Senin, 07 Januari 2013

DERET LAGU DENGAN EKOR BERSUMBU PELEDAK

 
Apakah kamu punya daftar lagu kesukaan yang bisa kamu fungsikan sebagai sumbu peledak mood? Saat kau nyalakan sumbunya dan BOOM! dirimu yang sedih, gelisah, lelah, jenuh, risau, tertekan dan hal-hal yang bersinonim lainnya akan meledak menjadi kepingan daging yang darahnya muncrat di dinding. Lantas diam-diam karena takut ketahuan kamu satukan lagi kepingan yang berserak itu menjadi dirimu yang berkebalikan.
Baiklah, penggambaran di atas terlihat seperti drama seri pembunuhan berantai murahan. Dan sayangnya saya suka yang murah-murah, hehe.

Jadi, begini begini – hei kamu yang di sebelah sana mari merapat biar lebih hangat – saya mau membicarakan tentang lagu sebagai ‘mood booster’. Pastinya kamu punya kriteria tersendiri untuk memasukkan sebuah lagu ke dalam kategori ini. Begitu pun saya. Tentu saja saya akan memilih lagu-lagu yang danceable: bisa merangsang saraf saya untuk mengetuk-ngetukkan jemari tangan dan kaki, mengangguk-anggukkan kepala, menggerak-gerakkan bahu, menarik-narik ujung bibir untuk sing along. Yang bisa menstimulasi otak untuk memompa dopamin lebih banyak lagi: membuat senyum dan ketawa tanpa pemicu apa dan kenapa, membuat sejenak amnesia bahwa ada ‘kata’ bernama malu dan canggung, membuat halusinasi kanan kiri hingga lupa diri, DAN yang [kadang] sanggup membuatmu meledak!
Dan sebisa mungkin saya akan menghindari lagu-lagu bertipe psychedelic nan mengawang, sisakan itu untuk lagu pengantar tidur nanti malam.

Musik itu ibarat makanan bagi tubuh. Setiap orang pasti punya standar selera makanan yang enak itu seperti apa. Orang lain bilang lezat belum tentu saya bakalan mengamini. Biar kata ahli gizi bilang makanan itu baik untuk kesehatan badan tapi kalau lidah saya tidak sepakat, ya ucapkan saja selamat tinggal sampai jumpa lagi kapan-kapan. Pun begitu dengan musik, biarpun orang lain ataupun para kritikus musik bilang sebuah lagu bagus dan baik-buat-kesehatan-jiwa tapi kalau kuping saya berontak saya tidak akan memaksakannya.
Masalah selera itu masalah kejujuran saya kira. Bukan karena mau dibilang orang apa TAPI mau orang bilang apa, siapa peduli?
Tapi saya tak akan tabu untuk mencicipi sebuah cita rasa baru sebelum memutuskan makanan itu enak atau tidak, membuat ketagihan atau cukup sekedar ‘bolehlah dinikmati sekali-sekali’. Begitu pula dengan musik/lagu yang dikuping saya tidak atau belum familiar saya tak akan sungkan untuk mencoba mendengarkannya dulu sebelum memutuskan suka atau tidak, pantas dijadikan lagu favorit atau hanya sebatas ‘iya, saya pernah tahu dan dengar lagu ini’.

Telinga saya adalah jenis yang lebih responsif dengan musik-musik arus-utama, Iya, sangat overrated memang. Dan saya bukanlah tipe penikmat lagu yang terpusat pada lirik. Saya cenderung seperti ini: sepanjang aransemen musik [sounds yang dihasilkan oleh bebunyian alat-alat musik] dan vokal penyanyinya enak di telinga SAYA maka saya bakalan suka – urusan lirik biar dicari tahu belakangan [salahkan kemampuan multi bahasa saya yang kurang] . ‘Apakah ini terdengar saya adalah tipikal yang dangkal, mudah terpesona tampilan luar?’ Ha-ha. ‘Sangat mungkin, darl… ‘.
Begini: bila ada sebuah lagu yang musiknya groovy tapi liriknya melankoli, bagi saya itu bukan lagu sendu – tetap saja itu lagu untuk ‘hara-huru’. Bayangkan lagu sedih yang di remix remix pake Dj itu, kamu dengan mudah akan kehilangan esensi awal dari lagu tersebut – ‘salam hangat untuk ambiguitas, harimu cerah?’
JADI saya tak peduli lirik lagu yang banal sampai binal sekalipun. Sepanjang saya suka ya suka saja. Kalaupun pada akhirnya saya tahu lirik lagu kesukaan saya begitu keren, itu akan menambah tanda plus plus bagi nilai A yang sudah saya beri jauh hari.

Well, setelah berpanjang lebar mari sini saya kasih tahu daftar lagu yang punya ekor sumbu peledak itu. Tapi saya peringatkan lebih dulu, saya akan se-enak jidat sendiri dalam memberi ulasan dan alasan kenapa saya suka. Ini benar-benar subjektifitas yang total dan loyal. Sepenuhnya dari sudut pandang orang pertama, yang semena-mena pastinya. Jadi jangan merasa heran atau hilang akal bila nanti saya terdengar sok-sokan: sok paling ngerti, sok yang paling ‘iyes’ sendiri sejagad raya, sok bertingkah kayak pengamat musik bintang lima padahal ngerti musik juga baru kemarin sore.
JADI dengan takzim dan tulus ikhlas saya pohonkan kerelaan sanubari anda untuk memaklumi saya.

Nah, ini dia 11 lagu paling membara se-planet merah. Ini tidak enteng. Ini tidak gampang. Perlu perenungan dan ketegaan hati untuk menciutkan sekian puluh kandidat lagu kesukaan hingga tinggal tersisa 11 lagu saja. Pemberian nomor bukan berdasar ranking, tapi semata hasil acak mengacak saja.
So, Hey! Ho! Let’s go…


Intro yang phenomenal, ritme yang asyik buat ‘bergoyang’, ocehan vokalisnya yang ‘membakar’ dari jempol kaki sampai ujung rambut, sayatan gitar ala Dj yang membuat saya benar-benar nyembah minta ampun. Oh tomat merah, ternyata menjadi senang tak perlu uang sekeranjang. Cukup dengarkan ini dan kamu akan melupakan kutipan-kutipan bijak yang bertebaran di jejaring sosial. Ini seperti membeli snack kesukaan dan tanpa disangka ada hadiah uang di dalamnya. Yang uangnya bisa dibuat beli snack itu lagi – eh dapat hadiah lagi, ya beliin snack lagi dong [siklus berulang sampai membuat lidah dan perutmu kenyang kepuasan].

Bila semangatmu sedang bandel dan tak mau diajak kompromi, coba dengarkan lagu Zack De La Rocha dkk ini. Semangatmu akan kembali dua tiga kali lipat. Ayo angkat dan kepalkan tangan kananmu:
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!!
FUCK YOU, I WON'T DO WHAT YOU TELL ME!!!
MOTHER FUCKER!!!!
UGH!!


Tak perlu mushroom atau daun-lancip-yang-pinggirnya-bergerigi, kamu hanya perlu mendengarkan lagu ini untuk tahu rasanya: kaki tidak menjejak tanah dan tangan-tangan tak kasat mata mengelus kepala. Hm, seperti tidur di atas ayunan yang terbuat dari rajutan bunga dandelion yang dipetik saat musim semi.

Saat mendengar lagi ini yang terbayang di kepala saya adalah ‘relaksasi di pinggir pantai sore hari sambil minum teh melati’. Benar-benar membikin lupa hingga membuat mata saya setengah terbuka. “Tidur, tiduur, tiduuur yang dalaaam…” Haha-halah!

‘Swing’ itulah Jungle Fresh. Membuatmu bergoyang meski dalam ritme malas-malasan. Iya, semalas suara vokalisnya. Mereka tampak seperti habis bangun tidur. Mungkin sudah jadi habit empat orang itu. Tapi menjadi malas tidaklah jahat, kadang ia bisa sangat menyenangkan.

Hei hei ayo ayunkan tubuh dan tanganmu ke kanan dan ke kiri ikuti ketukan iramanya:
There you go!
Get the cool!
Get the cool shoeshine!
Get the cool!
Get the cool shoeshine!
Get the cool!
Get the cool shoeshine!
Get the cool!
Get the cool shoeshine!


Jenis musik yang paling sulit bersahabat dengan telinga saya adalah musik yang sound-nya didominasi oleh Dj dengan seperangat turntable-nya. Macam musik House, Remix, Trance dan lain sejenisnya yang biasa diputar di klab-klab. Jedak jeduk itu membuat kepala saya berputar tanpa kendali dan akhirnya meledak membentur dinding. Membuat disorientasi mendadak hingga tanpa sadar membuat hidung saya mengeluarkan darah. Haha, makanya saya tak pernah mau kalau diajak ke klub malam. Bukan apa-apa, saya hanya tak tahan dengan suara yang memalu  dan mengkapak kepala tanpa ampun itu DAN oh: invasi permainan cahaya-tajam-beraneka-warna-ragam yang intens menusuk mata – sangat mungkin akan membuat pupil saya menangis darah [harfiah]

TAPI, saya bermurah hati memberi pengampunan  kepada musik Dubstep. Jenis musik yang meski pakai Dj masih tetap bisa membuat saya menghancurkan-seisi-kamar-tanpa-sadar. Saya masih bisa melakukan gerakan memutar-mutar kepala sampai leher patah, membentur-benturkan tubuh secara brutal pada ‘lingkaran-setan-tak-kasat-mata’ YANG biasanya hanya bisa kamu lakukan di konser-konser Metal.

Dan Skrillex adalah salah satu ksatria berkudanya. Saya tak ambil pusing dengan kontroversi yang mengekor di pantatnya. Selama saya masih bisa menikmati musiknya cukup sudah.

Scary Monster And Nice Stripes selalu berhasil membuat saya meledak dan ber-ejakulasi dini. Tutup rapat pintu kamar dan kencangkan volumenya sampai batas maksimum. Siapkan kuda-kuda yang kokoh karena kamu akan dihajar secara sporadis dengan dentuman-dentuman tanpa jeda. Tapi alih-alih bersiap untuk melawan, kamu malah sibuk memunguti serpihan otak, hati, jantung, lambung, pankreas, usus yang tiba-tiba berserakan di lantai kamar. DAN teriakan ‘YES OH MY GOSH!’ yang garang tapi seksi itu langsung membuat orgasme! JADI siapkan tisumu! Hahaha…


Lagu yang hebat! Saya bisa tahan mendengarkan lagu ini seharian. Tidak, tidak ada kosakata bosan. Sangat jarang ada lagu yang bisa membuat saya ‘pura-pura lipsing di depan cermin sambil menggerak-gerakkan badan dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah saya’. iya! Tiba-tiba muka saya begitu ekspresif. Benar-benar Awesome! Hehe, konyol sih, tapi menggembirakan lho.

Saya ikut larut dalam suasana yang berhasil dibangun lagu ini: rasa senang karena baru saja bebas dari penjara setelah sekian lama namun juga sekaligus was-was apakah seseorang yang dicintainya masih menunggu dan menginginkannya,
I'm comin' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me, if you still want me.
Whoa, tie a yellow ribbon round the ole oak tree
It's been three long years, do you still want me?
If I don't see a ribbon round the ole oak tree
I'll stay on the bus, forget about us, put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the ole oak tree.

Dan whoa, ternyata seseorang itu masih setia menunggunya,
Now the whole damned bus is cheerin'
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons round the ole oak tree
I'm comin' home.

Akhir yang bahagia, saudara. :]


Yang saya suka dari lagu ini adalah aksen British-nya yang kental. Kaku dan terkesan terpotong-potong [haha, seperti daging saja], agak aneh sih tapi masih enak didengar telinga. Kadang saya suka ikut niruin [bagian verse-nya yang kayak ngomel sendiri itu] hanya sekedar buat lucu-lucuan. Dan saya pun tiba-tiba merasa seperti Harry Potter dan ala komentator bola Liga Inggris abal-abal.

Nah, saya juga suka bagian chorus-nya:
All the people
So many people
They all go hand in hand
Hand in hand through their parklife


‘Oh yeah, oh yeah, ah, ah, ahh. Oh yeah, oh yeah, ah, ah, ahh’
Oh yeah, mood saya kembali baikan! Sekarang dia sudah asyik teriak-teriak  sama saya sambil bentur-benturin kepala ke tembok. Hahaha…

Mereka [Led Zeppelin] seperti asyik bermain dengan pola pengulangan-pengulangan di lagu ini tapi jatuhnya tidak jadi monoton, sanggup membuat sing along dari awal sampai akhir. DAN lead-lead gitar yang luar biasa gila itu. Oh, mereka berhasil membuat saya ‘sinting’!
Aarghh… ayo putar yang lebih kencang. Mari sinting sampai pening.
I gotta roll, can't stand still,
Got a flaming heart, can't get my fill.
Eyes that shine burning red,
Dreams of you all through my head.
Ah-ah
Ah-ahh ah-ah
Ah-ah ah-ah
Ah-ah ahhh.


‘Oh well, oh well, oh well’  adalah baris kata berbisa di lagu ini. Mengadiksimu dengan menancapkan taring beracunnya secara terang-terangan dan kamu suka.
Suara gitar yang sepintas terdengar berantakan dan asal nyaring itu mungkin diawalnya akan membuatmu agak terganggu. Tapi lama-lama saat kamu sudah mulai akrab, kamu tak akan sungkan untuk jatuh hati padanya.

Coba dengarkan abang Jack yang asyik meracau sendiri seperti sedang bermonolog. Dia seperti sufi yang kusyuk berdo’a dengan mata terpejam dan mulut komat-kamit,apakah ia sedang ekstase? Dan saya pun sebagai seorang hamba ikut takzim mengangkat kedua tangan di depan dada sambil bersenandung lirih ‘amin-amin-amin’, seraya mengangguk-anggukkan kepala.
Oh well, Hallelujah! Tuhan memberkatimu Jack White.


Saya suka bagian intro dan verse-nya yang ber-rima, jadi nyaman dan enak didengar telinga:
Yeah yeah
Yeah yeah
Yeah yeah
Yeah yeah.
I've broken every law
All the words come out my broken jaw
I don't know anything
But then I act like I know everything.
Don't want to talk about it
What do you see when you dream about it?
I had been broke down from my enemies
I'm drifting farther from my memories.

Dan isntrumennya pun asyik buat mengayunkan tungkai kaki dan mengetukkan jemari tangan.


18 and life, you got it
18 and life, you know
Your crime is time and it's
18 and life to go.
18 and life, you got it
18 and life, you know
Your crime is time and it's
18 and life to go.

Sebastian Bach: lelaki rupawan dengan suara menawan. Meeen… bagaimana mungkin orang bisa mempunyai suara sedasyat itu. Apakah ia nemu di jalan atau hasil dari membujuk tuhan?
Hahaha, whatever. I like you, Bach. Kalau saja sekarang saya berada di masa lagu ini, saya rela menjadi groupie-mu. Huwahahaha… :p

Lirik lagunya memang tragis. Tapi bagi sebagian orang hidup itu keras, bung!
Namun lengkingan mas Sebastian di telinga saya tidak terdengar keras kok, malah terdengar seperti lulabi. *tsaaah…

Jangan lupakan solo gitar yang superb itu. Membuat saya berlagak menjadi kontestan dalam kompetisi ‘Air Guitar’ nomer wahid. Hehe…


Saya sabar menelan celotehannya [mungkin karena ulah aksennya] demi mendengar baris kata yang terus-terusan nancep di kepala:
‘Cause you need me, man, I don’t need you
You need me, man, I don’t need you
You need me, man, I don’t need you at all
You need me, man, I don’t need you.
Ini ibarat antri panjang [sambil berdiri pula] di warung langganan yang terkenal enak. Kaki pegel-pegel sih, tapi worth it lah ya demi sebungkus nasi kesukaan.

Coba dengarkan baik-baik saat ia mengambil nafas di antara jeda ‘You need me, man, I don’t need you’ dengan baris seterusnya, apakah kau bisa merasakan tarikan nafasnya yang seperti kecapekan karena habis mengelilingi lapangan bola tujuh putaran itu? [ya iyalah, berceloteh secepat itu siapa yang bisa menyembunyikan rasa lelah]. Hei, bukankah itu terdengar seksih? Hehe… 
Satu lagi, kamu akan semakin suka kalau ditambah lagi dengan menonton video klipnya.


GREAT! That’s it.


Iya, itulah mereka.
‘Hei, apakah itu daftar lagu mood booster sepanjang masa?’
Haha, terlalu berlebihan. Saya bukanlah golongan umat die-hard fan. Bila saya ketemu lagu lain yang lebih ‘mantaps’, ya berubah lagilah itu list lagunya. Makanan-pun akan membosankan bila dikonsumsi sering-sering. Mencari-cari varian baru sebagai selingan, siapa tahu ia bisa membuat saya ketagihan [lagi].
Saya akan melanjutkan misi mengais-ngais puing sisa peradaban di tahun-tahun yang kemarin. Siapa tahu saya bisa menemukan sekotak harta karun berisi musik yang asyik – lainnya.
Iya. Saya angkat tangan, menyerah kalah kalau ditanya soal lagu-lagu yang up-to-date belakangan ini. Benar, saya nggak gahol. Tapi, whatever-lah, ini kan masalah selera, terserah si saya dong ya?

Ehem. Iya benar lagi, mungkin kamu bilang saya labil dalam menetapkan lagu pilihan yang permanen. Tapi begini tuan, sekarang ini bagaimana anda mau menjadi ‘penggemar berani mati’ kalau para pahlawan one-hit wonder  telah menancapkan pedang popularitasnya di seluruh penjuru dunia? 


Minggu, 06 Januari 2013

ASLEEP


Lagu pengantar tidur, tuan-tuan...

 
Sing me to sleep
Sing me to sleep
I'm tired and I
I want to go to bed

Sing me to sleep

Sing me to sleep
And then leave me alone
Don't try to wake me in the morning
'Cause I will be gone
Don't feel bad for me
I want you to know
Deep in the cell of my heart
I will feel so glad to go

Sing me to sleep

Sing me to sleep
I don't want to wake up
On my own anymore

Sing to me

Sing to me
I don't want to wake up
On my own anymore

Don't feel bad for me

I want you to know
Deep in the cell of my heart
I really want to go

There is another world

There is a better world
Well, there must be
Well, there must be
Well, there must be
Well, there must be
Well ...

Bye bye

Bye bye
Bye ...


 

Rabu, 02 Januari 2013

MEREKA BILANG AKU GILA: MEMOAR SEORANG SKIZOFRENIK


Inilah “sisi dalam” seorang penderita skizofrenia. Hidupnya dikuasai “para iblis” di dalam kepalanya yang selalu menyuruhnya bunuh diri. The Day the Voices Stopped: A Memoir of Madness and Hope [Mereka Bilang Aku Gila: Memoar Seorang Skizofrenik], yang dialihbahasakan oleh Rahmani Astuti dan diterbitkan oleh Qanita, Bandung, ini memaparkan pergulatan pengalaman pribadi penulisnya.

Penukil: Dharnoto

Suara-suara itu datang tanpa peringatan pada suatu malam bulan Oktober, saat aku berumur 14 tahun. “Bunuh dirimu – bakar tubuhmu,” kata mereka. Beberapa menit sebelumnya, aku mendengarkan kelompok musik Frankie Valli and the Four Seasons, dari sebuah radio di samping tempat tidurku.
Suara-suara itu bernada rendah dan mendesak, mengejek, dan menertawakan, terus berbicara kepadaku dari radio. “Gantung dirimu. Dunia akan menjadi lebih baik tanpamu. Tak ada yang baik padamu, tak ada kebaikan sama sekali.”
Setiap kali aku berada di dekat pesawat televisi atau radio, suara-suara itu menjadi semakin keras dan kuat, dan tampaknya semakin banyak jumlahnya. Mereka seakan-akan sedang menulis dan menyutradai kisah hidupku, menyuruhku melakukan apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan.
Ketika ayahku bertanya tentang apa yang kami lihat di televisi, apa yang kuketahui, bagaimana pendapatku, aku melakukan apa yang diperintahkan suara-suara itu: meletakkan kedua tangan menutupi telingaku dan berbalik memunggungi dia.
Ayah marah besar. Lalu apa yang dikatakan suara-suara itu? “Anak tak tahu terima kasih, lihat apa yang telah kamu lakukan. Kamu telah mengecewakan ayahmu. Orangtuamu layak mendapatkan anak yang lebih baik daaripada kamu.”
Lalu, ketika Ibu dan Ayah memberitahuku bahwa mereka sedang menantikan seorang bayi, suara-suara itu lebih tahu. Mereka telah memastikan bayi itu laki-laki. Mereka membuat seakan-akan bayi itu bicara denganku. “Aku akan datang. Aku akan lahir,” calon adikku berbisik dengan bengis dari dalam perut ibuku yang membesar. “Kamu harus pergi!”
Aku juga didatangi bayangan-bayangan aneh: bentuk-bentuk tidak jelas yang bergerak di depan mata pikiranku.
Terkadang, bayangan-bayangan itu muncul lebih jelas, tapi hanya selama beberapa detik. Bayangan-bayangan visual datang dan pergi, tapi suara-suara itu selalu menemaniku – kadang meraung di telingaku, kadang berceloteh di latar belakang. Semakin lama aku semakin cenderung mematuhi perintah-perintah mereka.
“Oke, aku akan membakar diri… Aku akan gantung diri. Ya, ya, aku akan bunuh diri.” Saat itu bulan Agustus. Setelah aku mendengar ibuku menjerit dan ayahku mengguncang-guncang tubuhku, barulah aku sadar bahwa aku telah memuntahkan kata-kata itu di ruang keluarga di depan seluruh keluargaku.
Aku pun lari dari rumah. Aku lari ke hutan. Malam itu, aku melakukan tiga percobaan untuk mengakhiri hidupku. Pertama, aku berdiri di atas kursi, lalu mengikat tali itu ke leherku. Namun, aku tak berhasil menendang kursi itu supaya jatuh. Aku gagal. Aku turun dari kursi. Dengan airmata bercucuran di wajah, aku mencari cairan bahan bakar dan menuangkannya ke kepalaku. Aku tak sanggup menyalakan korek dan membakar diriku.

Suara utusan iblis
Setengah berlari, dalam kebingungan aku menyeret tubuhku sepanjang satu mil menuju Rute 69, sebuah jalan padat lalu lintas. Rencanaku, melompat ke depan sebuah mobil. Aku berdiri di sisi jalan. Namun, aku melihat lampu sorot di atas mobil. Bagaimana jika itu mobil polisi? Bagaimana jika polisi itu datang untuk menahanku? Dengan panik aku berlari kembali dari jalan.
Besok malamnya orangtuaku mengajak menemui Dr. Sullivan. Setelah berbicara denganku, dokter itu bicara dengan Ayah. Wajah Ayah berubah. Setiba di rumah, aku bertanya pada Ayah tentang penyakitku. Ayah memberi selembar kertas, bertuliskan: “Skizofrenia.”
Pukul 10.00 kesokan harinya, aku sudah berada di perpustakaan, mencari arti kata itu di kamus kedokteran. Ternyata penyakit jiwa!
Suara-suara itu membesarkan volumenya dan mengejekku. “Ibu dan ayahmu ingin kamu lenyap dari kehidupan mereka.” Pelan-pelan aku mulai mempercayai pesan suara itu bahwa setiap orang di rumah menginginkan aku pergi – setiap orang. Kecuali nenek.
Suatu sore di bulan Agustus, nenek sedang duduk menjahit. Dengan tergagap karena takut dan malu, kuceritakan kepada nenek tentang suara-suara itu. Nenek menatapku tajam. Dari nenek kutahu, suara-suara itu utusan iblis, yang diperintah untuk menyiksaku. Aku menyatakan perang melawan mereka.
Namun, aku harus mencari tempat berlindung. Beberapa hari kemudian, aku pergi ke gereja Katolik Roma di Waterbury. Saat misa, suara pastur diikuti oleh suara-suara yang ada dikepalaku. “Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Kenny mengira bisa terbebas dari kami.” Mereka mengejek. “Kamu tak akan pernah terbebas dari kami. Tak ada ampunan,” kata satu suara. “Tak ada pembebasan,” tambah yang lain. “Tak ada keringanan atas dosa-dosamu,” tegas suara ketiga
Tiba-tiba jemaat gereja membengkak jumlahnya, semua menatapku dengan pandangan menghina, marah dan benci. “Musuhmu ada  di mana-mana di sekelilingmu. Mereka tahu kamu dikutuk di neraka. Pergilah, lakukan perintah mereka. Mati.” Sambil terhuyung-huyung aku lari meninggalkan gereja.
Menurut keyakinan umum, skizofrenia merupakan penyakit yang diturunkan dalam keluarga. Ketika aku bertanya apakah ada saudara ibu yang mengidap penyakit mental, ibu ingat ada seorang bibi dari generasi nenek buyut yang “terus-menerus berbicara dengan Yesus.”
Tidak peduli apapun alasannya, aku sudah hancur berkeping-keping di mata semua orang. Sebelumnya, aku murid teladan. Kini aku mulai gagal dalam pelajaran, sering membolos, dan malah pergi ke mana pun yang dperintahkan suara-suara itu.

Dibayangi suara
Kini aku mengerti, perubahan yang berarti dalam nilai pelajaran – dari sangat baik menjadi sangat buruk – merupakan tanda awal seorang anak sedang menghadapi kesulitan. Juga, mengasingkan diri merupakan salah satu gejala paling umum dari penyakit ini, dan keluarga harus memperhatikan hal itu. Aku memang tak punya alasan untuk meninggalkan kamarku. Dalam kepalaku ada bermacam ragam karakter yang membuatku sangat sibuk.
Pada tahun-tahun awal penyakit itu aku masih dapat bolak-balik di antara dua duniaku. Namun, aku terjerembab semakin dalam ke “neraka”, tempat suara-suara itu mengambil alih kekuasaan atas diriku. Selama lebih dari setahun, aku ketakutan pergi keluar untuk sekedar mengambil surat karena paranoiaku. Jantungku akan berdegup kencang dan keringat mengucur di wajahku saat memikirkan bahwa aku harus berjalan keluar pintu depan. Aku akan mengintip dari balik tirai kamarku, dengan obsesif mengawasi mobil-mobil dan orang-orang yang lewat.
Bagiku, ayah adalah setan paling besar. Hubungan kami telah memburuk sampai pada titik saat kami tidak bisa berada di satu ruangan atau di bawah atap yang sama. Aku takut dia akan mempergokiku berbicara dengan suara-suaraku, yang terjadi semakin sering.
Membaca dan menulis tetap menjadi aktivitas satu-satunya dalam hidupku yang dapat membebaskanku dari suara-suara itu. Jika kupusatkan perhatian pada cerita yang kubaca atau entri-entri yang kutulis dalam buku harianku, konsentrasi itu akan menurunkan volume suara-suara itu dan sekali-sekali bahkan dapat membungkam mereka.
Usiaku 17 tahun, usia yang sudah mencukupi bagi seorang pemuda – dan orang yang tidak bersekolah – untuk diharapkan mendapatkan pekerjaan dan punya nafkah sendiri. Ayah sudah memperingatkan, “Saat kamu berumur 18 tahun, semua kewajiban ibumu dan aku atas dirimu sudah berakhir.”
Akhirnya, aku merantau ke New York, tingal di apartemen kumuh, sendirian. Aku diterima bekerja sebagai pesuruh di penerbit Women’s Wear Daily. Setiap hari Sabtu, aku menenggelamkan diri di New York Public Library. Namun, buku dan pekerjaanku tak memberi perlindungan bagiku. “Pergilah berjalan-jalan, Kenny. Carilah bangunan yang tepat untuk melompat. Kamu punya waktu dan kesempatan.” Suara-suara itu terus menguntitku.
Aku berkenalan dengan Ted, pemuda rapi dan baik hati, yang sering mentraktirku makan siang. Aku merasa aman bersamanya. Setidaknya, aku tidak sendirian lagi.
Mengejutkan, sekitar dua bulan bekerja, aku ditawari posisi sebagai asisten redaksi di Majalah Men’s Wear, terbitan Fairchild lainnya. Selain bertugas menulis, aku juga membantu redaktur pelaksana soal mesin dan tata letak.
Celaka, suara-suara itu datang lagi. “Kamu tak bisa hanya duduk dan pura-pura sibuk. Mereka berharap kau menangani sesuatu, dan kamu tak akan mampu melakukannya.” Maka, pikiranku berkeliaran ke dunia suara-suara selama beberapa jam setiap hari, sementara tubuhku tetap di depan mejaku. Tiba-tiba, redaktur pelaksana berdiri di depanku, “Kau belum menyelesaikan pekerjaan itu?” Ia mengambil bahan tulisan di tanganku, “Kau jelas-jelas belum mengoreksinya dengan teliti!”
Aku semakin sering berbuat kesalahan, semakin sering diperingatkan, tapi siksaan mental itu mencegahku mempedulikan peringatan itu. Ada kekuatan besar mempengaruhi hidupku. Hanya enam bulan aku berhasil bertahan di dunia kerja yang nyata. Aku diberhentikan.

Terperosok jadi pelacur
Akhir agustus 1966, uangku tinggal beberapa dolar dan aku pasti diusir dari kamarku karena tak mampu membayar sewa. Ted menemuiku dalam tampang yang berantakan. Ia menyuruhku membersihkan tubuh, memakai celana jins putih ketat, dan menyisir rambutku.
Di sebuah kafe, ia mengenalkan pada Nick, yang menanyakan keadaan keuanganku. Ia langsung ke inti pembicaraan, “Sekarang kau bekerja untukku.” Lalu ia mengemukakan pengaturan untuk “mempekerjakan” aku, “Teddy akan memberi tempat tinggal, makan, dan pakaian padamu. Teddy yang akan memakaimu pertama kali, sebab dia yang merekrutmu. Aku akan memakai kamu kalau aku sedang ingin nanti. Akan ada para pelanggan – pria-pria lebih tua – yang menyukai anak-anak muda. Tugasmu membuat mereka senang. Semua janji dan pengaturan uang aku yang tangani. Kamu berikan setiap tip dan hadiah padaku, dan aku akan meberikan sebagian jika kupikir itu layak kau peroleh. Jelas?”
Selesai berhubungan seks dengan Ted di apartemennya, suara-suara itu datang lagi. “Bagaimana pendapat pendeta tentangmu sekarang? Apa kata nenek jika dia tahu apa yang dilakukan si kecil Kenny?... kau pelacur lelaki menjijikkan. Bocah busuk, kau benar-benar layak mati. Mati. Mati.”
Benar, dengan sebagian dari diriku yang telah mati, masuklah aku ke dunia prostitusi pria. Menjadi pelacur seperti ini ada persamaannya dengan penderita skizofrenia: hal yang aneh dianggap normal. Aku menjadi kedua-duanya sekaligus.
Sebagai pendatang baru, aku sangat laris. Namun, sesudah berkencan dengan beberapa pelanggan, larut malam atau dini hari, aku kembali ke apartemen, dan Ted telah menungguku untuk mengambil “jatah”-nya. Melayani sekaligus semua lelaki, aku tak kuat lagi. Ted bilang, itu bagian dari kontrak kami. Ia lalu menyuruhku menemui Nick.
Hiii … bos berwajah seram itu. Memasuki apartemen mewahnya, hatiku berdegup. Ia menungguku tanpa kemeja. Dada dan punggungnya penuh bulu, aku jijik. Berkilah mau membersihkan diri, aku langsung kabur. Memang, sebaiknya aku mengikuti saja perintah suara-suara itu. Lagi pula aku tak membayangkan jika Ted dan Nick serta para begundalnya bisa menemukan diriku. Lebih baik kurancang sendiri kematianku.
Aku sudah berada di tepi atap sebuah bangunan. Kakiku menggantung di sisinya, dan memandang ke bawah, mencoba menentukan titik paling tepat untuk menjatuhkan tubuhku di atas tanah. Hanya saja, dalam sekejap atap dipenuhi banyak sekali orang – polisi, petugas pemadam kebakaran, petugas ambulans, dan suara-suaraku. “Lihat semua orang itu. Mereka ke sini untuk mendorongmu jatuh jika kamu tak melakukannya sendiri. Pengecut. Lakukan sekarang.”
Seorang lelaki berjas dengan lembut membujukku, “Aku bisa membantumu. Ada obat yang membuat suara-suara dalam  kepalamu pergi. Mari ikut aku.” Kubiarkan ia merengkuh tanganku. Tanpa disentuh oleh polisi, ia membawaku ke ambulans di bawah. Dalam keadaan dipegangi dan diikat ke tempat tidur, aku dibawa ke unit gawat darurat Manhattan State Hospital di Wars Island. Saat itu, Desember 1966, lebih empat tahun sejak suara-suara itu mengangguku.

Labirin psikotik
Rumah gila. Kini aku berada di dalamnya. Suntikan obat penenang thorazin dosis tinggi membuatku lemah dan buta sementara. Aku terbaring selama dua bulan lebih, dan tak ingat apa pun.
Setelah kelopak mataku dibuka paksa dan bisa melihat kembali, aku dibawa menghadap ke sidang para dokter dan hakim. Kata salah seorang, “Anda punya saudara selain keluarga dekat untuk bisa kami hubungi? Kami telah hubungi orangtua Anda, tapi mereka bilang, umur Anda sudah18 tahun, dan hidup mandiri.”
Jantungku melesak. Aku telah didepak oleh orangtuaku! Tak ada seorang pun di atas bumi ini yang peduli denganku. Aku mulai bicara, tapi kata-kata itu tumpang tindih satu sama lain, terputar balik, tak dapat dimengerti. Apa yang terjadi padaku? Aku berjuang mengungkapkan satu pikiran, “Tolong. Aku tak tahu apa yang sedang menimpaku.” Namun, yang didengar dokter, aku hanya berceloteh.
Untunglah, di tengah komunitas yang mengerikan ini, masih ada perawat yang mau membawakan aku beberapa Majalah Reader’s Digest dan buku Catcher in the Rye. Tenggelamlah aku dalam bacaanku, terpisah dari dunia orang-orang gila itu.
Ketika aku mulai betah, dan memiliki seorang sahabat senasib, Anthony, suatu hari seseorang datang menjengukku ke rumah sakit. Ah, Teddy. Mengaku sebagai familiku, ia mengajakku kabur. Setiba di apartemennya, Ted langsung membawaku ke tempat tidur. Setelah selesai, kutegaskan bahwa aku tak mau jadi pelacur lagi. Ted mengingatkan agar aku jangan main-main dengan Nick, “Dia mengharapkan kau kembali. Dia bahkan sudah mencatat daftar  panjang untuk kencanmu.”
Setelah berbaur dengan pergaulan keras orang-orang sakit jiwa di rumah sakit, Nick bukan lagi sosok yang menakutkan bagiku. Dengan naik taksi aku kembali ke rumah sakit. Aku dikirim ke Harlem Valley State Hospital. Sayang, para stafnya tak terlalu suka membantu. Tak ada yang mau membawakanku buku. Atmosfer di sini amat berbau seks. Lebih dari sekali aku memergoki hal itu di kamar mandi.
Beberapa malam kemudian , dua orang pria memasuki kamarku. Aku kira mereka petugas. Mereka memerintahkanku untuk bangun. Mereka mengikat tanganku di belakang dan menutup mataku dengan kain kasar, lalu membawaku ke kamar mandi. Mereka membasahi dan menyabuni tubuhku. Aku tak bisa bergerak sama sekali. Mereka menyeretku ke kamar pengasinganku kembali. Lalu, mereka bergantian menindihku. Gelombang demi gelombang kesakitan yang semakin meningkat kurasakan di seluruh tubuhku. Suara-suara itu menyorakiku.
“Pelacur … babi betina … kamu Cuma seonggok daging. Kamu jadi budak sekarang, pelayan semua pria. Kami menyuruhmu untuk mati. Gantunglah dirimu. Selesaikan ini, Kenny. Akhiri ceritanya di sini.”
Aku dilarikan ke sebuah rumah sakit kecil di dekat Connectikut, menjalani pembedahan untuk memulihkan luka pada otot lingkar dubur akibat perkosaan itu. Lewat televisi yang dinyalakan perawat di kamarku, suara-suara itu datang lagi. Berbeda dengan sebelumnya, mereka mencurahkan perhatian pada kemarahanku. “Kamu harus membalas dendam, Kenny. Beri mereka pelajaran. Kami mencari cara supaya kamu bisa membalas dendam sampai tuntas.”
Setelah dirawat tiga minggu, aku dikembalikan ke Harlem Valley, ke ruang perawatan yang dihuni para manula. Beberapa menganggapku anak atau cucu mereka. Dua orang nenek menyatakan bahwa aku ayahnya. Yang lain percaya bahwa aku suaminya dan mencaciku karena tak mau menemaninya. Ada yang berkeras dialah presiden Amerika Serikat. Ada pula dua pria yang mengaku sebagai Musa. Dua orang lainnya menyatakan diri sebagai Yesus.
Beberapa bulan di sini, aku masuk daftar pembebasan. Anthony, sahabatku, dibebaskan lebih dulu. Setelah aku dan Anthony saling mengucapkan selamat tinggal, Tuan Marks, pekerja sosialku, berkata, “Jika kamu punya keluarga yang memintamu pulang, kesempatan dibebaskan jauh lebih besar. Tapi itu mustahil. Orangtuamu punya anak kecil dan mereka tak berani menanggung akibatnya.”
Ayah ibuku telah menghubungi rumah sakit, telah bercerita tentang adikku, malah telah mengirimiku uang. Namun, mereka tak pernah mengunjungiku, bahkan tak pernah meneleponku. Jika orangtuaku mau mendampingiku sajak awal dan mau mendukungku, mungkin akan berpengaruh baik pada penyakitku.
“sudah kami bilang kalau ini akan terjadi. Bayi itu sendiri sudah memberitahumu, dulu sekali ketika ia masih ada di perut ibumu.” Suara-suara itu seperti mendapat kemenangan. Aku mulai lebih sering berpikir tentang bunuh diri. Aku bertanya-tanya, hidup saperti apa yang terbentang di depanku. Satu-satunya teman sejatiku, Anthony, sudah pergi, dan aku sudah dibuang keluargaku sendiri. Mungkin aku memang akan dibebaskan suatu hari – tapi untuk apa? Aku belum pernah merasakan begitu sendirian sebelumnya.

Menemukan jati diri
Hanya suara-suara itulah yang kumiliki. Mereka mendesakku untuk melarikan diri. Kadang-kadang aku melihat suara-suara itu. Penampakan itu nyata – dan mengerikan. Si Penguasa, yang suaranya paling dominan, adalah iblis – bukan setan dengan wajah merah dan bertanduk, melainkan seekor makhluk serigala yang lebih besar  daripada serigala betulan, berdiri tegak dengan dua kaki. Suara-suara lain, setan-setan yang lebih kecil, adalah sekawanan anjing, tapi juga manusia.
Mengikuti instruksi mereka, akhirnya aku melarikan diri ke Boston. Dua bulan aku berkeliaran di kota ini, tidur di emperan toko, membuat tempat tidur dari daun-daun kering di taman. Untuk makan, aku mengais-ngais kotak sampah di belakang restoran, bersyukur jika menemukan sisa makanan yang telah dibuang. Orang-orang menyisih saat aku lewat.
Ah, aku tertangkap lagi. Aku tetap membisu karena lelah berbicara. Akibatnya, aku dikirim ke Westboro State Hospital. Di sini aku mengganti identitas, bahkan namaku menjadi K. Shannon Steele. Dengan penuh pengertian, seorang perawat memperhatikan perubahan dalam diriku. Aku ditempatkan di rumah transisi, Kampus Westboro, tempat para pasien yang dianggap bisa hidup lebih mandiri.
Di sini aku menunjukkan bakatku sebagai koki kepala. Bahkan, aku diterima bekerja di suatu panti wreda. Inilah periode stabil bagiku. Saat-saat paling produktif, ketika aku berhasil membangun harga diri. Aku membutuhkan pekerjaan yang dapat memberi  makna dan bukannya diberi tugas untuk sekedar membuatku sibuk.
Dua minggu bekerja di dapur panti wreda, aku dipanggil kepala perawat. Aku ditawari jadi asisten perawat. Kujalani tugas itu, yang selama delapan bulan mendekatkan aku pada kehidupan normal. Tiba-tiba, suatu malam aku mendapat kabar, perawat McCarthy yang telah berjasa padaku itu diserang pasien yang baru masuk. Bayi yang dikandung perawat itu lahir prematur, hanya bisa bertahan hidup tiga minggu.
Suara-suara itu langsung menyerangku. “Jika bukan karena kamu, perawat McCarthy tak akan kehilangan bayinya. Dia berencana cuti hamil, tapi kamu datang. Ada korban bayi lagi, kau tahu? Berapa banyak lagi orang yang akan kau sakiti? Kau harus mati supaya orang lain hidup. Kapan kau akan menjalankan perintah kami? Bunuh diri, itulah satu-satunya jawaban.”
Dilanda badai psikotik seperti itu, aku jadi jijik pada diri sendiri. Aku sudah berusaha keras meraih kehidupan yang berguna, tapi setiap usaha justru mendatangkan bencana dan aku kembali di tempatku semula: terkutuk berkelana di dunia sendirian.
Cepat kukemasi barang, lalu aku kembali ke jalanan. Tidur di toilet umum. Terpaksa menumpang trailer-traktor zbesar menuju Chicago, dengan imbalan “pelayanan seksual tertentu.” Dari sopir itu aku berkenalan dengan alkohol, yang ternyata membantuku meredakan suara-suara itu.

Melompat dari Golden Gate
Aku terseret lagi masuk dunia gay, dan “ditemukan” seorang anak jutawan, Karl, yang membawaku pergi naik pesawat dan tinggal di hotel berbintang. Aku sangat terpukul ketika beberapa hari kemudian Karl ditemukan mati bunuh diri.
Kembali kususuri jalanan Kota Denver, meringkuk di emperan toko. Suara-suara itu menuntunku berjalan satu setengah hari menyusuri Highway 25, menunggu truk berukuran besar untuk melemparkan tubuhku di depannya. Sayang, polisi meringkusku, dan mengirimku ke Pueblo State Hospital di Pueblo, Colorado. Aku diasingkan dalam sebuah lemari besar. Amat tersiksa. Beruntunglah orangtuaku turut campur mengeluarkan aku dari “neraka” ini.
Setelah sepuluh tahun menghilang, akhirnya aku diterima kembali di rumah orangtuaku. Adikku Joey sudah besar. Hubungan kami kembali menghangat, meskipun ayah tetap terus mengawasiku. Aku diterima bekerja di pabrik di tengah kota Waterbury. Di rumah, kami makan malam bersama. Sungguh keluarga bahagia.
Namun, ih … suara-suara itu membujukku untuk meniru kematian seorang wanita muda, Karen Ann Quinlan, yang menemui ajal setelah meminum obat anti cemas, valium dan Librium, sekaligus. Perbaduan ini bisa menyebabkan mati otak. Ya, aku ingin membunuh otakku agar suara-suara itu tak mengangguku lagi.
Begitulah, suatu pagi di bar dekat pabrikku, aku menelan semuanya, dibantu alkohol. Tiba-tiba aku pingsan. Polisi memenjarakan aku. Ayah datang membayar uang jaminan. Aku boleh pulang. Esoknya, dengan amat marah ibu melemparkan koran Waterbury Republican ke wajahku. Di dalamnya tertulis, Kenneth Steele ditangkap dengan tuduhan:  tindakan cabul, melawan penangkapan, perilaku mengacau, menganggu ketenangan.
Aku terpaksa “membuang diri” kembali dari lingkungan keluarga. Apalagi Ayah berkata tegas, “Begitu urusanmu selesai, kuharap kau pergi dari sini dan tak pernah kembali lagi.” Kuputuskan masuk kembali ke rumah sakit jiwa, Norwich State Hospital di tenggara Connecticut. Dua tahun aku di sini. Berperilaku baik, lalu diterima di rumah transisi, dan menjadi asisten perawat di suatu panti wreda. Aku pun berjuang mengurangi kebiasaan merokok, dari tiga pak sehari menjadi hanya satu pak.
Aku mengumpulkan uang untuk satu tujuan baru. Apakah itu? Aku ingin terbebas dari suara-suara itu, karenanya harus punya uang untuk naik bus dari Connecticut ke San Fransisco, menyisakan sedikit uang untuk makan dan sewa kamar setiba di sana. Sisa itu tak usah banyak-banyak. Toh, aku berniat bunuh diri dengan melompat dari Jembatan Golden Gate!
Matikah Ken Steele? Ternyata, dunia nyata selalu “menyelamatkan”-nya. Epimenides, peramal Kreta yang hidup pada abad ke-6 SM, berkata, “Ada kesenangan menjadi gila yang tak dapat dirasakan oleh orang lain kecuali orang gila.”
Ken merasakannya. “Suara-suara itu telah mengisi tempat khusus dalam hidupku. Tanpa mereka, aku merasa sendirian.”







Post-scriptum: ini adalah salah satu tulisan di majalah Intisari edisi Maret 2005 No. 500 Tahun XLI. Saya suka nukilan ini. Untuk menunjukkan loyalitas saya sebagai seorang penyuka maka saya melakukan pengorbanan dengan mengetik ulangnya untuk di posting di sini. Karena ini masih dalam suasana natal dan tahun baru saya ingin berbagi kesukaan dengan siapa saja, salah satu dari sekian kesukaan saya tentu saja. Semoga ini bisa menjadi bingkisan yang berkenan… :]