Sabtu, 19 Februari 2011

LABIL


Ahh... Tiba-tiba saya rindu keluarga di rumah [sangat], yang selalu hangat meski hujan sepanjang hari. Tapi saat ini saya harus menekan rindu ini kuat-kuat. Sekuat tenaga menahan air mata di ujung pupil... Belum bisa pulang, belum saatnya...


*Dinihari yang labil. Suara-suara pun timbul tenggelam...

Jumat, 18 Februari 2011

BIRU


JAMIROQUAI - Blue Skies
So these are the figurines
Acting out all the scenes before my eyes
I thought I knew them all by name
But they started looking much the same
And it’s no surprise

But I don’t wanna listen
Too much
How can I give up on all the days I know I’ve won
There’s nothing but rainbows
I believe in the shadows

Now honey
Thought I might be dropping out
But now I am gonna work it out
I am gonna work with me
I am runnin’ like it never loose
Then I’m rolling like a rusty ship on a stormy sea

You know that people are saying
Strange things
Talk to the hand ’cause I know you think the face is gone
I don’t wanna listen
Too much
I’m not gonna give up on all the days I know I’ve won
There’s nothing but blue sky
There’s nothing but blue sky

Nothings gonna stop me now
I am skimming like a skipping stone on a silver lake
I take it when the chips are down
But to play the perfect happy clown
You gotta make a mistake (gotta make mistakes)

People are saying
Strange things
And I don’t wanna listen (I don’t wanna listen)
Too much yeah
Nothing but blue sky
Blue Sky

How can I tell you I know this wont be the last song
I don’t wanna listen (I don’t wanna listen)
Too much
Not gonna give up on the days I know I’ve won

That’s where I am going
’Cause there is nothing nothing but blue sky
That’s where I am going
Nothing but
Rainbows falling down on me... uh yeah hey

Nothing but blue sky
Can’t you see
That’s where I am going
Got to believe me
That’s where I am going
Blue skies
That’s where I am going
Blue skies
That’s where I am going 

*Pagi yang biru... Lihat! awan yang itu seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatan seperti kelinci... 
Saya benci diri saya yang suram dan tak bergairah... :]

Kamis, 17 Februari 2011

RAMBUT



Ada apa di rambut saya? 
Kata teman ada sarang laba-laba di rambut saya.Yang saya baru sadar ternyata laba-laba yang hidup di rambut saya, bukan kutu! Kemarin lalu teman saya yang lain menemukan tiga uban di rambut saya. Dia girang bukan main, seperti dia belum pernah melihat rambut selain rambut berwarna hitam dan mejikuhibiniu.Setiap dia menemukan uban, dia selalu menyuruh saya untuk mengoleksinya. Entah apa alasannya, mungkin dia merasa belum ada penduduk bumi yang mengoleksi uban... Dan Hampir tiap pagi di lantai kamar banyak sekali helai-helai rambut yang kadang saya sendiri tidak mampu menghitungnya. Padahal saya paling malas menyisir rambut. Saya lebih mempercayai tangan saya untuk melakukannya. Yaa... sejak dulu saya suka rambut yang acak-acakan. Saya tidak suka rambut lurus berkilau seperti di iklan-iklan televisi, yang lalat-pun pasti tergelincir kalau hinggap disana. Begitulah, mungkin karena saya kurang terlalu suka keteraturan. Jadi... kenapa tiba-tiba ada rambut-rambut di lantai saya. Apakah setiap malam saya mengigau mencabutinya, lalu melemparkannya ke lantai. Kalau begitu, pantas saja setiap pagi, sehabis bangun tidur kepala saya rasanya kaku dan kelu sekali. Rasanya seperti baru dikompres dengan es batu yang berbalok-balok banyaknya... Tapi, rasanya aneh sekali kalau hampir setiap malam saya hanya bermimpi tentang rambut. Obsesi saya bukan rambut. Jadi, mana mungkin alam bawah sadar saya melakukannya...

Ahh... Kenapa rambut saya bisa begitu? Padahal saya tidak banyak berfikir yang bukan-bukan menurut porsi saya.saya tak peduli kalau di luar banyak petir dan badai, setahu saya hanya ada hujan di luar sana. Dan saya pun sedang tidak sakit (setahu saya). Atau... mungkinkah ada alien yang sedang bermutasi ke rambut saya. Waw! Jangan-jangan ada crop circle di kepala saya!



* Hari-hari yang semakin absurd... >.< 

Selasa, 14 Desember 2010

Saya Dirayu Setan Untuk [Menjadi] Sedih



"Seandainya engkau dulu mempunyai keberanian untuk mencintaiku sebagaimana layaknya seorang pria mencintai wanita..."


Ha ha ha... entah setan apa yang sedang bertengger di pundak saya saat ini. Tiba-tiba ia merayu saya untuk melihat di balik punggung.
"Lihat... bianglala itu terus berputar. Sangat cepat. Tak maukah kau memberi jeda?"
"Untuk apa?"
"Apakah kau tak rindu mengulang kenangan? Dibalik jeda, kau bisa memutar balik arah bianglala itu."
"Untuk mengenang apa dan siapa?"
"Tidak-kah kau ingat, di sana pernah duduk seorang anak laki-laki sebayamu. Kalian duduk berseberangan arah. Ingin saling mendekat, tapi sama-sama takut jatuh, karena bianglala sudah terlanjur berputar..."
"Bah! Hentikan khotbah omong kosongmu itu! Aku sedang tak ingin bermain peran dalam drama melankolis."
"Engkau takut bukan?"
"Takut apa?"
"Takut karena tak banyak yang bisa kau kenang."
"Engkau salah... aku masih punya ruang ingatan tentang sosoknya di pojok otakku. Meski tak banyak, paling tidak aku masih punya..."
"Ha ha ha... Iya. Tapi itu kenangan yang berjarak. Ingatan yang tak ramah, dingin dan kikuk. Menyedihkan!"
"Sudahlah! Hentikan celotehan busukmu. Aku tak tertarik memberi jeda. Biarkan bianglalanya terus berputar."
"Kau pikir tadi itu apa hah?! Ha ha ha..."
"Sial! bangsat licik!"

Ha ha ha... Bagus sekali! Terperangkap sekali lagi dalam sirkuit drama mental; melankoli mendalam, sensasi sepi, rasa tak memiliki tempat berpijak. Tak mampu mengebaskannya, hanya menggiring saya dalam medan tangis. 

Ha ha ha... Bukankah ini lucu. Melodramatis bodoh! 

"Silahkan anda menertawakan saya. PEDULI SETAN!!!"

MARI... SAMPAI...


Mari tertawa sekerasnya, sampai perutmu sakit
Mari tersenyum selebarnya, sampai mulutmu kaku
Mari bernyanyi selantangnya, sampai tenggorokanmu kering
Mari menari sebebasnya, sampai kaki dan tanganmu mati rasa

Mari menangis sepuasnya, sampai hatimu kebas
Mari lanjutkan lagi...
Tertawa...
Tersenyum...
Bernyanyi...
Menari...

Dan menangis...
[mari kita ulangi siklus-nya]
                                                                         

UNTITLED


“Engkau ini happy terus ya…”
“Enak ya jadi kamu, hidup kayak gak ada beban”
“Heran, kamu ini pernah punya masalah gak sih. Kog perasaan jarang bahkan gak pernah aku lihat kamu itu sedih atau menangis. Kerjaanmu setiap hari kalau gak tersenyum dan tertawa, sudah seperti orang gila saja. Ha ha ha…”


Begitulah sebagian apa kata mereka [sahabat] mengenai apa yang mereka sebut dengan “kelihatannya” aku ini, yang sepertinya bahagia selalu dan melulu. Tidak sepenuhnya salah memang, tapi tak sepenuhnya benar juga. Apalah artinya hidup tanpa masalah dan air mata. Aku pun pernah. Aku pernah tahu seperti apa rasanya menangis sampai dada seakan mau meledak, saat hati meninju tepat dan telak di belakang tengkuk, membuatku sulit bernafas. Dan otak entah melarikan diri kemana… dasar pengecut licik!

Sayangnya aku bukan tipe “berbagi tangis”. Tapi untung aku masih punya koalisi handal; Dia,  malam, tembok dan bantal. Dengan sedikit mantra: “Malam ini juga aku putuskan. Benamkan tangis dalam bantal, dan lupakan seluruh persoalan itu!”.Dan simsalabim adakadabra,  besoknya aku sudah terinveksi virus amnesia. Atau entah, sulit untuk sedih kalau ada efek terang – siang hari.

Silahkan berbagi kesedihan denganku, kapan saja. Dengan senang hati aku akan menjadi “tempat sampah”, aku punya reputasi sebagai pendengar yang baik [he he he]. Dan aku-pun bisa berubah wujud menjadi badut [ho ho ho].

Tapi maaf, sejauh ini aku hanya bisa berbagi kebahagiaan dan kesenangan. Bukannya ingin sok tegar atau tangguh [lagi pula aku tidak tertarik menjadi superhero atau-pun robot], aku hanya masih sanggup menelannya sendiri. Toh, aku punya otak  yang “aneh”. Sepertinya otakku ini sudah di-setel secara otomatis untuk mengaburkan memori-memori yang mengandung air mata [terimakasih untuk Dia]. Hmm… kadang terfikir untuk memeriksakan kepala ini, berhubung aku punya riwayat pelipis kiriku pernah membentur telak batu cadas [tapi aku lupa rasa sakitnya]. Masih ada bekas jahitannya dipelipis sini, yang kata ibuku bisa jadi penanda kalau suatu saat nanti aku hilang. Ha ha ha, konyol… gawat! otak-ku mulai berhalusinasi…

Aku memang tak bahagia setiap hari, tapi pedih-pun pasti punya rasa bosan. Sedih bukan pula harga mati, senyuman dan tawa pasti bisa merayunya. Mungkin ini soal sudut pandang otak dan tata letak hati. Jadi harus pandai-pandai menata ulang dan mendekorasi-nya. Waaah… sepertinya aku harus belajar tentang design interior. He he he…

Selasa, 07 Desember 2010

KEPALA DAN TEMBOK


Kepala : “Mereka bilang aku sinting.”
Tembok : “Bukannya sinting, tapi unik.”
Kepala : “Tembok yang aneh.”
Tembok : “Engkau lebih aneh lagi.”
Kepala : “Ha ha ha…”

Senin, 06 Desember 2010

DIMANAKAH TOLERANSI?


Dimanakah toleransi?
Apakah ia telah bermutasi menjadi dengkul-dengkul sekeras beton.
Ataukah diam-diam bersembunyi di balik sepatu-sepatu mahal berhak tinggi.

Mungkin pula ia sedang hinggap di lipstik-lipstik merah menggoda.
Pemulas bibir topeng-topeng bersorban agama,
yang merasa matahari muncul dari balik punggungnya.

Toleransi adalah sumpah serapah
Toleransi adalah bogem mentah
Toleransi adalah pentungan
Toleransi adalah batu kerikil
Toleransi adalah kerlingan sinis
Toleransi adalah... adalah... adalah...

Lalu, dimanakah toleransi?
Ooh tidak... kita menyembunyikannya di brankas besi.
Dan, kita lupa berapa kombinasi angkanya...

----------------------------


MULUT-MULUT BERBUSA DI LAYAR KACA


“Lompati detail-detailnya, langsung ke pokok permasalahan dan cari solusinya”

Begitu banyak masalah hukum dan politik di negeri ini. Banyak kasus dengan nominal selangit. Menjadi sorotan publik dan santapan utama media-media mainstream. Lalu televisi ramai-ramai mengadakan perbincangan-perbincangan politik. Membahas secara detail dan kadang mendramatisir. Pengamat dan tokoh politik lalu lalang di televisi. Dan kadang para dewan [yang sampai sekarang saya masih heran disembunyikan dimana urat malunya] yang “terhormat” itu ikut nimbrung, yang entah benar-benar peduli atau hanya ingin ikut numpang tenar saja. Kasus-nya pun semakin tidak karu-karuan. Carut marut seperti benang kusut. Diobok-obok sebatas area “mulut”. Sebatas obrolan di warung kopi. Nikmati selagi panas. Sudahi obrolan saat kopi sudah tak hangat lagi.
Yaa… maklum saja, mungkin tradisi masyarakat kita yang suka basa-basi. Kalau gak banyak omong gak asyik. Kalau gak ngomongin orang gak sip. Mungkin kita ini butuh tiga mulut dan satu kuping. Ha ha ha…
Kemudian… saat obrolan politik itu sudah tak menarik lagi, ayo berbondong-bondong ke kasus baru yang lebih besar dan populer. Toh masyarakat ini gampang lupa. Dan dimulailah pertunjukan. Mulut-mulut berbusa menginvasi televisi. Membanjiri otak-otak pemirsanya. Yang lalu memuntahkannya lewat sumpah serapah, pentungan, lemparan batu dan bogem mentah…