunyai toko kaset musik dan tempat penyewaan VCD/DVD film. Lantas kami saling kasmaran dan hidup bersama. Bahagia dan sedih bersama selamanya.
Haha. wajarkah lamunan saya ini, tuan?

vii
Saya tidak mau mati dalam keadaan selang oksigen yang terpasang di hidung; kantong infus yang terus diganti berkali-kali setiap harinya; injeksi dan obat-obatan yang tak terhitung jumlahnya; resep obat yang tak ada henti-hentinya; saat kencing dan buang air besar harus dilakukan di tempat tidur; ketika makanpun harus disuapi; banyak pantangan-pantangan yang tak kuasauntuk dilanggar
Itu terjadi saat kerut mengerut menghiasi wajah dan badanmu. Pendengaran mulai mengabur, ingatan mulai melamban, mata mulai tak awas. Ya, saya benar-benar tak mau mati dalam keadaan seperti itu.


Kamis, 05 Juli 2012

RANDOM: HAL KONYOL


1. Dimensia

Suatu malam dipenghujung tahun 2011 yang sangat haus masuklah saya kesebuah minimarket berinisial A. Tanpa babibu saya langsung menuju lemari pendingin berwarna merah darah menggiurkan. Entah mengapa tiba-tiba mata saya ingin melihat tanggal kadaluarsa di teh kotak dingin yang saya pilih – saya adalah tipikal orang yang langsung konsumsi tanpa peduli tenggat berapa makanan layak masuk kerongkongan – setelah melihat deret angka itu otak saya langsung berputar mencari kesimpulan; “gila!  Ini kan sudah masuk tanggal kadaluarsa.” Bagaimana mungkin toko yang punya nama sebesar ini bisa seceroboh itu. Saya lantas melihat kemasan minuman lain, sama saja. Kemudian saya mencoba membandingkannya dengan makanan ringan dalam kemasan plastik, eh sama juga. 

Entah berapa lama saya berputar-putar di tempat itu, tanpa satu barangpun di tangan saya. Sumpah serapah memenuhi kepala saya. Tiba-tiba entah setan darimana yang untungnya berbaik hati memukul tengkuk saya; ini bukan Desember 2012, ini Desember 2011 bodoh!’ Hahaha, lantas meledaklah tawa saya. Kasihan sekali, entah sudah berapa puluh menit saya bertingkah seperti orang bodoh, yang merasa hidup satu tahun lebih cepat. Benar kata Sinchan, segala bentuk manusia ada di muka bumi ini. Dan saya adalah bentuk dari sinonim kata ‘konyol’. 

2. Mbak Cantik dan Malaysia

“Eh Lin Malaysia itu udah gak jadi bagian dari wilayah Indonesia lagi ya?”

“Eh, apa?

Pertanyaan di siang yang santai itu hampir membuat jantung saya berhenti mendadak. Membuat saya ingin menelan bulat-bulat piring bekas makan siang yang ada di sepan saya. Sumpah kotak tertawa saya hampir meledak tanpa ampun, namun demi melihat ekspresinya yang sungguh-sungguh bertanya – dan saya tak melihat kerut main-main di sana – maka mati-matianlah saya menahan tawa, seperti menahan kentut yang membuat perut cenat-cenut. Kemudian dengan berbaik hati saya jawablah pertanyaannya itu; “besok aku pinjami buku sejarah keponakanku ya?”

Hahaha, sebuah pertanyaan konyol dari mbak cantik wangi yang calon sarjana pula. Ah, katalog belanjaan yang berjibun itu kadang hanya membuat pintar penampilan.

3. Kanker Abal-Abal

Mimisan dan rambut rontok adalah indikasi adanya kanker, sinetron mengajarkan itu. Dan saya mengalaminya saat Dharmawisata ke Bali jaman SMA dulu. Selama di Bali hidung saya tak henti-hentinya mengeluarkan darah, pernah sih saya mimisan tapi ya tak pernah sebanyak itu. Di penginapan saat baru tiba saja saya menghabiskan satu handuk besar demi menampung stok darah dari lubang hidung. Karena itulah kemana-mana saya berbekal tisu seabrek hasil sumbangan dari teman-teman – ya, dari dulu saya paling malas menenteng tisu kemanapun itu. Kalo keringetan ya tinggal elapin ke baju, iyuuuh…

Dan salahnya mimisan itu dibarengi dengan rambut saya yang tiap harinya rontok satu kepalan tangan banyaknya, maka berpikirlah saya yang tidak-tidak. Saya langsung berkonklusi kalau saya menderita kanker stadium sekian. Ketika di dalam bis selama berputar-putar di Bali, pikiran saya melayang ke langit lapis tujuh, membuat alur cerita sendiri; kepala botak – saya tak keberatan dengan ini, berharap bisa semempesona Sinead O'Connor  – obat dan injeksi berkali-kali banyaknya, bagaimana reaksi dan perasaan bapak ibu saya, bagaimana rasanya sekarat, lalu siapa saja yang mengantarkan saya ke kuburan. Saya seperti melihat pementasan drama di kepala keruh saya. Uh, saya merasa tidak sedang di pulau Dewata tapi di pulau penuh rana.

Sekembalinya dari Bali mimisan dan rambut rontok saya hilang begitu saja. “Itu mungkin karena faktor kelelahan saja,” ujar ibu saya. Ah konyol sekali, membuat saya tidak bisa menikmati liburan semaksimal mungkin. Dewa-Dewi di sana pasti menertawakan saya dengan riangnya…