Jumat, 15 Juni 2012

FRAU - MESIN PENENUN HUJAN


Merakit mesin penenun hujan
Hingga terjalin, terbentuk awan
Semua tentang kebalikan
Terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu
 
Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku,
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita 

  

YUNA's COVER of NIRVANA's "COME AS YOU ARE"


Come as you are, as you were, as I want you to .
As a friend, as a friend, as an old Enemy.
Take your time, hurry up, choice is yours, don’t be late.
Take a , as a friend, as an old .

Memory ah, Memory ah, Memory ah.

Come doused in Mud, soaked in Bleach, as I want you to be.
As a trend, as a friend, as an old Memory ahhh.

Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh.

Chorus:
And I swear that I don’t a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh. (Don’t have a Gun.)

Chorus:
And I swear that I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
(Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh )


HAN...


Han, maafkan kalau akhir-akhir ini aku jarang curhat denganmu. Mungkin aku terlalu malu. Aku tidak enak denganmu. Selalu menjadikanmu tempat sampah disaat susah tapi melupakanmu dengan mudahnya disaat senang. Lebih baik aku menelannya sendiri, daripada aku terlihat seperti penjilat di depanmu…

Minggu, 03 Juni 2012

KOPI PAHIT HITAM LEGIT, TELEVISI PAGI HARI, MIE INSTAN GORENG RASA KRIUK DAN SAYA SI TUKANG KELUH.




Sabtu dini hari. Kira-kira sudah pukul setengah tiga pagi. Kalau pun meleset paling lebih kurang 10 menitan. Ilmu kira-kira soalnya. Iya... malaslah saya kalau disuruh pakai jam tangan. Kamu pun tak akan mendapati bentuk jam di kamar saya. Angka berdetak itu ibarat pengawas ujian bagi saya. Sangat mengintimidasi. Dan saya paling bosan melihat orang yang setiap menit menatap jamnya. Sama bosannya dengan melihat orang yang takzim dan kidmat dengan telepon genggamnya. Tak peduli meskipun ada yang saling bunuh di sampingnya. Bahkan kiamat sekalipun. Kontemplasi huh? Seakan dengan melakukan itu ia akan menyelamatkan dunia dari ledakan ‘bom waktu’ yang tinggal hitungan detik saja. Eh omong-omong kamu tahu bagaimana cara saya menentukan waktu? Ah itu sih gampang; hitung saja kecepatan dan arah angin, kelembapan udara, sudut serta derajat lokasi dan ketepatan insting. Hahaha, kedengarannya saya akan menghancurkan kepala bajingan dengan senapan 'Ak 47'. Wuush... hancur tanpa suara bung...
Baiklah, saya terlalu banyak ngelantur tentang jam. Sebenarnya inilah yang pingin saya omongin; tiap akhir pekan saya selalu jadi zombie tv. Ya, menyedihkan memang. Dengan kopi super pait yang membuat dahi mengernyit saya awali sembahyang di depan kotak berkabel. Yang sialnya membuat saya masturbasi berkali-kali. Hei salahkan televisi! Mereka tak punya otak menayangkan film-film apik di dini hari. Dan malah memutar film-film yang ibarat muntah ditelen lagi, muntah ditelen lagi di jam-jam saat mata masih waras. Dasar tolol! Terlalu keseringan bos. Membuat muak! Sama kayak berita gak penting yang dibuat happening dengan narasi dan diskusi sinting. Oh dewa Neptunus, hentikan omong kosong sok pintar dan sok garang di kursi empuk itu. Apalah namanya itu; orang-orang politik katanya. Yang ketiaknya bau uang. Halah, saya berani bertaruh; di belakang kamera sana di ruang ber-AC mereka saling peluk dan cium, bahkan tanpa sungkan saling membersihkan bagian tubuh masing-masing. Err... terdengar seperti bekicot, ada lendir dimana-mana. Hahaha, ampuni saya wahai mahkluk buncit...
Apa? Sampai mana tadi? Huh! Omongan saya belok kanan lalu lurus terus belok kiri terus lurus lagi, gak nyampek-nyampek. Capeklah saya. Tuhan telah mengurangi jatah fokus saya. Sudah-sudah makan dulu sana... lalu ada ayam yang pok pok pok di atas kepala kepala saya. Haiyah! Tulisan ini random parah – meminjam istilah Justin Bubur. Hoaaam....
Neng nong! Kira-kira sudah jam 11 pagi dan saya belum cuci kaki dan gosok gigi. Malas nonton tv pagi, gak ada Sinchan dan Conan lagi. Mau makan tapi malas berdiri. Guling-guling di kasur saja sepanjang hari. Sambil berfantasi ada tuan Cillian Murphy nyasar ke kamar membawa sebaki spagheti. Kita asyik berhaha hihi dan nyanyi-nyanyi. Ooh... hari yang berseri...
Walah, random tenan ki! Ya sudahlah... taiklah saya yang tukang keluh. Terpujilah sang kopi hitam pahit legit. Sujud syukur untuk televisi dini hari. long live mie instan goreng kriuk! Baiklah, saya akhiri random ini dengan ucapan amin. –AMIN–

*Apakah random itu semacam kependekan dari ‘ranah domestik’? ah tauklah, bisa-bisa saya saja...

Jumat, 01 Juni 2012

SEBUAH LAGU UNTUK CICAK DI BALIK PANCI HITAM

 
Aku melihat ekormu di balik panci hitam yang di gantung dekat pintu toilet.
Ujung ekormu melenting kesana kemari.
Bergemerincing meneror retina mataku.
Geal geol kayak bokongnya biduan koplo.
Apakah kau sedang dangdutan dengan teman imajinermu?
Ah, ternyata tak hanya Syahrini…

Hei mahkluk coklat bertekstur kenyal.
Kenapa kepalamu tak kunjung nongol juga.
Apakah yang kau sembunyikan di sana?
Sisa permen atau remah roti?
Kau sembunyikan dari siapa?
Semut berlarik panjang atau alien berwajah capung?

Dang ding dong…
Dong ding dang…
Apakah kamu hobi makan pisang?
Dan sukakah kamu berdendang?

Hai hai cicak di balik pantat panci.
Ayolah kita bermain hujan di teras rumah.
Siapa tahu ada kodok jatuh dari langit.
Bisa buat barbekyu di dalam kamar.
Ku ajak temanku.
Kau ajak temanmu.
Kita hore-hore bersama.
Bersuka-suka beria-ria.
Jangan lupa pakai kostum kupu-kupu berbelalai gajah.

Dang ding dong…
Dong ding dang…
Apakah kamu hobi makan pisang?
Dan sukakah kamu berdendang?
 

MAHKLUK BERJUBAH HITAM DENGAN PISAU DI TANGAN KIRI

 

Tengkorak belakangku berdenyut dan berdentam tanpa jeda.
Kepalaku seperti akan meledak.
Denyarnya menjalar hingga ke ujung mata.
Turun hingga ke punggung.
Rasanya ada yang salah dengan tulang belakangku.
Ada sayatan panjang dari tengkuk sampai ujung tulang ekor.
Aku masih merasakan dinginnya jejak mata pisau di sana.
Ngilu tak tertahankan.
Meremukkan seluruh sendi.


Siapa berani melukaiku?
Tak ada untungnya.
Hanya buang waktu saja.
Seperti berita kecelakaan pesawat Rusia dan Lady Gaga di televisi akhir-akhir ini.
Awalnya semua tampak biasa dan antusias.
Tapi lama-lama semakin berlebihan dan memuakkan
“Hei, apa kabar anak-anak korban trafficking?”
Ya, mereka memang tak sesuperior orang-orang berkulit pucat itu.
Ah, semakin ngelantur….

Hm, mataku menangkap sosok itu.
Di cermin seberang ruang sana ada bayang berjubah hitam dengan pisau berlumuran darah di tangan kirinya.
Huh! Sungguh penampilan yang membosankan.
Membuat ngantuk.
Overrated kalau meminjam istilah kaum hipster.
Sepertinya mereka harus sering-sering nonton drama Korea.
Biar tampilan ghotic mereka lebih berwarna layaknya permen.
Hahaha…

Kekonyolan barusan seperti anestesi.
Mengalihkan sementara rasa sakit.

Aduh apa ini…
Ada rasa amis dan asin di kerongkonganku.
Menjalar mencari jalan keluar.
Mendesak-desak layaknya air di pintu waduk.
Bum! Akhirnya jebol juga.
Telinga, hidung dan mulutku penuh darah.
Anyir…

Bumi tempatku berpijak mengalirkan listrik dengan daya volt tinggi ke ubun-ubun.
Semua berputar dan bergetar.
Menampilkan potongan-potongan gambar dari masa lalu yang tumpang tindih.
Tak sempat memperdulikan rasa sakit.
Hanya kebingungan yang mengambang.
Kau tahu, aku hampir mancapai klimaks.
Terengah-engah.
Nyaris sampai.
Dan tiba-tiba ada yang iseng mencabut kesenangan ini.
Sial! Pasti ulah mahkluk berjubah hitam jelek itu.

Semuanya tampak begitu gelap…
Dingin…
Senyap…
Dan
Sepi…


Kamis, 31 Mei 2012

NASIONALISME DI KOTAK AJAIB


Hai isi perut yang sedang bergejolak, tahukah kamu? Sekarang ini tampilan nasionalisme di televisi semakin lebay saja. Melebihi lollipop, terlalu berwarna dan terlalu manis – heran, berapa banyak batang gula dan pensil warna yang disia-siakan demi menarik mata dan merangsang lidah…
Nasionalisme adalah profit. Rasa bangga dan cinta terhadap bangsa sudah menjadi komoditas. Dijual serupa kacang rebus dengan bungkus kertas bekas yang sedikit berminyak; “ini sangat murah, maka belilah. Ayo nikmati selagi hangat…” Seperti wanita berlipstik tebal dengan rok di atas lutut memamerkan paha mulus yang bisa kau temui di pinggir jalan tengah malam; “kau berani bayar berapa? Maka pelayananku akan setimpal. Kecewa dan sesal bukan untuk malam ini sayang…”
Televisi adalah penampil sejati. Ia tahu dengan baik bagaimana cara menanamkan imej di otak-otak yang matanya melotot terpapar radiasi sinar layar kaca tanpa harus terlihat terlalu menggurui dan sok tahu [hmm... bukankah itu terdengar so sweet dan bijaksana sekali. Hahaha]. Di televisi nasionalisme dikemas semenarik mungkin dengan pita warna-warni dan kelap-kelip di sana sini. Biar yang melihat silau matanya dan tergerak hatinya. Siapa yang kuasa menolak tampilan memesona? Ah, taiklah…



*dibuat saat ada gegap gempita sepakbola nasional di layar kaca. Atas nama Nasionalise barisan do’a pun masuk televisi. Sangat berlebihan saudara. Sampai membuat mual… 

Senin, 28 Mei 2012

HAI TUAN CILLIAN MURPHY! KUNOBATKAN KAU SEBAGAI FANTASI...






gambar diambil dari sini

 Damn! Mata yang sangat luar biasa. Superb! Hahaha... :]

PERI-PERI BERSAYAP TRANSPARAN DI MALAM HARI

 
Dia masih perempuan bodoh yang sama. Absurditas yang berulang tak akan membuatnya bosan – dia menyebut dirinya setengah autis. Dengan kenaifan di ambang batas normal itu membuatnya berfikiran; ritual tiap tengah malam dengan mata nanar menantang langit berharap semua dongeng konyol tentang peri itu benar adanya adalah kewajaran yang seharusnya.
Kau tahu? Dalam bayang retinanya, dari ujung langit sana – yang terbatas pandang mata – para peri datang menghampiri. Awalnya hanya berupa titik-titik yang buram dan melelahkan mata. Lantas tak sampai hitungan dua digit detik titik-titik itu berpendar pendar mendekat padanya. Mereka seperti perkakas berbahan logam dan ia adalah medan magnetnya. Tampak begitu menyilaukan serupa serbuk berlian yang disebarkan begitu saja. Dalam jarak kurang dari tiga belas langkah darinya, kilau-kilau itu membentuk kepak sayap transparan yang sekilas tampak rapuh. Lantas dalam satu kedipan mata, voila! Mereka benar-benar membuat silau. Membuatnya tak berkedip.
Dengan tampilan bak Barbie bersayap – meski dalam ukuran sekian sentimeter –siapa yang bisa menolak pesona peri-peri itu? Haturkan sembah sujud pada televisi! Lantas salah satu dari mereka membisikkan sesuatu ke telinganya “apakah kau benar-benar siap ikut dengan kami? Dengan segala anonim yang mungkin akan kau temui di sana?” kepak sayapnya yang berisik hampir menelan suaranya ke dunia tak berpenghuni. “Tentu saja!” jawabnya. “Tak ada yang lebih baik dari tempat dimana semuanya tampak tak bernama,” lanjutnya dengan antusias yang membara. “Baiklah, pejamkan matamu. Berjanjilah kau tak akan membukanya. Tunggulah perintahku. Jangan takut tersesat, kita akan saling berpegangan tangan.” Para peri itu lantas meraih tangannya – begitu hangat, sangat kontras dengan malam yang begitu dingin. Perlahan-lahan tubuhnya melayang menjauhi bumi. Seperti ada sepasang sayap yang tumbuh di balik punggungnya. Semakin jauh dan tekanan udara semakin terasa berat. Dadanya mulai terasa sesak.
Seiring ketinggian yang tak terjangkau mata manusia bumi, tubuhnya pun berotasi semakin masif. Membuat perutnya mual. Punggungnya terasa panas seperti habis terkena sengatan lebah. Apakah sayapnya mengeluarkan asap? Kalau tak ingat janji para peri itu ingin rasanya ia membuka mata. Hanya ingin memastikan apakah ia menuju tempat yang dijanjikan ataukah ia sedang menuju neraka. Ia benar-benar  sudah tak tahan. Semuanya terasa begitu lama. Mungkin roket tak akan selama itu untuk mencapai ruang angkasa. Eh, ia seperti tersadar dari koma, kemana perginya tangan-tangan mungil itu? Tangannya tiba-tiba begitu kebas. Kilatan-kilatan aneh berkelebatan di kepalanya. Apakah prei-peri itu sengaja menyesatkannya ke antah berantah? Atau mungkin mereka adalah utusan iblis yang sedang mencari koloni. Ah, siapa yang tak takut kesepian? Dia mulai merasa gelisah. Serangan tremor memicu kelenjar keringatnya berproduksi lebih dari biasanya. Begitu dingin membanjiri kulit ari. Mungkin benar, rasa takut akan neraka mengalahkan segalanya.
Ketika tubuhnya mengawang dan nyaris mati rasa karena rasa nyeri – benar, percayalah rasa ngeri itu membuat sakit fisik – ia memaksakan diri membuka mata. Tak semudah yang dibayangkannya, rasanya seperti ketindihan setan. Memaksa dan terus memaksa. Akhirnya ia bisa mengerjapkan mata. Benar-benar berhasil membuka mata. Tapi ini tak seperti yang diharapkannya. Ia tak sedang mengapung di angkasa dengan sayap transparan dan peri-peri imut. Ia mendapati tubuhnya telentang di atas kasur. Di tempat dan ruang yang sama. Masih menginjak bumi. Oh Tuhan! Ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya. Tapi ia takut dianggap tak waras. Ia merutuk dalam hati “kenapa selalu berakhir seperti ini? Brengsek!”
Hahaha… ia tertawa sambil menangis. Malam-malam yang selalu sama. Ia yakin itu bukan mimpi. Siklus yang repetitif. Diawali dengan menatap nanar langit di luar berharap peri datang lantas mendapati diri terengah-engah menatap  Langit kamar.
Ia insaf, itu terlalu nyata untuk disebut mimpi. Dan ada satu rahasia yang ia simpan sendiri, peri-peri itu selalu meninggalkan selembar bulu sayap di bawah bantalnya. Hampir-hampir lemari rahasianya tak mampu menampung bulu-bulu itu. Jadi – berulang kali lagi – bagaimana bisa ia menyebut itu hanya sekedar bunga tidur belaka. Huh, itu sungguh melelahkannya. Berpuluh-puluh malam yang sama. Ia merasa seperti CD bajakan yang diputar berulang-ulang kali tanpa jeda, hanya menunggu tamat riwayatnya saja. Tapi ia tak kunjung jera. Karena ia terlalu bodoh untuk tidak menjadi skeptis dan sinis. Sangkanya dunia sudah tak semenyenangkan dan semenarik dulu lagi. Dunia menjelma menjadi sosok nyonya tua astrokat dengan lemak bergelambir dan penuh selulit di sana sini. Sungguh membosankan mata. Ia ingin sembunyi ke atas sana. Dimana semua hal sepertinya anonim. Ya, malam nanti ia akan mencoba peruntungannya lagi. Lagi dan lagi… 

*dengan takaran gula satu sendok dan bubuk kopi tiga sendok mampu membuat mata melek hingga subuh. Walau kompensasinya perut menjerit keroncongan. Aah… kadang peri itu seperti tuhan. Kita tahu bahwa tak ada bukti tentang keberadaannya,  tapi kita tak menyangkal kemungkinan kalau ia mungkin ada. Sial! Lagu-lagu sendu dini hari di radio semakin membuat lapeeer…