Minggu, 17 Juni 2012

HURU HARA BOLA BOLA

Alkisah hiduplah seekor kelinci dengan kacamata berbingkai segede gaban sedang mewawancarai perempuan yang sangat biasa-biasa saja. Si kelinci penganut aliran hipster sedang bertanya jawab seputar Euro Cup kepada si perempuan penganut aliran egosinisme. Dengan latar belakang semak belukar yang bergoyang hebat mengalirlah obrolan 'panas' itu...

Kelinci [K]: Kenapa tidak suka Portugal?
Perempuan [P]: Malas saja lihat rambut klimisnya Ronaldo.
[K]: Kenapa suka Perancis?
[P]: Karena ada orang Indonesia yang main di situ?
[K]: Ha! Siapa?
[P]: Nasril Ilham.
[K]: NASRI! SAMIR NASRI!
[P]: Oh. Baiklah, gak usah histeris.
[K]: Ehem. Siapa jagoanmu kali ini?
[P]: Yang tidak dijagokan.
[K]: Kenapa tidak seperti kebanyakan orang; menjagokan Spanyol, Jerman atau Belanda?
[P]: Ya karena saya bukan orang kebanyakan.
[K]: Hm. Angkuhnya.
[P]: Saya egois bukan angkuh.
[K]: Huh! Sama jeleknya.
[P]: Bodo amat. Next! Pertanyaan selanjutnya.
[K]: Impian anda tentang Euro?
[P]: Bisa jadi anak kecil yang digandeng tangannya sama Ibrahimovic.
[K]: Setahu saya Ibra bukan Pedhopil.
[P]: saya gak keberatan...
[K]: Mengapa anda mengidolakaan Ibra?
[P]: Siapa bilang idola, saya hanya suka.
[K]: Oke koreksi. Kenapa suka?
[P]: Well, matanya tajam, tidak berkulit putih pucat, rambut gondrong dan punya sedikit jambang.
[K]: Fisik sekali.
[P]: Saya masih perempuan.
[P]: Ehm. Dan Zlatan Ibrahimovic adalah nama yang menggeletik di telinga. Seksi.
[K]: Fetish yang aneh.
[P]: Next!
[K]: Hal konyol selama Euro?
[P]: Baru tahu kalau lagu resmi Euro itu ternyata bunyinya 'endless summer' bukan 'in this summer'.
[K]: Bodoh.
[P]: Bukan saya saja yang tertipu.
[K]: Hal apa saja yang ingin diubah di Euro ini?
[P]: Opening Ceremony gak usah diganti dengan konser-konseran gak penting. komentator cukup muncul 5 menit sebelum kick off.
[K]: Apa yang akan dilakukan jika tim jagoan menang?
[P]: Cukur bulu ketek.
[K]: Njijik'i.
[P]: Peduli amat. Next! 
[K]: Oke, last Question. Ada closing statement?
[P]: Jangan lupa shalat tahajud sebelum nonton bola.
[K]: Kepet. 
[P]: Bawel.
[K]: Saya gak pake behel.
[P]: Kelinci bolot.
[K]: sudah ah, saya mau cari rumput dulu.
[P]: Pergi sana. jangan lupa bawa jas hujan.
[K]: Ngapain?
[P]: Siapa tahu di jalan kena kencing nyasar.
[K]: Brengsek.
[P]: Sana-sana. Berisik.
[K]: Da daaah perempuan egois hobi makan buncis...
[P]: Da daaah juga kelinci rumpi yang gak pake rompi... 
  

Jumat, 15 Juni 2012

FRAU - MESIN PENENUN HUJAN


Merakit mesin penenun hujan
Hingga terjalin, terbentuk awan
Semua tentang kebalikan
Terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu
 
Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku,
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita 

  

YUNA's COVER of NIRVANA's "COME AS YOU ARE"


Come as you are, as you were, as I want you to .
As a friend, as a friend, as an old Enemy.
Take your time, hurry up, choice is yours, don’t be late.
Take a , as a friend, as an old .

Memory ah, Memory ah, Memory ah.

Come doused in Mud, soaked in Bleach, as I want you to be.
As a trend, as a friend, as an old Memory ahhh.

Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh.

Chorus:
And I swear that I don’t a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh. (Don’t have a Gun.)

Chorus:
And I swear that I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
No, I don’t have a gun
(Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh, Memory ahh )


HAN...


Han, maafkan kalau akhir-akhir ini aku jarang curhat denganmu. Mungkin aku terlalu malu. Aku tidak enak denganmu. Selalu menjadikanmu tempat sampah disaat susah tapi melupakanmu dengan mudahnya disaat senang. Lebih baik aku menelannya sendiri, daripada aku terlihat seperti penjilat di depanmu…

Minggu, 03 Juni 2012

KOPI PAHIT HITAM LEGIT, TELEVISI PAGI HARI, MIE INSTAN GORENG RASA KRIUK DAN SAYA SI TUKANG KELUH.




Sabtu dini hari. Kira-kira sudah pukul setengah tiga pagi. Kalau pun meleset paling lebih kurang 10 menitan. Ilmu kira-kira soalnya. Iya... malaslah saya kalau disuruh pakai jam tangan. Kamu pun tak akan mendapati bentuk jam di kamar saya. Angka berdetak itu ibarat pengawas ujian bagi saya. Sangat mengintimidasi. Dan saya paling bosan melihat orang yang setiap menit menatap jamnya. Sama bosannya dengan melihat orang yang takzim dan kidmat dengan telepon genggamnya. Tak peduli meskipun ada yang saling bunuh di sampingnya. Bahkan kiamat sekalipun. Kontemplasi huh? Seakan dengan melakukan itu ia akan menyelamatkan dunia dari ledakan ‘bom waktu’ yang tinggal hitungan detik saja. Eh omong-omong kamu tahu bagaimana cara saya menentukan waktu? Ah itu sih gampang; hitung saja kecepatan dan arah angin, kelembapan udara, sudut serta derajat lokasi dan ketepatan insting. Hahaha, kedengarannya saya akan menghancurkan kepala bajingan dengan senapan 'Ak 47'. Wuush... hancur tanpa suara bung...
Baiklah, saya terlalu banyak ngelantur tentang jam. Sebenarnya inilah yang pingin saya omongin; tiap akhir pekan saya selalu jadi zombie tv. Ya, menyedihkan memang. Dengan kopi super pait yang membuat dahi mengernyit saya awali sembahyang di depan kotak berkabel. Yang sialnya membuat saya masturbasi berkali-kali. Hei salahkan televisi! Mereka tak punya otak menayangkan film-film apik di dini hari. Dan malah memutar film-film yang ibarat muntah ditelen lagi, muntah ditelen lagi di jam-jam saat mata masih waras. Dasar tolol! Terlalu keseringan bos. Membuat muak! Sama kayak berita gak penting yang dibuat happening dengan narasi dan diskusi sinting. Oh dewa Neptunus, hentikan omong kosong sok pintar dan sok garang di kursi empuk itu. Apalah namanya itu; orang-orang politik katanya. Yang ketiaknya bau uang. Halah, saya berani bertaruh; di belakang kamera sana di ruang ber-AC mereka saling peluk dan cium, bahkan tanpa sungkan saling membersihkan bagian tubuh masing-masing. Err... terdengar seperti bekicot, ada lendir dimana-mana. Hahaha, ampuni saya wahai mahkluk buncit...
Apa? Sampai mana tadi? Huh! Omongan saya belok kanan lalu lurus terus belok kiri terus lurus lagi, gak nyampek-nyampek. Capeklah saya. Tuhan telah mengurangi jatah fokus saya. Sudah-sudah makan dulu sana... lalu ada ayam yang pok pok pok di atas kepala kepala saya. Haiyah! Tulisan ini random parah – meminjam istilah Justin Bubur. Hoaaam....
Neng nong! Kira-kira sudah jam 11 pagi dan saya belum cuci kaki dan gosok gigi. Malas nonton tv pagi, gak ada Sinchan dan Conan lagi. Mau makan tapi malas berdiri. Guling-guling di kasur saja sepanjang hari. Sambil berfantasi ada tuan Cillian Murphy nyasar ke kamar membawa sebaki spagheti. Kita asyik berhaha hihi dan nyanyi-nyanyi. Ooh... hari yang berseri...
Walah, random tenan ki! Ya sudahlah... taiklah saya yang tukang keluh. Terpujilah sang kopi hitam pahit legit. Sujud syukur untuk televisi dini hari. long live mie instan goreng kriuk! Baiklah, saya akhiri random ini dengan ucapan amin. –AMIN–

*Apakah random itu semacam kependekan dari ‘ranah domestik’? ah tauklah, bisa-bisa saya saja...

Jumat, 01 Juni 2012

SEBUAH LAGU UNTUK CICAK DI BALIK PANCI HITAM

 
Aku melihat ekormu di balik panci hitam yang di gantung dekat pintu toilet.
Ujung ekormu melenting kesana kemari.
Bergemerincing meneror retina mataku.
Geal geol kayak bokongnya biduan koplo.
Apakah kau sedang dangdutan dengan teman imajinermu?
Ah, ternyata tak hanya Syahrini…

Hei mahkluk coklat bertekstur kenyal.
Kenapa kepalamu tak kunjung nongol juga.
Apakah yang kau sembunyikan di sana?
Sisa permen atau remah roti?
Kau sembunyikan dari siapa?
Semut berlarik panjang atau alien berwajah capung?

Dang ding dong…
Dong ding dang…
Apakah kamu hobi makan pisang?
Dan sukakah kamu berdendang?

Hai hai cicak di balik pantat panci.
Ayolah kita bermain hujan di teras rumah.
Siapa tahu ada kodok jatuh dari langit.
Bisa buat barbekyu di dalam kamar.
Ku ajak temanku.
Kau ajak temanmu.
Kita hore-hore bersama.
Bersuka-suka beria-ria.
Jangan lupa pakai kostum kupu-kupu berbelalai gajah.

Dang ding dong…
Dong ding dang…
Apakah kamu hobi makan pisang?
Dan sukakah kamu berdendang?
 

MAHKLUK BERJUBAH HITAM DENGAN PISAU DI TANGAN KIRI

 

Tengkorak belakangku berdenyut dan berdentam tanpa jeda.
Kepalaku seperti akan meledak.
Denyarnya menjalar hingga ke ujung mata.
Turun hingga ke punggung.
Rasanya ada yang salah dengan tulang belakangku.
Ada sayatan panjang dari tengkuk sampai ujung tulang ekor.
Aku masih merasakan dinginnya jejak mata pisau di sana.
Ngilu tak tertahankan.
Meremukkan seluruh sendi.


Siapa berani melukaiku?
Tak ada untungnya.
Hanya buang waktu saja.
Seperti berita kecelakaan pesawat Rusia dan Lady Gaga di televisi akhir-akhir ini.
Awalnya semua tampak biasa dan antusias.
Tapi lama-lama semakin berlebihan dan memuakkan
“Hei, apa kabar anak-anak korban trafficking?”
Ya, mereka memang tak sesuperior orang-orang berkulit pucat itu.
Ah, semakin ngelantur….

Hm, mataku menangkap sosok itu.
Di cermin seberang ruang sana ada bayang berjubah hitam dengan pisau berlumuran darah di tangan kirinya.
Huh! Sungguh penampilan yang membosankan.
Membuat ngantuk.
Overrated kalau meminjam istilah kaum hipster.
Sepertinya mereka harus sering-sering nonton drama Korea.
Biar tampilan ghotic mereka lebih berwarna layaknya permen.
Hahaha…

Kekonyolan barusan seperti anestesi.
Mengalihkan sementara rasa sakit.

Aduh apa ini…
Ada rasa amis dan asin di kerongkonganku.
Menjalar mencari jalan keluar.
Mendesak-desak layaknya air di pintu waduk.
Bum! Akhirnya jebol juga.
Telinga, hidung dan mulutku penuh darah.
Anyir…

Bumi tempatku berpijak mengalirkan listrik dengan daya volt tinggi ke ubun-ubun.
Semua berputar dan bergetar.
Menampilkan potongan-potongan gambar dari masa lalu yang tumpang tindih.
Tak sempat memperdulikan rasa sakit.
Hanya kebingungan yang mengambang.
Kau tahu, aku hampir mancapai klimaks.
Terengah-engah.
Nyaris sampai.
Dan tiba-tiba ada yang iseng mencabut kesenangan ini.
Sial! Pasti ulah mahkluk berjubah hitam jelek itu.

Semuanya tampak begitu gelap…
Dingin…
Senyap…
Dan
Sepi…


Kamis, 31 Mei 2012

NASIONALISME DI KOTAK AJAIB


Hai isi perut yang sedang bergejolak, tahukah kamu? Sekarang ini tampilan nasionalisme di televisi semakin lebay saja. Melebihi lollipop, terlalu berwarna dan terlalu manis – heran, berapa banyak batang gula dan pensil warna yang disia-siakan demi menarik mata dan merangsang lidah…
Nasionalisme adalah profit. Rasa bangga dan cinta terhadap bangsa sudah menjadi komoditas. Dijual serupa kacang rebus dengan bungkus kertas bekas yang sedikit berminyak; “ini sangat murah, maka belilah. Ayo nikmati selagi hangat…” Seperti wanita berlipstik tebal dengan rok di atas lutut memamerkan paha mulus yang bisa kau temui di pinggir jalan tengah malam; “kau berani bayar berapa? Maka pelayananku akan setimpal. Kecewa dan sesal bukan untuk malam ini sayang…”
Televisi adalah penampil sejati. Ia tahu dengan baik bagaimana cara menanamkan imej di otak-otak yang matanya melotot terpapar radiasi sinar layar kaca tanpa harus terlihat terlalu menggurui dan sok tahu [hmm... bukankah itu terdengar so sweet dan bijaksana sekali. Hahaha]. Di televisi nasionalisme dikemas semenarik mungkin dengan pita warna-warni dan kelap-kelip di sana sini. Biar yang melihat silau matanya dan tergerak hatinya. Siapa yang kuasa menolak tampilan memesona? Ah, taiklah…



*dibuat saat ada gegap gempita sepakbola nasional di layar kaca. Atas nama Nasionalise barisan do’a pun masuk televisi. Sangat berlebihan saudara. Sampai membuat mual…