Kamis, 03 Mei 2012

KOPI

 

Suatu hari nanti aku ingin berbagi ini dengan seseorang. Berbagi cerita dalam tiap tegukan yang menyisakan hangat ditenggorokan. Tanpa penghakiman. Sangat melegakan…
Baiklah, sekarang akan kuturunkan sedikit level egosentrisku. Aku bukan menara gading dan batu karang yang tahan akan sepi dan sendiri, kau tahu “karena aku tak setegar itu” [err… sebenarnya sangat sulit dan perlu jeda cukup lama untuk mengakui ini];  kepalaku ini sudah terlalu penuh serta berpeluh dan aku perlu seseorang untuk membaginya sebelum batang otakku meledak mengeluarkan asap berputar butar menabrak dinding pembatas. Aku perlu sebentuk pundak untuk meletakkan kepala yang kelebihan muatan ini, aku lelah, terlalu lelah untuk berjalan kembali. Aku perlu pemberhentian untuk meluruskan kembali punggungku, menguatkan lagi tapak langkahku. Sebuah titik henti yang membuatku betah berlama-lama hingga membuatku lupa aku luka. Terlalu nyaman untuk beranjak dan  terlalu sayang untuk membuatnya lewat begitu saja. Karena ia seseorang dengan punggung membingkai senja.

Oh Tuhan! Omong kosong apa ini, kenapa jadi se-sentimentil ini. Apakah ini halusinasi atau semacamnya? Kumohon! beri sedikit ruang untukku bernafas… ini sungguh menyesakkan! Sial! Hahaha…

MANUAL-IS-ME


Sudah lama tidak melihat cahaya berpendar dari kotak persegi berkabel ini. Ah, saya memang manusia manual. Sial! Seharusnya saya besar di tahun 60-an. Hahaha…

Minggu, 13 November 2011

AKU. KEPALA. TEMAN UBUR-UBUR. ABSTRAK & ABSURD


x : "Hei, aku ada rahasia."
y : "Apakah?"
x : "Ada sesuatu di kepalaku yang hanya aku dan tuhan yang tahu."
y : "Semua juga pasti begitu, bukan hal yang aneh."
x : "Tapi ini lain. Bukan apa yang ada di isi otakku, melainkan apa yang terjadi dengan tempurung otakku. Sekali lagi ini tidak ada kaitannya dengan esensi."
y : "Jadi apakah sesuatu dengan kepalamu itu."
x : "Hmm... tapi kau harus janji tak akan berbagi ini dengan siapapun."
y : "Bukankah aku ini teman ubur-uburmu. Huh!"
x : "Hehehe, iya. Jadi begini, pernahkah kau merasa kepalamu itu seperti balon? yang setiap berlalunya jam dan detik akan selalu diimbangi dengan menyusutnya volume gas. kalaupun tidak, sepadat dan sestabil apapun - dikemudian hari pasti akan bermunculan mata ikan di balon gasmu. Dan, Door!!! tinggal menunggu waktu saja untuk melihatnya seperti itu."
y : "lalu, apakah itu merisaukanmu?"
x : "Pada awalnya aku tidak memperdulikannya. Tetapi semakin kesini mau tak mau aku harus hirau padanya. Kepalaku sudah tidak multitasking lagi - fokus sudah mulai melemah. Aku jadi lebih pelupa pada kejadian-kejadian yang baru terjadi."
y : "Hahaha. Kau ini sudah seperti manusia usia kepala tujuh puluhan saja."
x : "Hahaha... ya, memang lucu kedengarannya. Aku saja juga hampir tak percaya. Bahkan pernah terfikir olehku bahwa ini adalah ulah para alien. Di malam hari diam-diam mereka menanamkan bibit penuaan dini di lahan kepalaku. Dan mereka menggunakannya untuk mengkontaminasi mimpi-mimpiku."
y : "Ehm, apakah kau yakin? Bukannya engkau sendiri pernah bilang bahwa dirimu itu adalah alien dari planet anonim. Seharusnya kau punya antibody atau paling tidak memiliki imunitas yang tinggi terhadap invasi alien-alien itu."
x : "Hmm... masuk akal juga kata-katamu. Jadi apa yang harus kulakukan?
y : "Mudah saja, bila kau punya cukup uang sewa saja detektif swasta, kalau tidak begitu laporkan saja pada secret agent. Aku rasa ini bukan hal yang remeh temeh lagi, karena mereka sudah punya nyali untuk menyerang secara frontal dan personal."
x : "... bau tanah basah sisa hujan semalam sepertinya telah membuat pandangan kita kabur - otak berhalusinasi - kaki tidak menginjak tanah - tubuh limbung dan apa-pun itu semakin terasa abstrak dan absurd."
y : "Itulah... bukankah kita ini alien dari planet anonim..."
x : "Benar juga, kenapa mesti risau. Hahaha, dasar ubur-ubur tubuh transparan, tidak sia-sia kau jadi temanku."
y : "Terimakasih, itu semacam sanjungan buatku. Hahaha..."
x : "Hahaha..."

Hash...Dasar kepala, kau ini semacam dualis. Kadang kau ramah seperti teman sepermainan. Namun kadang juga sinis serupa lawakan satir bertema politik praktis. Tapi apapun itu aku tetap bangga padamu... :]

TELEVISI HARI INI


Hari ini televisi di kepalaku serupa perkakas dapur yang berdentang memekakkan kuping. Dia semakin rumit untuk diterima otak. Membuat ujung saraf mempertontonkan layar tancap berwarna monokrom. Imej dijual dan dibeli, diberlakukan seperti pelacur di meja lelang. Siapa berani bayar tinggi maka hasrat akan terpuaskan. Dia bebas datang pergi. Bosan adalah amnesia...

Hari ini aku bertanya, "televisi itu apa?" Apa serupa serum yang membuat sembuh sejenak, lalu kambuh lagi? kalau sudah menjamur menjelma serupa opium - memabukkan, lantas kemana?

Kita adalah generasi televisi. Menelan mentah-mentah apa-apa walau kadang tanpa isi. Siapa tak suka televisi? Benda kotak berkabel yang membuat riang tanpa harus mengeluarkan uang. 


"Kapan kita berlibur ke tanah lapang, dimana tanpa televisi kita masih bisa berseri dan bernyanyi riang..."

MENULIS [lagi]


Saya ingin menulis. Hanya itu...
Kapan terakhir kali menulis. Entah...
Saya tak ingin lupa, tak ingin mati pada hitungan hari dan riuh rendah detak jam. Ini mungkin akan serupa cermin. Membuat saya bisa melihat di belakang punggung, tanpa takut ada mata di balik tembok yang mengawasi saya...

Saya hanya kangen bau tinta basah di awal kalimat. Saya rindu moment disaat kata-kata di kepala menahan geram pada tangan yang sedang enggan. Di saat pilihan -pilihan kalimat seperti beragam menu yang semua adalah favoritmu. Dimana frasa seperti balon gas warna-warni. Ia menyenangkan, tapi kadang ada mata ikan di ari kulitnya. Membuatmu ingin menyimpannya di lemari kaca. Tapi ia adalah gas yang seharusnya berteman dengan udara dan angin...

Akhirnya, menulis adalah paksaan yang menyenangkan. Yang membuat lupa pernah ada todongan ancaman yang membekas di jidatmu... Karena di kemudian hari ia akan memberi permen warna pelangi dan sebungkus coklat berbentuk hati... :]

Selasa, 23 Agustus 2011

E untuk 'Es' dan K untuk 'Krim'


Kemarin pagi aku melihat anak kecil bermain di ayunan dengan sebatang es krim di tangan kanannya. Es krim yang warna warni. Ia tidak peduli dengan sekitarannya. Es krim itu telah menyita perhatiannya 100%. Tangan dan bibirnya penuh dengan lelehan es. dan isi otak-ku pun ikut meleleh...

Ada apa dengan es krim? benda dingin bertekstur lembut dengan bentuk dan warna beraneka rupa. Sebenarnya aku tidak terlalu suka sesuatu yang terlalu manis. Tapi untuk es krim dan coklat adalah pengecualian. Ada yang masih tertinggal di sana, sebuah momen yang masih menancap di kepala. Saat masih kanak-kanak dulu, aku sering bolos sekolah demi menunggu pak penjual es krim dengan topi bundar warna abu-abu lewat. Aku tak peduli walaupun hari itu belum makan nasi. Kukira hal itu setimpal dengan resiko dengan yang mungkin akan aku dapat. Sakit perut tak mengapa asalkan ada rasa yang tertinggal di lidahku sepanjang hari.

Hmm, menurutku es krim itu simbol keakraban. Mungkin itu karena teksturnya yang lengket dan menggumpal jadi satu. Eh, itu bukan semata karena pernah ada yang memberiku es krim dan ia kemudian menjadi bocah lelaki yang pernah kusukai di masa lalu. Hehehe...

Tapi es krim tak melulu tentang yang manis-manis. Aku pernah memutuskan melupakan seseorang yang mungkin akan kusukai hanya karena sebuah es krim. Hahaha, apa yang bisa kau harapkan dari seorang 'laki-laki' selain omongan yang bisa dipegang dan janji yang bisa dipercaya. *Hiaaah. Malah curhat! Syananana...


Aku memang suka es krim, tapi tak sebesar aku menyukai kopi di malam hari dan hujan di pagi hari. Tapi aku tetap sukaaa. Syalalala... :]

Kamis, 11 Agustus 2011

............


Bahkan menghitung berapa banyak helai rambut di kepala sendiri saja kita ini belum mampu. Kenapa harus merepotkan diri meng-kalkulasi berapa banyak pahala dan dosa orang lain. Tuhan belum butuh asisten [!]

Minggu, 07 Agustus 2011

MARI MENGEJA KATA SIFAT BERNAMA K.E.R.E.N


Keren adalah sangat subyektif. Tergantung dengan menggunakan mata siapa kau melihatnya. Bila kau meminjam mata bulatnya Spongebob, maka keren akan berupa bentuk superhero tua yang selalu membawa kejayaan masa lalu diatas kepalanya.Mereka bernama Mermaidman dan Barnacleboy. Jika kau meminjam mata keponakanku, maka keren adalah seperangkat mainan terbaru dari makanan cepat saji warna merah hati. Anggap saja sebagai kompensasi dari nasib pencernaanmu nanti. Lalu bila kau meminjam mata sebagian teman perempuanku, keren akan berubah wujud menjadi segerombolan laki-laki berkulit putih bersih terawat yang pandai bernyanyi dan menari. Mereka nyaris sempurna, ah aku takut dengan kosakata sempurna. Jadi sekeras apapun mereka merayuku untuk ikut serta, maaf-maaf saja sampai kapanpun aku tak akan tergoda. Hehehe. Satu lagi, menurut teman lelaki yang baru kukenal kemarin, keren adalah seperangkat teknologi canggih paling mutakhir. Jangan sampai ketinggalan kotak-kotak berkabel versi terbaru atau kau tak akan dianggap keren lagi.

Baiklah, sekarang mari kita melihat ‘keren’ dari kedua mata hitam putihku ini. Maka kata keren telah mengalami fase-fase perubahan seiring bertambahnya nominal usia. Dulu, saat aku masih kanak-kanak, keren adalah baja hitam dengan belalang tempurnya dan Doraemon dengan kantong ajaibnya. Saat menginjak remaja, keren adalah berani bolos sekolah. Di saat remaja, keren adalah Linkin Park dan Mtv. Ketika menginjak dewasa, keren adalah pemberontak dengan penampilan khas ‘rebel’nya. Dan akhirnya sekarang, di fase ini keren bermetamorfosa menjadi sesuatu yang ketika dilihat dari luar tampak seperti "Nothing", tapi sebenarnya didalamnya terdapat "something". Tak peduli meskipun engkau trendi dan penampilanmu masa kini, kalau pemikiranmu seragam dengan muda mudi korban televisi - Maaf, aku akan menganggapmu biasa. Dan sebaliknya, meskipun penampilanmu ‘jadul’ menurut muda mudi korban teknologi masa kini, kalau isi tempurung kepalamu melampaui apa yang bisa dipikirkan orang biasa, aku akan memanggilmu si Keren. Biasanya orang ‘normal’ akan menjulukimu si Aneh. Hanya karena mereka berpikiran sama dan mencari pemakluman. Tapi asal tahu saja, aku selalu menganggap orang aneh itu keren. Mereka berani berbeda dengan kebanyakan, pemikiran mereka sangat menyegarkan. Seperti hujan ditengah kemarau. Untung ada mereka, kalau tidak aku bisa mati kebosanan. Hehehe…

Namun, lebih daripada itu. Aku akan tetap menghargai versi keren menurut kalian masing-masing. Ya karena ini sangat subyektif , maka aku harus sadar diri. Karena jangan sampai kita menjadi seragam - Aku akan sulit menemukanmu bila kau tersesat di tengah kota suatu saat nanti. Hehehe… :)

Sabtu, 09 Juli 2011

LET'S PLAY THE GAME!


Mari kita sepakat dengan permainan 'jangan-tanya-jangan-bilang'

"Jangan tanya apapun, maka aku tidak akan berbohong padamu. Jangan ceritakan rahasia, maka aku akan berbuat yang sama"