Kamis, 29 November 2012

JEDA


gambar diambil dari sini


Berharap tanpa sengaja menemukan kantong ajaib Doraemon
Kukeluarkan pintu kemana saja
Aku pergi ke Perancis
Tidak berharap pada lelaki romantis dan dramatis
Hanya ingin telentang dengan kaki telanjang  pada padang ilalang
Menelanjagi langit yang membentur pucuk bukit dan rumah berbatu
Mengira-ngira bentuk awan serupa apa
Apa serupa lili yang sekarang ada di tangan kiri
Ataukah serupa ciuman dengan lidah menggelinjang kemana-mana itu
Sungguh itu seperti serbuan seribu serdadu yang cemburu
Adakah yang lebih memburu?

Sudah, aku puas bercumbu dengan pucuk kasar yang menderu
Siang sudah merona jingga
Bolehkah aku meminta sebotol wine
Untuk merayakan sebuah peralihan
Yang meskipun ajeg tak pernah berhasil membuat mandeg
Selalu ada yang bisa dinikmati di sana
Selaksa bara yang membakar musim dingin
Menaburkan serpih salju berwarna orange                                                            
Ayo tuangkan untukku
Ataukah kuteguk langsung?

Ah, aku sudah puas bermain-main di sini
Aksen bahasa menggelitik telinga membuat lupa
Noir dan absurd berwarna sephia seperti di senima
Aku sungguh terlena tapi Doraemon pasti lekas tak lupa
Ayo lekas bergegas putar knop pintunya
Siapa tahu dorayaki sudah siap tersedia
Jadi Doraemon, jangan merasa terpedaya yaaa…


DEAR PLANETMERAH


Hai Mer, long time no see – long time no talk. Sudah hampir berbulan-bulan kurasa. Waktu yang sangat lama untuk tidak melihat dan berbicara denganmu. Kuharap kau tidak merasa kesepian dan merasa diabaikan. Kau sangat tahu kan? Meskipun aku melakukan perjalanan melingkar penuh ziq zaq terbentur dalam kotak-kotak penuh spiral, aku akan selalu kembali pada satu titik dimana permulaan akan membawaku pulang di tempat yang sama. Dan kau adalah salah satu kumpulan titik yang membentuk satu titik itu. Ah, aku mendengar dengus nafasmu! Kau pantas memuntahkan kesal padaku Mer, meneriakkan sumpah serapah di gendang telingaku, menjambak rambutku hingga menimbulkan kerut di otot-otot wajahku, mematahku hidungku dengan tohokan telakmu. Lakukan Mer, kadang kita butuh drama...

Kau pasti bertanya-tanya beberapa bulan ini apa yang telah aku lakukan. Tidak banyak Mer, hanya aktifitas yang selalu sama setiap harinya. Tak heran, engkau memang penderita autis akut – mungkin begitu pikirmu. Hahaha, engkau bakalan menertawaiku bila melihat raut mukaku sekarang ini. Sangat datar Mer, seakan aku sudah tak  punya lagi emosi untuk dilampiaskan kepermukaan. Seperti ada yang menyuntikkan segalon cairan pemati rasa di seputaran lengkung bibirku. Hingga apa yang bisa kulakukan hanyalah mendatarkan bibirku, menutup rapat mulutku. Huh, sebenarnya ini – meskipun sulit dikatakan – memberikan kemudahan bagiku. Kau tahu, la la land di dalam kepalaku ini  sudah menganak sungai hingga meluber menjadi air liur di malam hari. Aku tak bisa menghentikannya. Aku tak bisa membendungnya. Memutar bola mata dan melihat sebuah pertunjukan di ceruk kepala sangatlah adiktif buatku. Ini semacam pain killer  untuk real life yang sangat menyebalkan ini. Dan kadang segala lintasan adegan di dalam tempurung kepalaku itu sering memberi rangsangan secara brutal disekitaran urat-urat di mulutku. Memprovokasi rongga mulut untuk melakukan semburan kata-kata secara membabi buta. Ingin ikut andil dalam permainan yang mereka buat di sana. Sepertinya mereka sangat bersenang-senang. Dengarlah suara tawa mereka, bukankah itu terdengar seperti kicauan burung pipit di kala senja. Warna orange itu memang bisa menstimulus untuk menjadi gembira. Dan itulah, syukur aku masih bisa mengunci rapat mulutku ini. Cobalah bayangkan Mer, apa yang akan dikatakan orang-orang itu bila melihatku berbicara sendiri, mengoceh dengan semangatnya di depan material transparan. Pasti kerlingan sinis itu akan mengena di sudut mataku. Ugh, aku benci menjadi pusat perhatian!

Hei hei, aku melihat sepintas senyum di sudut bibirmu. Apakah suasana hatimu mulai membaik? Baiklah biar lengkungan bibirmu semakin melebar keatas, aku akan berbaik hati berbagi sedikit harta karun yang berhasil kutemukan beberapa bulan belakangan ini. Hahaha, aku tahu kau selalu ingin tahu. Hmm, kemarin aku berhasil mendapatkan DVD-nya Guns ‘N Roses yang ‘Live Osaka’ sama DVD-nya Roxette yang ‘The Complete Collection 1987-2001’. Kau tahu Mer, si Axl sangatlah seduktif di konser itu. Tampil bertelanjang dada dengan menggunakan celana pendek super ketat yang sangat jelas mempertontonkan ‘tonjolan’ di selangkangannya. Kau bisa bayangkan betapa provokatifnya itu. Belum lagi dengan liukan tubuh yang sangat sangat luar biasa lenturnya itu yang semakin memanaskan suasana, baik suasana di atas panggung atau suasana di seluruh kelenjar  pembuluh darahku. Benar-benar membuat sesak nafas. Ha-ha-ha, mesum banget ya Mer... tapi teteup, mata kadang harus diberi asupan ‘gizi’ untuk memompa darah keseluruh tubuh dengan kecepatan maksimum. ‘Andrenalin Rush’ kadang bisa menyelamatkanmu dari mati suri berkepanjangan.

Ya itu sajalah Mer. Ingat kan? bicara terlalu banyak adalah hal tabu nomor sekian dalam daftar perundang-undangan di lingkungan pemerintahan Planetmerah. Hehehe, sudah sana Mer, bersenang-senanglah di lintasan planetmu. Aku akan selalu menjadi alien yang menjadikanmu rumah persinggahan beribu-ribu kali. Dan tiba di satu masa aku akan lelah dan menyerah kalah padamu, menjadikanmu tempat menetap selamanya tanpa rasa sesal dan kesal...


Selasa, 10 Juli 2012

AUTISM










COFFEE AND TV


 

BLUR - Coffee and TV 
 
Do you feel like a chain store
Practically floored
One of many zeros
Kicked around, bored?

Your ears are full but you're empty

Holding out your heart
To people who never really
Care how you are

So, give me coffee and TV, history

I've seen so much
I'm goin' blind
And I'm brain-dead virtually

Sociability, it's hard enough for me

Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we could start over again

Do you go to the country?

It isn't very far
There's people there who will hurt you 
'Cause of who you are

Your ears are full of the language
There's wisdom there, you're sure
'Til the words start slurring
And you can't find the door

So, give me coffee and TV, history
I've seen so much
I'm goin' blind
And I'm brain-dead virtually

Sociability, it's hard enough for me
Take me away from this big bad world
And agree to marry me
So we could start over again

Oh, we could start over again
Oh, we could start over again
Oh, we could start over again
Oh, we could start over again


HAHA YANG LAINNYA


 diambil dari sini

Kepala pusing berdesing-desing seperti habis kena gencet sepasang pantat montok gajah betina yang hamil tua; semua serba berputar-putar dan kabur serasa naik bianglala di sebuah pasar malam di sabtu malam; Ngoceh, senyam senyum dan ketawa ketiwi sendiri merasa banyak yang menemani; jadi sangat-sangat sensitif, langsung mencelos ketika mendengar letupan kecil kembang api.

HEI INI HANYA MINUMAN KALENG BERKARBONASI DENGAN NOL PERSEN ALKOHOL! Silly...


Minggu, 08 Juli 2012





Sorry boss, but there's only two men I trust. 
One of them's me. The other's not you. 



- Cameron Poe 'Con Air' -




KAMAR DENGAN SEPASANG JENDELA KACA BESAR


Aku suka kamar dengan jendela kaca besar ini. Mereka sepasang kembar identik dengan mata cemerlang. Melalui mata mereka aku bisa melihat pucuk-pucuk pohon yang menyentuh langit, burung-burung yang lincah terbang memecah awan, atap-atap rumah bergenteng coklat yang menua dalam perangkap lumut yang naif dan ah sebenarnya aku tidak suka dengan kabel-kabel hitam panjang yang melintang sesuka hati diantara pohon-pohon berdaun hijau, seperti monster jelek berlendir yang tengah terjebak di tengah keriangan pesta kebun sore hari. 

Dan pagi ini sambil telentang di atas kasur aku melihat pemandangan itu lagi, lagi lagi dan lagi yang tak membuat bosan. Burung-burung yang kembali riuh rendah, cericitnya yang melengking tak membuat mereka menjadi sosok nyonya tua cerewet dengan jubah hitam menyapu tanah, arogan sekaligus menyebalkan. Dingin dan berkabut, semoga pagi ini bukan melankolia yang lainnya. Eh ada yang berbeda di pucuk-pucuk pohon sebelah sana, ada layang-layang berwarna hijau putih terkoyak di salah satu rantingnya.

Mengganjal kepala dengan tumpukan dua bantal, menumpukan kedua kaki dengan seenaknya pada pinggang jendela kaca dan mata bebas menelanjangi langit berbilur biru dengan aksen hijau muda meski terbatas pada bingkai segi empat - sungguh aku betah melakukan ini sepanjang hari. Ditemani lagu-lagu retro dari radio - aku mendengar Faith No More mendendangkan 'easy like sunday morning' untukku - dan sebatang cokelat 'Superstar' sisa cemilan peneman kopi semalam membuatku benar-benar rela mati sekarang. Oh, aku merasa tumbuh sayap di punggungku.

Ini benar-benar surga, membuat malas beranjak apalagi teriak. Hei tak perlu kuatir, tuhan tak akan mengusirku dari sini karena ini bukan buah terlarang untuk menjadi senang - kadang warna merah menyala itu terlalu mengintimidasi untuk menjadi intim berdansa dansi.
Lagian ini minggu pagi, tak perlu mandi dan gosok gigi.







*suatu hari nanti aku harus punya kamar berjendela kaca sendiri meski dengan luas kamar tak seberapa. Jendela yang tak menghadap tembok beton tinggi, jendela yang tak menolak diajak berbincang. Ya, aku ingin punya kamar dengan sepasang jendela besar dengan kaca cemerlang menantang langit... 


Jumat, 06 Juli 2012

MENGEJA KATA M.A.T.I




Apakah kau takut mati?
Biasa saja.

Bagaimana dengan kehidupan setelah mati?
Itu bukan urusanku. Mati berarti urusanku dengan hidup sudah terputus total. Apakah itu ada hidup setelah mati itu urusan yang ada di sana.

Apakah kau tak percaya tentang konsep neraka dan surga?
Kenapa harus menunggu itu di kehidupan setelah mati? Di bumi ini kita sudah terlalu sering mengalaminya.

Dan tuhan?
Kau tahu, suatu hari aku melihat kecoak mati yang bangkainya dikerubungi semut-semut rakus berwarna orange. Tubuhnya awut-awutan, hanya sayap coklat tuanya yang bisa dikenali. Lantas aku berpikir apa saja yang sempat dilakukan kecoak malang ini sebelum ajal mengulurkan tangan menjabat tangannya, sebelum tubuhnya hancur babak belur. Dan aku tak tahu, berpikir sekeras apapun aku tak akan pernah tahu. Lantas aku mendengar dengungan di kepalaku yang serupa suara lebah; “biarkan itu jadi urusan tuan si maha tahu…”

Aku selalu penasaran bagaimana rasanya sekarat itu. Apakah menyakitkan?
Tenang saja kita semua pasti akan merasakannya. Peduli setan tentang teori-teori ambang hidup dan mati. Itu akan terjadi se-alami mungkin, seperti ciuman pertama…

Cara mati yang menyenangkan menurutmu yang seperti apa?
Mati kaku terserang hipotermia saat melakukan pendakian, tubuh menubruk batu cadas saat melakukan terjun bebas dari puncak tertinggi sebuah tebing karena parasut terlambat mengembang, mati tersengat lebah saat berkebun. Mati disaat melakukan hal yang kau sukai, tak ada yang bisa mengalahkan itu.

Terdengar sangat mengerikan, adakah yang tak menyakitkan?
Ada. Sekarang ini kan sudah ada suntik mati atau tinggal minum obat penghenti detak jatung, membunuhmu dengan ‘halus’ tanpa meninggalkan rasa sakit. Tapi itu cara mati yang sangat biasa menurutku, seperti kau akan biasa merasa senang kalau ada orang yang mentraktirmu makan. Setelah kenyang ya sudah… 

Apakah ada efek sekarat?
Apa bedanya sekarat dan halusinasi?

Entahlah, menurutmu cara mati yang menyedihkan itu seperti apa?
Mati karena bunuh diri, karena sakit akut dan hukuman mati. Karena menurutku inti dari mati adalah sensasi dari kejutan yang ditimbulkannya, entah kapan dan dimana – Bertekuk lutut pada keangkuhan maut  yang sensual sekaligus sekuat tenaga menghindari tatapan mata obsesifnya yang membuat tubuh menggigil.

Impian terbesarmu tentang kematian?
Bila mati nanti aku ingin mendonorkan seluruh organ tubuhku, yang semoga masih layak pakai. Lalu tubuhku yang tinggal tulang dan daging itu dikremasi di dalam tabung kaca bercampur dengan bunga krisan warna-warni yang abunya kemudian di larung di laut. Dan ikan-ikan di laut akan ikut merayakan kematianku dengan cara memamah remah-remah tubuhku yang mengabu. Semoga…

Hahaha, minta ijin dulu pada bapak ibumu.
Ya, kau benar…


WINE IN THE AFTERNOON

















                 Gambar diambil dari sini

So this is summer
And the Calor gas is running low
But I don't mind
I'm doing things and doing them with you

Well you know he's gonna

want his rent tonight
But we'll have to tell him
Haddows swallowed all the rent this month

So summer stains

a sky with inky swirls
that bring the thunder low
But I don't mind,
I'm doing things and doing them with you

And if you're smart you'll put that book back down

You'll drag me to the floor,
drag me down for more

Drinking wine

Drinking wine in the afternoon
Doot doot n doo
Drinking wine
Drinking wine in the afternoon
Doot doot n doo

Tomorrow's Thursday

That's my day of work
That's my day of walking up the
Maryhill road making up
Some lie about some job applied for

When I've been drinking wine

Oh I've been drinking wine in the afternoon
Doot doot n doo

Fifty regal filters left their filthy butts behind

Left their blackened heads down in the ashes
That's the last before
They're pulled apart and placed within the papers
for a drag
A fag deserves a second life
Deserves a second life
Don't we all
Don't we all
Don't we all
Don't we all

Love drinking wine

Love drinking wine in the afternoon
Love drinking wine
Love drinking wine in the afternoon

Bottle of wine, bottle of wine... 





*Franz Ferdinand – Wine In The Afternoon