Kamis, 06 Desember 2012

[TIDAK] ADA BERITA BAIK, KAH?


Entah mengapa, saya tidak merasa rugi kalau tidak mengikuti berita terkini di televisi. Dulu, saya akan bela-bela’in untuk update baik di televisi atau surat kabar. Dan sekarang, kalau sedang ingin tahu ada berita apa saya lebih memilih membaca koran. Itupun frekuensinya jarang-jarang.
Saya malas melihat berita yang rasanya tak ada baik-baiknya. Dan itupun kadarnya diulang-ulang dari pagi sampai pagi lagi dengan topik yang sama, saudara! Apa mereka tidak bosan dengan berita yang mencekik leher dan menaikkan tensi darah itu. Korupsi, teroris, kecelakaan, kerusuhan berdarah, pembunuhan, pencemaran nama baik, intrik politik busuk, keluh sana-sini dan lain sebagainya yang model pemberitaannya-pun macam infotainment ‘investigasi’. Huh, benar-benar membuat kesal!

Setelah mengabsenkan diri dari berita-berita buruk di televisi itu saya merasa lebih sehat jasmani dan rohani. Saya tak peduli bila harus mengurangi jatah sekian persen nominal wawasan dalam kepala saya. Saya tidak butuh berita buruk melulu. Saya juga butuh asupan berita baik yang menutrisi hati dan otak. Oh tuhan, ini tak kalah mengerikannya dengan melihat berita Nassar dan Musdalifah yang disetel secara maraton dan membabi-buta di infotainment – kelihatan sekali kan kalau saya ini penyuka gosip, hahaha! – sungguh rasanya pengen memalu kepala sendiri. Tolong, saya ingin amnesia dari radar berita buruk itu!

Baiklah ini kekhilafan saya, setelah sekian lama hiatus iseng-iseng saya menjangkau remot dan menekan tombolnya ke chanel berlogo merah darah itu. Dan anda pun pasti berita apa yang paling happening minggu-minggu ini. Iya benar, ini tentang film ‘Innocent Of Moslem’. Mau tak mau kepala saya pun ikut terpapar dengan berita panas itu. Dan – lagi – saya tak kuasa menahan jemari tangan saya untuk ikut menuliskannya di sini. Harap siapkan telinga anda, saya akan sok-sokan ikut berkomentar di sini macam pengamat politik yang menyebalkan dan lebay.

Oke, apa pentingnya film itu? kenapa semua orang segitu hebohnya sampai bakar-bakar ban dan tawuran segala. Apakah ia dukun cabul? Tersangka perdagangan anak dan perempuan? Penjahat HAM? Ehm, saya melihat anda menggeleng, jadi apa urgensinya? Film ini hanya pekerjaan orang yang menderita ‘Narsistik Kompleks’ yang semakin besar perhatian terarah kepadanya maka makin senanglah dia. Dan sepertinya ia sudah sangat berhasil, coba tanya siapa penduduk di bumi yang tidak tahu film ini? Baiklah, saya lebay di bagian ini. Pasti ia sedang tertawa-tawa di belahan bumi sana, betapa filmnya telah mampu mengkoordinasi massa sebegitu brutalnya. Memang gampang ya kelau mau menghancurkan keharmonisan umat muslim. Anda tak perlu bom nuklir atau berpeti-peti butir peluru, cukup dengan letupan sebuah isu yang menyinggung harga diri para penganut islam dan BOOM!!! Lihatlah ledakannya, radius dan efeknya akan melebihi ekspektasi anda.

Manurut saya hal yang paling mudah untuk menyikapi hal-hal yang seperti ini adalah ‘ketidak pedulian’. Jangan pedulikan. Tanpa harus demo berdarah-darah, orang-orang yang punya otak pasti menganggap kalau film ini hanya layak masuk dalam kategori kelas E [minus lagi], murahan dan tak bermartabat. Cobalah kita dewasa, bagaimana kita bisa mengharapkan empati orang lain kalau kelakuan kita tidak mencerminkan itu. Siapa yang suka sikap arogansi dan subversif alih-alih menyikapi segala sesuatu dengan keluwesan daya pikir yang meluas tanpa batas.
Saya muslim dan saya bangga dengan itu. Tapi saya tahu kapan harus peduli atau tidak pada hal-hal penting atau sampah belaka. Sudahlah, hentikan reaksi sia-sia itu. Lebih baik kita peduli pada hujan yang tak kunjung datang. Kenapa? apakah para alien sedang melancarkan strategi sabotasenya? Woaw! Ini benar-benar ancaman yang tak bisa dianggap remeh.







Balkon rumah, 19 September 2012

Selasa, 04 Desember 2012

SUDAH LAMA MATI


Aku sengaja membunuh lidah
Mengkebaskan hati
Membebalkan batang otak
Aku hanyalah jasad yang bernafas
Yang tengah malamnya memanen gelisah di ujung bantal
Yang siang harinya memutilasi keringat agar tak sampai menjadi asin air mata
Berjuang setiap hari menahan kelumpuhan pada segala rasa
Memaksa menelan apa-apa yang mencekik tenggorokan
Disini...
Aku hampir tak bisa bernafas

Harapan bukanlah di sini
Ia telah larut bersama buih bekas cucian kemarin
Kebahagiaan telah memutilasi dirinya sendiri
Aku melihat bayangannya menjauh jatuh,
pada tabung kaca membakar gelak tawa menjadi abu yang kelabu
senyum bukanlah nama tengahku
Antusias bukanlah konsumsi sehari-hari
Tenanglah...
Aku sudah terbiasa terlihat tenang-tenang saja
Dan pelan-pelan ini akan meremukkan tulang belulangku
Menjadi getir dan getas
Serupa daun kering yang hancur sekali injak

Ini bukanlah hidup
Hidup tak seharusnya begini
Siapa peduli...
Aku sudah lama mati
Kibarkanlah bendera kuningnya
Buatkan nisan sebagai penanda aku pernah ada


Sabtu, 01 Desember 2012





 I CAN'T DATE YOU
IF YOU CAN'T HANDLE 
MY WEIRDNESS, SARCASM,
STUPID JOKES AND MY
TENDENCY TO LAUGH AT
ALMOST EVERYTHING




RANDOMASOCIS


i
Halo tuan Marmut, apakah anda melihat ikan bersirip daun kemangi jalan-jalan di sekitar sini? Kalau tahu tolong beritahu aku, karena ia baru saja membawa sekantong penuh kacang mede-ku. Itu sangat istimewa, karena merupakan oleh-oleh dari peri gigi yang baru saja bertamasya ke negeri bernama Kejora.
Hai-hai Kacang Merah, apakah kau melihat serumpunmu menggelinding di sekitar sini? Bila iya, tolong hubungi aku – tiup saja cangkang keong laut yang sudah keriput,aku akan lekas menyahut.
Oh wahai Dewa Petir, semoga lekas ada lingkaran Halo besar di atas kepala ikan penderita impulsif kronis itu. Dan keajaiban membawa sekantong kacang mede-ku kembali ke habitat asalnya, di kolong ranjangku.
Beribu amin untukmu penguasa bumi mimpi.

ii
Namanya Mona. Dan dia adalah laki-laki. Tapi selang beberapa menit kemudian ternyata saya salah, namanya bukan Mona tapi Monya. Ah, saya lebih suka kalau namanya adalah Mona. “Mona engkau dimana, sedang apa, bersama siapa?” Haha, rima yang bagus bukan? Uh, sindrom obsesif kompulsif!

iii
Wah album-album ini benar-benar underrated – gak mainstream. Saking elitisnya, seumur-umur baru kali ini saya membaca nama-nama musisinya – saya yang kampungan atau mereka yang terlalu eksklusif ditelinga saya yang awam dan sangat overrated ini. Wahai tuan hipster, bolehlah kapan-kapan mampir ke desa saya, akan saya ajak anda bertamasya ke minimarket berinisial A. Di sana sedang ada obral kaset muziek yang aziek yang pas dengan kepala anda yang selalu hip dan trendi itu. Borong-boronglah karena harganya tak lebih mahal dari sepasang sandal jepit baru. Sayang sekali ya, karya musik ‘avant-garde’ hanya dihargai segitu.  Hoho, mungkin pikir minimarket berinisial A itu; “daripada membusuk di gudang lebih baik dilelang dengan lancang”.
Ha-ha, kill me! kill me! kill me! kill me with your tongue, love!

iv
Saat sedang bersih-bersih dapur tanpa sengaja jari tangan saya tergores sebuah pinggiran perkakas dapur yang terbuat dari  seng yang tajam. Kresss! Perih sekali, cekat-cekut-cenat- cenut. Sakitnya sampai ke ujung syaraf di kepala. Untunglah lukanya tidak terlalu parah, kira-kira goresannya hanya sekitar 2 cm. Hanya-pun begitu yang namanya tergores benda tajam rasanya ya; mendirikan-bulu-roma-di-sembilan-detik-pertama.
Lalu apa yang saya lakukan, saudara? Saya hanya berdiri mematang selama beberapa menit – setelah mengaliri luka itu dengan air – berharap perihnya cepat berlalu. Ya akhirnya itu luka cenat-cenutnya reda juga. Lalu saya melanjutkanlah aktifitas cuci-cuci piring. Kan kena cairan sabun cuci, apa tidak sakit nona Lina? Ah prinsip saya jangan manja-manjain luka, apalagi luka kecil kayak gini. Harus ditempa biar cepat sembuhnya, hehehe...
Emang sih agak perih sedikit, tapi masih tertangguhkan-lah ya. Namun lama-lama kebas juga lho. Sumpah, ringisan saya benar-benar mereda.
Namun ya begitulah begitudeh yang namanya luka gores itu macam ababil, gak tentu arah. Kadang sakit kadang reda. Modi-an banget pokoknya. Kalau kena deterjen dan cairan pencuci lainnya saya masih bisa tahan, tapi kalau sudah kena garam; begh, nyiksa batin dan raga sangat amat. Jadi membuat saya kepikiran lebih milih mati ditembak tepat di pangkal otak daripada mati kena tebas atau gorok. Tuhan, itu sangat mengiris seluruh sendi dan saraf tubuh! Uh, tiba-tiba hati saya ikutan perih membayangkannya.
Dan kalau anda adalah seorang psikopat yang benar-benar ingin membuat korban anda menderita dunia akhirat, cobalah mengiris-ngiris tubuh ‘pasien’ anda itu lalu taburi garam diatas sayatan-sayatan lukanya tersebut. Oh ikan tuna, itu benar-benar menderita. MENDERITA!!!

v
saya kadang heran kenapa banyak orang yang begitu jijik dengan kecoak. Apakah mereka identik dengan kotor? Tapi saya kog merasa biasa-biasa saja ya? Menurut saya binatang yang menjijikkan adalah tikus. Bulunya dan tekstur tubuhnya yang kenyal-kenyal itu begitu ‘idih’ menjijikkan sekali. Saya tidak suka tikus apalagi yang baru dilahirkan, merah berlendir.
Kecoak itu mah biasa saja. Tekstur kulitnya yang kokoh dan tebal sama sekali jauh dari kesan geli apalagi menjijikkan atau menakutkan. Hal itu lebih banyak mengingatkan saya pada bangun tubuh Baja Hitam.
Bila anggapan publik sudah umum kalau mereka menjijikkan bukan berarti saya harus ikut-ikutan. Saya punya selera sendiri dong ah!
Kadang saya merasa geli kalau melihat pria-pria macho yang lari terbirit-birit ketika melihat kecoak – seperti waria yang kena trantib. Hahaha...

vi
Saya rasa lamunan saya akhir-akhir ini sudah mulai keterlaluan. Saya selalu seperti ini; sesaat sebelum tidur, pada saat senggang, bahkan pada saat melakukan sesuatu, saya-membuat-dunia-sendiri-di-kepala. Saya menentukan tokohnya, alurnya, settingnya, jalur ceritanya, intinya saya adalah sutradaranya. Ada keasyikan tersendiri bermain-main di sana. Kamu merasa bisa menyalurkan apa-apa yang tidak bisa kau dapatkan di dunia nyata. Misalnya menyusun cerita seperti ini; tiba-tiba saya mendapatkan warisan dari seorang milyuner konglomerat dunia. Karena bingung harus membagikan hartanya kepada siapa – beliaunya tidak mempunyai dinasti penerus ataupun anjing peliharaan – maka secara random terpilihlah saya, wanita-sangat-beruntung-kala-itu. Harta diserahkan secara diam-diam – tanpa publikasi apapun, karena si saya membenci segala bentuk sorotan dan ketenaran. Setelah mendapatkan harta melimpah, si saya ini lantas mewujudkan mimpinya yang belum kesampaian karena kemuskilannya. Mulailah saya berkeliling dunia. Traveling sepuasnya – lone traveler. Si saya ini punya prinsip; tak akan menikah sebelum keliling dunia. Setelah puas berkeliling dunia, mulailah saya menetapkan pilihan pada tempat untuk ditinggali. Sebuah tempat yang benar-benar asing tentunya, dimana tak seorang-pun mengenali saya. Kemudian saya membangun sebuah perpustakaan yang lengkap, nyaman dan asri – terbuka buat umum dan gratis. Lantas seiring berjalannya waktu, si saya kemudian jatuh cinta kepada lelaki seberang jalan yang mempunyai toko kaset musik dan tempat penyewaan VCD/DVD film. Lantas kami saling kasmaran dan hidup bersama. Bahagia dan sedih bersama selamanya.
Haha. wajarkah lamunan saya ini, tuan?

vii
Saya tidak mau mati dalam keadaan selang oksigen yang terpasang di hidung; kantong infus yang terus diganti berkali-kali setiap harinya; injeksi dan obat-obatan yang tak terhitung jumlahnya; resep obat yang tak ada henti-hentinya; saat kencing dan buang air besar harus dilakukan di tempat tidur; ketika makanpun harus disuapi; banyak pantangan-pantangan yang tak kuasauntuk dilanggar
Itu terjadi saat kerut mengerut menghiasi wajah dan badanmu. Pendengaran mulai mengabur, ingatan mulai melamban, mata mulai tak awas. Ya, saya benar-benar tak mau mati dalam keadaan seperti itu.


SET THE FIRE TO THE THIRD BAR




I find the map and draw a straight line
Over rivers, farms, and state lines
The distance from 'A' to where you'd be
It's only finger-lengths that I see
I touch the place where I'd find your face
My finger in creases of distant dark places

I hang my coat up in the first bar

There is no peace that I've found so far
The laughter penetrates my silence
As drunken men find flaws in science

Their words mostly noises

Ghosts with just voices
Your words in my memory
Are like music to me

I'm miles from where you are,

I lay down on the cold ground
I, I pray that something picks me up
And sets me down in your warm arms

After I have travelled so far

We'd set the fire to the third bar
We'd share each other like an island
Until exhausted, close our eyelids
And dreaming, pick up from
The last place we left off
Your soft skin is weeping
A joy you can't keep in

I'm miles from where you are,

I lay down on the cold ground
And I, I pray that something picks me up
and sets me down in your warm arms

I'm miles from where you are,

I lay down on the cold ground
and I, I pray that something picks me up
and sets me down in your warm arms





*Snow Patrol feat. Marta Wainwright

DEAR SUPERHAN


 gambar diambil dari sini


Dear, han
Bagaimana keadaan di sana? Berikan aku gambaran untuk membayangkannya. Sebuah dunia semacam utopia yang kau janjikan di kitab-kitab suci itu, apakah masih di sana?

Apakah masih perlu kutanyakan bagaimana keadaanmu di sana? – Huh, sebenarnya aku sangat tidak suka kalimat ini. Sebuah hal yang biasa sebenarnya tapi menjadi sebuah keharusan yang memaksa kita untuk menuliskannya di awal kalimat sebuah paragraf dalam sebuah surat. Basi sekali kan? Tetapi harus! – biar kutebak! Pasti semakin sulit mengendalikan semua hal yang terjadi di kosmik ini. Bagaimana manusiamu ini semakin rumit dan kompleks saja, sekaligus ambisius. Hati-hati suatu saat kami bisa menggantikan posisimu. Kami akan menyabotase segala hal yang dulu seakan mustahil bagi kami. Lihat, bahkan kami sudah sampai pada proyek menghidupkan kembali orang mati, atau melakukan reproduksi ulang pada zat yang tak kasat mata bernama nyawa – masih dalam tahap penelitian tentu saja.
Tapi karena aku tahu kamu keren, aku yakin kamu pasti bisa ‘menangani-segala-sesuatunya’. Lha Superman yang hasil buatan manusia yang notabene hasil buatanmu juga bisa menyelamatkan dunia dan dengan heroiknya melakukan hal-hal mustahil lainnya. Aku percaya seyakinnya kamu lebih keren daripada Superman maupun Iron Man

Han, pasti wajahmu cemberut melihat keadaanku yang sekarang ini. Betapa kita jarang mengobrol, berasyik masyuk seperti dulu lagi. Dari dulu aku yang badung ini memang jarang menemuimu lewat ritual-ritual religius yang sudah digariskan lewat wahyu nabi itu – lebih memilih khusyuk sembahyang di depan televisi dan komputer daripada menyentuhkan kening pada permukaan sajadah. Lebih asyik membaca koran daripada Qur’an. Dan sekarang ini lebih parah lagi, aku seakan-akan sudah tak mengacuhkan kehadiranmu lagi. Aku cuek, aku apatis padamu.
Sebenarnya di ceruk otakku yang paling dasar, aku sangat mengkawatirkan hal ini. Hal yang dari dulu sangat ingin aku hindari, yaitu membencimu. Aku tak ingin membencimu. Membencimu berarti membenci diriku sendiri. Aku bukan narsis hanya egois. Oh, lihatlah han! Lagi-lagi aku meninggikan benteng di seluruh penjuru mata angin keberadaanku. Membuat pembenaran dengan menjauhkan kesalahan pada diri sendiri. Dasar manusia egois, tenggelam sana di lautan penuh teripang dan belibis! *sigh

Han, dulu kau sangat tahu aku kan? Meskipun sebandel apapun, aku masih ingat padamu. Menganggapmu sebagai teman paling keren sejagat raya. Teman yang tak banyak menuntut dan tak banyak bertanya. Engkau adalah yang paling tulus dan tanpa pamrih. Saat semua berpaling membelakangiku, engkau masih setia disampingku. Duduk menemaniku. Saat hidup begitu tak adil padaku dan memaksaku untuk mengusap air mata – engkau tak keberatan untuk meminjamkan ujung bajumu demi menyeka titik-titik air di pipi yang belum tenta reda, masih ada rinai di sana. Saat dunia memalu kepalaku dan membuat berat leherku untuk memanggulnya – engkau tanpa sungkan menyodorkan pundakmu untuk tempatku bersandar demi sekedar melepas lelah barang sejenak. Hidup memang penat, tapi menyadari keberadaanmu membuatnya tak lagi sepat.
Engkau adalah teman maha keren. Sebandel apapun aku, engkau masih tak jera bermain-main denganku. Di tanah lapang kita bermain layang-layang. Di lembah yang cekung kita bermain berlomba menangkap capung.
Han, senakal apapun aku, engkau hanya menghukumku dengan jeweran di telinga yang mudah untuk dilupa. Lalu kita bermain-main lagi, lagi dan lagi. Kapan aku kunjung jera, bila aku punya teman sekeren dirimu? Sebagaimana yang masuk dalam hitungan sangat-kikuk-bersosialisasi, engkau adalah boneka barbieku – ah tidak, aku tidak suka warna pink – kau adalah boneka teddy bear-ku, si coklat yang menggemaskan yang membuatku tak terobsesi untuk menjadi tinggi, langsing, putih dan berambut lurus panjang.
Salah kalau menyebutmu adalah teman imajinerku. Engkau adalah nyata. Hidup di sini dan di sini.

Dulu itu, kau adalah teman maha keren bagiku. Kita bisa berbincang berjam-jam lamanya hanya ditemani dengan secangkir kopi. Aku bebas menumpahkan sesuatu apapun padamu tanpa memberi penghakiman dan solusi-solusi menggurui. Engkau tak pernah mengeluh mendengar segala sumpah dan keluh kesahku.
Meskipun kau tahu aku brengsek karena kadang hanya mau mengobrol dan bertemu denganmu kalau sedang ada masalah  yang begitu sulit tertanggungkan. Apakah itu manusiawi atau kampret sekali? Bah!

Han, kadang aku heran kenapa engkau yang hebat sekali dan maha keren itu masih tahan dengan manusia dalam spesies dan habitat seperti ini. Padahal aku ini sangat egois padamu, datang dan pergi sekehendak hati tanpa mau peduli apa sih yang kamu ingini. Engkau itu maha, pantas disembah sujud syukuri. Aku merasa kamu itu sangat membumi – entah apa aku saja yang membuatnya begitu – tapi akhir-akhir ini kau tak terlihat seperti itu lagi, banyak pemujamu yang merasa sok tahu tentangmu dan memutarbalikkan segala aturan yang melekat padamu. Hell!
Meskipun begitu asal kau tahu aku masih menganggapmu maha keren. Karena engkau tak seremeh itu untuk ditendang ke tempat sampah.

Tapiii... lihatlah aku yang sekarang ini. Begitu menafikanmu. Aku sedang tak berubah menjadi tokoh Hasan di novel Atheis. Aku hanya sedang dalam titik dimana semuanya terasa kebas. Dimana semuanya seperti keliman baju yang tak diacuhkan keberadaannya.

Han, semoga kau sabar denganku. Percayalah ini bukan permanen. Ini hanya semacam anestesi dan aku mengalami tidur yang tidak panjang. Suatu saat aku akan sadarkan diri, meskipun luka yang ada di dalam sini entah sembuh total atau masih menyisakan sayatan perih.

Han... kadang aku rindu masa itu. Betapa mesranya kita. Ngobrol panjang lebar sambil ngopi. Membiarkan dirimu berputar-putar liar di kepalaku. Berimaji bersamamu dalam rinai hujan. Betapa intimnya kita. Membuat iri seluruh kosmik.
Han, aku kangen. Semoga kita sampai ke rasa itu dan tak pergi-pergi lagi. Dimana malam hari tak lagi menakutkan dan enggan.

Sudah ya han, sampai jumpa lagi. Peluk dan cium serta dekap hangat untukmu...