Gambar diambil dari sini
Minggu, 13 Mei 2012
NAMANYA HUJAN
REKONSTRUKSI MIMPI
Pagi hari. Mendapati
diri di ruang tamu rumah. Bapak dan ibu lalu lalang di depan mata tanpa sepatah
katapun. Apa yang mereka sibukkan? Rumah begitu sepi. Hening malah. Tanpa
sempat menelaah, aku sudah berada di atas balkon rumah – ditawari budhe jeruk
berwarna orange kekuningan yang sangat besar dengan ibu di sebelah aku ikut
mencicipinya...
Langit
mendadak gelap. Di Tk depan rumah bermain dengan tiga keponakan kecil.
Membuatku heran karena Tk itu tidak terkunci [tapi sepertinya aku melihat salah
satu keponakan memegang kunci. Entah didapat dari mana]. Kami lantas masuk. Isi
ruangannya sedikit berubah. Ada dua toilet baru di dekat bangku murid [ini
sungguh mencengangkan ada toilet di dalam kelas]. Lemari buku, tempat duduk
guru serta murid dan ornamen dinding letak dan bentuknya masih sama. Lantas
tanpa aba-aba si tiga keponakan meluluhlantakkan seluruh isi kelas. Aku hanya
bisa berteriak panik sambil berusaha menarik ketiga berandalan kecil keluar
dari ruangan. Menyelamatkan mereka dari amuk guru besok pagi…
Alur
bergerak cepat [layaknya pergerakan uang nasabah yang dihitung mbak-mbak wangi
pegawai bank]. Di pelataran Tk suatu siang yang terik – dari arah selatan
datang segerombolan pengayuh sepeda dengan jersey warna-warni dan para pengendara
ferrari dengan dandanan sophisticated-nya melaju dalam kecepatan tinggi. Kalian
pikir ini lintasan balap huh! [bahkan asap dan debunya masih mempolusi otakku
hingga detik ini]. Scene berganti dengan atmosfer yang agak buram, penglihatan
fokus pada tetangga yang sedang ada hajatan. Tamu hilir mudik datang bergantian
dengan wajah muram...
Kemudian dengan
cepatnya latarbelakang berganti menjadi sebuah toko yang entah berada dimana. Entah
malam entah siang – dengan alur lambat. Di sana sudah ada aku dengan
teman-teman dimasa lalu. Tiba-tiba kami diserang sepasukan hantu kumuh. Mereka
bersenjata pedang panjang yang tajam. Para teman tak ada yang berani mengusir
para hantu jelek. Akhirnya dengan modal nekat kukorbankan diri menghajar
hantu-hantu keparat itu. Semua berhasil kuenyahkan. Tapi ada satu yang terakhir
muncul yang sulit ditaklukkan, mungkin ia adalah ketuanya. Tanpa kusadari
hunusan pedangnya mengenai dada. Goresannya menyilang panjang. Perih sekali.
Berdenyut-denyut. Entah mengapa hantu tua berambut panjang keperakan itu tidak
menghabisiku. Ternyata ketika kutolehkan kepala ke belakang sosoknya sudah
menghilang…
Semua
berjalan begitu acak. Dada yang perih. Teman yang memberi perban putih. Orang-orang
sibuk membeli galon air. Mobil dan manusia berserakan di jalanan. Diseberang
jalan ada seorang laki-laki yang menatap heran. Aku tak mengenalnya. Tapi ia
terus memandangiku. Peduli setan, aku tak tahu siapa dia! Eh tiba-tiba dia
menyeberangi jalan menghampiriku. Apa maunya? Dia semakin dekat dan d-e-k-a-t…
Hei di belakang kepalaku sayup-sayup terdengar suara Craig Nicholls melantunkan lagu ‘Winning
Days’:
The winning days are gone
Because I know just where I'm seeing
Was giving as I know
I can't hear…
Cause underneath there's gold
I'll need to get around to find it
When I wanna go
I can dream…
Because I know just where I'm seeing
Was giving as I know
I can't hear…
Cause underneath there's gold
I'll need to get around to find it
When I wanna go
I can dream…
I've been trying
All my time…..
I'm just seeing it right
Cause it could be the light that's over me
So I just wanna let it be…
All my time…..
I'm just seeing it right
Cause it could be the light that's over me
So I just wanna let it be…
Telingaku agak tergoda dengan suara yang
malas-malasan itu. Mata mengerjap, silau terkena cahaya dari kisi-kisi jendela.
Kemudian otak merekonstruksi apa-apa yang dipindai mata pertama kali. Lemari di
dekat pintu, poster lusuh yang terpasang miring di dinding, buku dan kaset
berserakan, bau kopi yang tumpah semalam… Ternyata ini kamarku – jam 08:45. Tapi
apa yang dilakukan si Craig di kamarku? Apakah ia sengaja menyesatkan diri ke
sini? [menyeringai sambil meneteskan air liur. Aerrrgh….!] Hahaha ternyata itu
bersumber dari radio tua di pojokan kamar. Sungguh membuat kecewa!
Dan apakah serangkaian
hal absurd tadi hanyalah mimpi? Kenapa isi mimpiku tak jelas semua. Hanya satu
yang bisa kumengerti – tentang menghajar hantu. Aku bisa maklum kalau bawah
sadarku menampilkan citra hantu di mimpiku. Karena sore harinya aku mengulang
menonton film ‘sixth sense’ dan si tokoh ‘Cole Sear’ [Haley Joel Osment] yang penyendiri sekaligus smart masih tersisa di kepala.
Apalagi tatapan dinginnya [Dasar pedhopil! Hahaha...]. Omong-omong tumben aku masih
bisa mengingatnya. Biasanya bagian belakang kepalaku akan berdenyut tak karuan
bila mencoba mereka ulang mimpi. Hanya membuat tubuhku berguling ke kanan dan ke
kiri. Frustasi. Ingin rasanya kubenturkan kepala ke tembok!
Waaah… Pagi
ini pengecualian rupanya. Ini patut dirayakan! Errr… Tunggu! Atau ini gara-gara
subuh tadi aku terlalu banyak mengeluarkan cairan alias mencret [ini gara-gara
kopi dingin semalam] dan bodohnya itu tak menghalangi untuk melanjutkan tidur
yang belum tuntas. Hm… dalam kasus ini sepertinya holmes benar bahwa “Otakku
akan lebih tajam kalau perutku kosong”. Ha-ha-ha..
Post-scriptum : Goresan pedang di dada itu benar-benar terasa perih. Sungguh nyata
sakitnya. Sama seperti saat aku bermimpi menghisap ganja. Benar-benar merasa
melayang ke dimensi entah berantah. Padahal belum pernah mengalami sendiri
bagaimana rasanya nge-fly itu. Aneh…
Rabu, 09 Mei 2012
DI SINI DAN DI SANA HANYA TERPISAH SELAPUT IMAJINER
Di suatu siang yang tak terlalu terik, di bawah pohon oak yang rindang kau berdiri disana seraya melemparkan senyum padaku. Tak jua berubah, senyummu masih setenang dulu. Dan mata itu – yang beberapa tahun lalu berhasil membuatku memujamu – masih sama, masih menyisakan sebentuk tanya dikepalaku sampai sekarang “bagaimana tuhan begitu bermurah hati memberimu sepasang mata yang begitu memesona, kerling yang seksi dan polos secara bersamaan”. Dan… entah berapa banyak perempuan selain aku yang terjerat dalam pesona matamu itu. Tapi aku tak menyalahkanmu, memang sudah seharusnya begitu…
Sosokmu
masih sama persis dengan siluet yang terbentuk bertahun-tahun di selaput
otakku. Tinggal lama disini hanya membuatmu tampak lebih matang dari apa yang
biasa kulihat selama ini. Selebihnya kau tak banyak berubah. Terima kasih…
karena dengan begitu aku tak perlu bersusah payah untuk mereka-reka kembali
seperti apa dirimu. Berkeluh dan berpeluh mengais-ngais potongan-potongan untuk
direkatkan kembali, yang padahal entah diletakkan dimana karena harus mengalah
dengan kenangan-kenangan yang datang barusan. Aku tahu, itu akan sangat
melelahkan sekali. Ah… kenapa tiba-tiba tenggorokanku begitu sulit untuk
menelan ludah dan fokus pandanganku mendadak mengabut. “Sudah hentikan kecengenganmu itu, Bukankah ini saat yang sudah terlalu
lama kau nantikan. Jadi tersenyumlah…”
Hmm… berdiri
di depanmu serupa mimpi saja. Teganya kau membuatku kikuk seperti ini, mirip
anak anjing yang dituduh mengencingi karpet kesayangan tuannya. Masihkah sama
saperti dulu, engkau yang hangat tapi begitu tak terjangkau…
Aku [A] : “Ehm…
kemeja yang bagus – rapi sekali. Kemana larinya kebiasaanmu berpakaian serba
hitam dengan jeans penuh sobekan itu. Apakah disini tidak ada sesuatu yang bisa
kau idolakan untuk kau tuliskan namanya dimotif kaosmu? Ataukah karena kau tahu aku akan datang maka
kau membuat pengecualian untuk hari ini. Kau tahu, itu membuatku gelisah
sekaligus tersanjung…”
Dia [D] : “Hei!
Untuk orang yang baru saja datang bicaramu banyak sekali. Hahaha…”
A : “Aku
hanya merasa tak tahu harus meluapkan kemana kegembiraanku karena akhirnya bisa
bertemu denganmu. Mungkin dengan banyak omong kau akan bisa mengerti semua apa
yang ada di kepalaku dan yang ada di sini…”
D : “Ya, aku
mengerti. Di sana kita tidak terlalu banyak bicara bukan? itu juga karena
salahku yang tak terlalu punya nyali untuk mendekatimu.”
A : “Kupikir
itu bukan hanya salahmu, mungkin selama itu kita sudah terpuaskan dengan hanya
saling melihat dan mengagumi dari kejauhan. Mungkinkah karena beberapa selang
waktu itu kita begitu sama-sama tak terjangkaunya. Seperti menara di tengah
padang pasir. Kita yang mengagungkan kesendirian…”
D : “Bukankah
itu sungguh menggetirkan? Tapi paling tidak kita bisa melihat sisi positifnya.
Kau tak terlalu kehilangan saat aku pergi untuk menetap di sini karena tak
banyak kenangan yang bisa kutinggalkan padamu.”
A : “Ah…
bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu. Bisakah kau bayangkan sesuatu
yang belum tuntas dan yang tak terungkapkan pasti akan sangat menyakitkan bila
ditinggalkan begitu saja. Parut luka yang meninggalkan jejak ditubuhmu yang mau
tak mau menjelma serupa reminder di
telepon genggam - menjadi pengingat di setiap saat.”
D :
“Benarkah sepedih itu? Kupikir hanya aku yang merasakannya...”
A : “Mengapa
kau bisa se-egois itu…”
D : “Aku
tahu. Andai aku bisa menyuap doraemon untuk bermurah hati meminjamkan kantong
ajaibnya, aku ingin kembali ke masa itu. Dimana aku tak akan sungkan-sungkan untuk
menculikmu dan membuatmu bersukarela berada di sampingku selamanya.”
A : “Hahaha…
Kuharap itu tak akan menjadi kenyataan. Aku tak bisa membayangkan betapa akan
membosankannya itu. Mengingatkanku pada cerita dongeng semacam Cinderela. Kau
sungguh menggelikan.”
D : “Eh! Kau
jangan meremehkanku. Bukan hanya sekedar itu. Aku akan membawamu menyesatkan
diri ketempat-tempat yang selama ini kau inginkan. Tempat dimana kita akan
selalu merasa terlahir kembali dengan segala keterasingan di sekitar kita. Bagaimana
menurutmu?”
A :
“Baiklah, itu terdengar sangat kereeen… “
D : “Tentu
saja. Dan kau akan sangat menyesal kalau tidak mencobanya. Hahaha…”
A : “Hahaha…
kau sungguh mengerti.”
D : “Oh ya,
bagaimana kabarmu disana Pemudi berambut besar? Sudah berapa banyak cinta yang
berhasil kau jerat?”
A : “Tak
sebanyak pergantian musim di satu tahun. Tak banyak yang bisa membuatku
seantusias seperti saat ada dirimu. Asal kau tahu aku sudah mencoba bekerja
jauh lebih keras untuk mendapatkan yang lebih daripada itu. Tapi kadang itu
sangat melelahkan… Dan bagaimana dengan
dirimu sendiri wahai Pemuda gondrong berjambang? Menurut cerita yang sering
kudengar banyak perempuan cantik yang berseliweran disini, berapa banyak yang
sudah masuk perangkapmu?”
D : “Wah,
kemana saja kau? Asal kau tahu aku tak begitu berselera dengan perempuan
cantik. Kalau-pun iya, mana mungkin dulu aku mau melirikmu. Perempuan unik
menurutku lebih eksotis.”
A : “Lebih
tepatnya perempuan aneh mungkin. Aku tak menyangka kau ternyata bisa se-aneh
itu. Hehehe… atau kau mungkin hanya ingin menyenangkan hatiku bukan? Lelaki
mana yang tidak suka pemandangan indah – kalian para makhluk visual. Tapi tak
bisa disalahkan juga…”
D : “Hufh…
memang kadang susah meyakinkan kalian wahai para perempuan. Apa sebenarnya yang
kalian mau?”
A : “Hehehe,
yang kumau mari kita tinggalkan obrolan tak penting barusan itu. Errr… apakah
kau betah disini? Bukankah sudah sangat lama kau tinggal di sini?
D :
“Bagaimana mungkin aku bisa bosan dengan pemandangan seperti ini. Padang luas
penuh rumput menghijau. Bunga warna-warni yang tak pernah layu dengan latar
belakang perbukitan dibelakang sana. Disini setiap hari adalah cerah, panas
yang tak memanggang. Kalaupun sedang ber-air lebih sering gerimis daripada
hujan deras penuh halilintar dan petir. Dan apakah kau familiar dengan bau ini?
Sangat nyaman bukan? Jadi, apakah kau akan sempat menghitung hari jika
diposisiku? Kau tahu… ini semualah yang bisa menghiburku saat rinduku tak
tertahankan padamu…”
A : “Aku
tahu, tempat ini sangat mengesankan. Mengingatkanku pada suatu tempat di
belahan bumi sana. Tempat yang sempat ingin kujejakkan kaki sebelum aku bisa menetap
di sini selamanya. Tapi di sini tak kalah indah, kalaupun pada akhirnya tak
bisa ke sana aku tak akan terlalu menyesal. Aku juga merindukanmu…”
D : “Tapi kita
hanya bisa menangguhkan rindu ini sampai kita benar-benar bertemu dan bersama
lagi ditempat ini. Melanjutkan cerita yang belum usai – yang menunggu untuk
dituntaskan…”
A :
“Bukankah aku sudah di sini, kita sudah berpijak di tanah yang sama sekarang.
Tapi bagaimana mungkin kau bilang seperti itu…?”
D : “Karena
kau belum benar-benar ada di sini. Ini hanya sebatas mimpi buatmu.”
A : “Jahat
sekali… “
D : “Memang
begitulah kenyataannya. Ini tak akan selama yang kau pikirkan. Jadi
manfaatkanlah waktumu se-efektif mungkin wahai Alien dari planet anonim.”
A : “Hahaha,
lucu sekali Tuan pemalu bermata jernih. Semoga ini tak akan menjadi sesi tanya
jawab layaknya wawancara kerja!”
D : “Hahaha…
kelucuanmu kadarnya tak jua berkurang rupanya. Masih saja sarkas. Tapi aku suka.
Semakin membuatmu tak biasa…”
A : “Wah… di
sini rupanya ada semacam mesin pengolah alphabet yang pandai merangkai
kata-kata menjadi sebentuk untaian kalimat yang manis. Dan sepertinya kau telah
banyak belajar darinya.”
D : “Hahaha…
Dasar! Ingin rasanya kumelumatmu dalam mesin daur ulang agar kau tak ada
habisnya. Hahaha…”
A : “Hihihi… Dasar saiko abal-abal!
D : “Hush!”
A : “Hmm... Sesungguhnya
aku sangat iri padamu. Diusia semuda itu kau sudah bisa sampai di sini. Eh!
Apakah kau sudah bertemu Jim Morrison, Curt Cobain, Janis Joplin, John Lennon,
Amy Winehouse, Bob Marley dan yang lainnya? Kalau iya, pasti sangat
menyenangkan.”
D : “Benar,
aku lumayan sering bertemu mereka. Lebih
sering ngobrol sambil ngopi disore hari. Menyenangkan memang, tapi tak
sepenuhnya begitu. Kadang aku harus mengalah menghadapi letupan-letupan
egosentris mereka. Itu mungkin karena mereka sudah terbiasa menjadi pusat
perhatian di sana.”
A : “Huh!
Sangat membuat cemburu. Sadarkah kau? Engkau adalah si pencuri mimpi.
Seharusnya aku yang tiba lebih awal di sini.”
D :
“Benarkah? Salahkan Dia. Aku bahkan tak memintaNya untuk menempatkanku semuda
itu di sini. Aku rasa itulah yang membuatNya indah – si misterius yang
flamboyan. Ke-ironisan yang menawan.”
A : “Hehe,
benar juga. Meskipun sampai sekarang aku masih memimpikan itu. Kuharap sebelum
angka 30. Syukur-syukur kalau aku bisa bergabung di “Club 27”. Hehehe…”
D : “Ya
semoga... Semoga Dia mendengarmu. Pasti akan jauh lebih menyenangkan bila kau ada
disini. Mencium rambutmu yang bau matahari karena terlalu asyik mengejar
kupu-kupu. Bisa kau bayangkan betapa menyenangkannya itu. Tapi… aku juga pasti
akan sangat bahagia jika kau bisa menghabiskan sisa waktu di sana dengan sangat
menyenangkan dan dalam jangka waktu yang lama kau bisa melengkungkan senyum
dibibirmu. “
A :
“Entahlah… aku hanya takut mati rasa karena terlalu lama disana. Ini semacam
invasi tremor karena terlalu mencandu kafein.”
D : “Aku
tahu itu hanya kekawatiran sementaramu saja. Itu tak akan terjadi kalau kau mau
sedikit saja merendahkan tembok pertahananmu.”
A : “Hahah…
begitukah?”
D : “Jangan
se-skeptis itu. Bersenang-senanglah. Kau pantas mendapatkannya.”
A : “Sungguh
kata-kata yang ringan diucapkan untuk sebuah mulut yang tak lagi mengalami
hidup di bawah sana.”
D : “Hahaha…
kau masih saja sesinis dulu. Semakin membuatku gemas saja! Percayalah aku
sangat menginginkanmu di sini, melebihi apapun yang pernah kuimpikan. Tapi aku
juga tak bisa berlaku se-egois itu kepadamu…”
A : “Sungguh menyebalkan!
D : “Hehehe…
Ehem! Kurasa waktu berkunjung sudah habis. Pulanglah perempuanku…
A : “Ta-Tapi…
cepat sekali! Rasanya baru beberapa detik yang lalu aku di sini. Tak bisakah
kau membujukNya untuk memberiku waktu sekian jam lagi. Kumohon…”
D : “Jangan
merajuk…Percayalah ini belum tuntas. Masih ada beratus bahkan beribu kesempatan
lagi buatmu bertemu denganku. Itu bukan sebuah kenihilan…”
A : “Hmm…
baiklah. Jagalah baik-baik dirimu di sini. Suatu saat aku pasti akan kembali.
Entah itu untuk sementara atau selamanya dan aku tak ingin melihatmu berubah.
Tak bisa lebih baik dari ini tampilan citramu dikedua mataku.”
D : “Pasti!
Aku akan di sini menunggumu. Di tempat yang sama dengan aku, orang yang sama…”
A :
“Terimakasih sudah memberiku kesempatan mengunjungimu., ini sungguh melegakan.
Sampai jumpa…”
D : “Iya…
Sampai jumpa lagi. Berjalanlah yang tegap. Lebarkan pundakmu. Jangan terlalu
banyak menoleh ke belakang, itu akan
membuat pandanganmu mendadak kabur...”
Dan sebelum
sempat aku menyahut, disaat suara masih ditenggorokan belum mencapai langit-langit
mulut – kau memelukku. Hawa tubuhmu mengalahkan hangatnya udara disekitaran
kita. Lantas kau bisikkan sesuatu ditelinga kiriku. Hei apakah itu? Terdengar
begitu samar. Sesamar senyuman terakhirmu. Sebelum sempat kutanyakan apa
maksudmu, aku terlanjur mendapati tubuhku menjauhimu dan apapun yang ada
disekelilingmu. Tiba-tiba saja semuanya begitu mengawang dan berkabut. Panik
menyerangku! Sosokmu lenyap begitu saja. Ada apakah ini. Ini serupa hantaman
tsunami tanpa peringatan. Tak ada luang untuk meratap. Engkau benar-benar
lindap dari pandangan…
Post-scriptum: Hei kamu! Aku tak akan melewatkanmu begitu saja. Aku pasti akan datang
kembali, menanyakan apa sesungguhnya kata-kata yang kau bisikkan itu. Tunggu
saja lelaki berambut ikal dengan kerling nakal… :p
Kamis, 03 Mei 2012
AKU si MENYEDIHKAN
Ada tikus mengerat kayu di lemari
bajuku – aku tak peduli. Hingga ia melebur menjadi serpihan daging busuk penuh
belatung pun, yang baunya memenuhi segala ruang dimana sepuluh jari tanganmu
tak berdaya menolong lubang hidung yang kembang kempis menahan sekarat – aku
tetap bergeming seperti patung selamat datang, tak kenal hujan badai maupun
panas [sangat heroik bukan?!]. Saraf motorik sensorikku sudah terlanjur masuk
dalam kubangan sampah limbah plastik. Perlu waktu lama untuk mendaurulang demi
membuatnya berguna dan memberi arti [lagi].
Belakangan ini aku sulit membedakan
manis asin asam dan bla-bla rasa lainnya – h a m b a r. Aku jadi kurang pandai
mendeteksi ekspresi – sangat gagap dan kikuk. Hanya ada hitam dan putih dengan
siluet garis tipis buram – bayangkan televisi tahun 50-an! Datar mendatar
serupa jalan tol. Ia mungkin sekali kali penuh dengan belokan dan tanjakan,
tapi karena tekstur dan konturnya yang halus akan membuatmu sulit menangis,
mengaduh, mengumpat bahkan kalau perlu menangis histeris. Aku hanya orang tolol
yang otot wajah dan badannya memar babak belur dihantam masalah beranonim yang
sayangnya tak bersinonim dengan apapun dan siapapun. Itu tabrakan beruntun yang
membuat otak dan hati nyaris mati suri – mati rasa. Hahaha, bahkan membuat
garis lengkung di bibir saja sudah tak sanggup. Menyedihkan!
Inilah aku si robot bodoh dengan
kulminasi sabar di bawah titik nol. Aku patuh pada kabel warna warni dan suara
“bip bip bip”. Sungguh mudah sekali mematikanku. Tarik salah satu kabelku, kalu
kau tak yakin kau boleh menggunakan kancingmu untuk berspekulasi. Sekali tarik
aku akan mati atau kemungkinan paling buruk aku akan meledak mengasap dan kau
akan memperlakukanku seperti seonggok limbah besi beradiasi – kau tak sabar lekas-lekas
menggadaikanku dengan sekantong besar kerupuk rasa udang, “lihat! Mulutmu
belepotan minyak!” See, mudah sekali
bukan meniadakanku. Dan aku tak peduli, paling tidak tak akan ada yang
tersakiti karena merasa kehilangan.
Aku adalah fosil ribuan tahun yang
tertimbun berton ton balok es di kutub utara. Perlu pemburu bernyali yang tak
takut waktunya terbuang sia-sia untuk menemukan, menggali dan menghidupkanku
kembali.
Alien dari planet anonim adalah nama
tengahku. Aku terjebak disini tanpa aku tahu kenapa. Disini semakin hari
semakin asing. Semakin sulit membedakan realita atau fiksi. Setiap malam aku
menghabiskan waktu di balkon ditemani secangkir kopi, hanya untuk menunggu
alien dari planet entah berantah menjemputku. Karena tempatku bukan disini… Kadang
aku terlalu lelah untuk terlalu banyak berharap. Ehm, mungkin saja radarnya
sedang bermasalah hingga terlalu lambat untuk menyadari keberadaanku. Baiklah,
kali ini kumaafkan…
Ahh…
mungkin akan butuh waktu lama lagi. Akhir-akhir ini cuaca kurang bersahabat.
Mana mau pesawat luar angkasa landing ditengah hujan dan angin ribut. Aarrrgh… Damn!
KOPI
Suatu hari nanti aku ingin berbagi ini
dengan seseorang. Berbagi cerita dalam tiap tegukan yang menyisakan hangat
ditenggorokan. Tanpa penghakiman. Sangat melegakan…
Baiklah, sekarang akan kuturunkan
sedikit level egosentrisku. Aku bukan menara gading dan batu karang yang tahan
akan sepi dan sendiri, kau tahu “karena aku tak setegar itu” [err… sebenarnya
sangat sulit dan perlu jeda cukup lama untuk mengakui ini]; kepalaku ini sudah terlalu penuh serta berpeluh
dan aku perlu seseorang untuk membaginya sebelum batang otakku meledak
mengeluarkan asap berputar butar menabrak dinding pembatas. Aku perlu sebentuk pundak
untuk meletakkan kepala yang kelebihan muatan ini, aku lelah, terlalu lelah untuk
berjalan kembali. Aku perlu pemberhentian untuk meluruskan kembali punggungku,
menguatkan lagi tapak langkahku. Sebuah titik henti yang membuatku betah
berlama-lama hingga membuatku lupa aku luka. Terlalu nyaman untuk beranjak dan terlalu sayang untuk membuatnya lewat begitu
saja. Karena ia seseorang dengan punggung membingkai senja.
Oh
Tuhan! Omong kosong apa ini, kenapa jadi
se-sentimentil ini. Apakah ini halusinasi atau semacamnya? Kumohon! beri sedikit
ruang untukku bernafas… ini sungguh menyesakkan! Sial! Hahaha…
MANUAL-IS-ME
Sudah lama tidak melihat cahaya
berpendar dari kotak persegi berkabel ini. Ah, saya memang manusia manual.
Sial! Seharusnya saya besar di tahun 60-an. Hahaha…
Minggu, 13 November 2011
AKU. KEPALA. TEMAN UBUR-UBUR. ABSTRAK & ABSURD
x : "Hei, aku ada rahasia."
y : "Apakah?"
x : "Ada sesuatu di kepalaku yang hanya aku dan tuhan yang tahu."
y : "Semua juga pasti begitu, bukan hal yang aneh."
x : "Tapi ini lain. Bukan apa yang ada di isi otakku, melainkan apa yang terjadi dengan tempurung otakku. Sekali lagi ini tidak ada kaitannya dengan esensi."
y : "Jadi apakah sesuatu dengan kepalamu itu."
x : "Hmm... tapi kau harus janji tak akan berbagi ini dengan siapapun."
y : "Bukankah aku ini teman ubur-uburmu. Huh!"
x : "Hehehe, iya. Jadi begini, pernahkah kau merasa kepalamu itu seperti balon? yang setiap berlalunya jam dan detik akan selalu diimbangi dengan menyusutnya volume gas. kalaupun tidak, sepadat dan sestabil apapun - dikemudian hari pasti akan bermunculan mata ikan di balon gasmu. Dan, Door!!! tinggal menunggu waktu saja untuk melihatnya seperti itu."
y : "lalu, apakah itu merisaukanmu?"
x : "Pada awalnya aku tidak memperdulikannya. Tetapi semakin kesini mau tak mau aku harus hirau padanya. Kepalaku sudah tidak multitasking lagi - fokus sudah mulai melemah. Aku jadi lebih pelupa pada kejadian-kejadian yang baru terjadi."
y : "Hahaha. Kau ini sudah seperti manusia usia kepala tujuh puluhan saja."
x : "Hahaha... ya, memang lucu kedengarannya. Aku saja juga hampir tak percaya. Bahkan pernah terfikir olehku bahwa ini adalah ulah para alien. Di malam hari diam-diam mereka menanamkan bibit penuaan dini di lahan kepalaku. Dan mereka menggunakannya untuk mengkontaminasi mimpi-mimpiku."
y : "Ehm, apakah kau yakin? Bukannya engkau sendiri pernah bilang bahwa dirimu itu adalah alien dari planet anonim. Seharusnya kau punya antibody atau paling tidak memiliki imunitas yang tinggi terhadap invasi alien-alien itu."
x : "Hmm... masuk akal juga kata-katamu. Jadi apa yang harus kulakukan?
y : "Mudah saja, bila kau punya cukup uang sewa saja detektif swasta, kalau tidak begitu laporkan saja pada secret agent. Aku rasa ini bukan hal yang remeh temeh lagi, karena mereka sudah punya nyali untuk menyerang secara frontal dan personal."
x : "... bau tanah basah sisa hujan semalam sepertinya telah membuat pandangan kita kabur - otak berhalusinasi - kaki tidak menginjak tanah - tubuh limbung dan apa-pun itu semakin terasa abstrak dan absurd."
y : "Itulah... bukankah kita ini alien dari planet anonim..."
x : "Benar juga, kenapa mesti risau. Hahaha, dasar ubur-ubur tubuh transparan, tidak sia-sia kau jadi temanku."
y : "Terimakasih, itu semacam sanjungan buatku. Hahaha..."
x : "Hahaha..."
Hash...Dasar kepala, kau ini semacam dualis. Kadang kau ramah seperti teman sepermainan. Namun kadang juga sinis serupa lawakan satir bertema politik praktis. Tapi apapun itu aku tetap bangga padamu... :]
TELEVISI HARI INI
Hari ini televisi di kepalaku serupa perkakas dapur yang berdentang memekakkan kuping. Dia semakin rumit untuk diterima otak. Membuat ujung saraf mempertontonkan layar tancap berwarna monokrom. Imej dijual dan dibeli, diberlakukan seperti pelacur di meja lelang. Siapa berani bayar tinggi maka hasrat akan terpuaskan. Dia bebas datang pergi. Bosan adalah amnesia...
Hari ini aku bertanya, "televisi itu apa?" Apa serupa serum yang membuat sembuh sejenak, lalu kambuh lagi? kalau sudah menjamur menjelma serupa opium - memabukkan, lantas kemana?
Kita adalah generasi televisi. Menelan mentah-mentah apa-apa walau kadang tanpa isi. Siapa tak suka televisi? Benda kotak berkabel yang membuat riang tanpa harus mengeluarkan uang.
"Kapan kita berlibur ke tanah lapang, dimana tanpa televisi kita masih bisa berseri dan bernyanyi riang..."
MENULIS [lagi]
Saya ingin menulis. Hanya itu...
Kapan terakhir kali menulis. Entah...
Saya tak ingin lupa, tak ingin mati pada hitungan hari dan riuh rendah detak jam. Ini mungkin akan serupa cermin. Membuat saya bisa melihat di belakang punggung, tanpa takut ada mata di balik tembok yang mengawasi saya...
Saya hanya kangen bau tinta basah di awal kalimat. Saya rindu moment disaat kata-kata di kepala menahan geram pada tangan yang sedang enggan. Di saat pilihan -pilihan kalimat seperti beragam menu yang semua adalah favoritmu. Dimana frasa seperti balon gas warna-warni. Ia menyenangkan, tapi kadang ada mata ikan di ari kulitnya. Membuatmu ingin menyimpannya di lemari kaca. Tapi ia adalah gas yang seharusnya berteman dengan udara dan angin...
Akhirnya, menulis adalah paksaan yang menyenangkan. Yang membuat lupa pernah ada todongan ancaman yang membekas di jidatmu... Karena di kemudian hari ia akan memberi permen warna pelangi dan sebungkus coklat berbentuk hati... :]
Langganan:
Postingan (Atom)




